Hilafah, Saat Akidah Mulai Rapuh, Berhalapun Dapat Menjadi Hidayah

1
771
SejarahBudaya – Di desa terpencil hiduplah seorang Kiyai sepuh yang bernama Fatah Ainulyaqin. Kyai Fatah memimpin sebuah pondok pesantren sederhana, dimana banyak dari alumni santrinya, yang menjadi kyai besar dan tokoh – tokoh agama yang terkenal di Nusantara ini.
Ponpes “Legowo al-Hisab” yang dipimpin kyai Fatah ini, dominan mengajarkan Khilafah, tentu dengan tidak meninggalkan ajaran – ajaran lainnya seperti Fiqih dan lain lain. Salah satu ajaran yang paling ditegakkan dan ditanamkan pada santri santrinya adalah ” Tuhan ada dimana – mana, dan tuhan tidak tersekat ruang dan waktu”.
Berawal dari keterangan tersebutlah, hingga suatu ketika, Kyai Fatah mendengar salah satu alumni santrinya, telah menyimpang dengan memfatwakan dirinya dekat dengan tuhan, dan merasa sanggup mewakili seluruh hajat pengikutnya kepada tuhan, dengan kata lain santri kyai Fatah tersebut mengaku sebagai tangan tuhan.
Mendengar hal ini kyai Fatah mencari strategi untuk mengingatkan santrinya tersebut kembali pada jalan kebenaran. 
Hingga pada waktu yang tepat, yai Fatah berangkat ke kediaman santri yang dimaksud, dengan menyamar sebagai pengamen. Hanya dengan membawa rebana dan patung berhala, yai sepuh itu menghampiri Ponpes milik santri sesatnya tersebut. Singkat cerita, bertemulah yai Fatah dengan tanpa dikenali oleh santri sesatnya itu.
Yai Fatah: Assalam alaikum ndoro yai, saya mau numpang sholat.Santri: Waalaykum salam, kasihan benar nasibmu wahai pengamen, setua ini masih saja kau terlunta dengan mengamen.

Yai Fatah: Yah.. mau bagaimana lagi kyai, hidup dijaman sekarang ini, jika tidak bekerja dan berdoa dengan sungguh- sungguh tentu tidak akan mendapat rizki darinya yai.Santri: Hahaha.. berarti doamu selama ini belum layak didengar oleh Allah. Dari itulah keto’atanmu tak berbuah hasil, buktinya hingga sekarang dirimu masih menderita.

Yai Fatah:  Sudikah kiranya yai meberi petunjuk agar doa saya menjadi layak dihadapan Allah?Santri: Baiklah bersihkan dulu tubuhmu, setelah itu ganti pakayanmu, dan temui aku dimusollah pribadiku, aku satu-satunya sebagai tangan tuhan akan mengantarkan hajatmu pada allah. (Setelah menyodorkan pakayan, santripun berlalu menunggu kyainya di musollah).Usai membersihkan diri dan mengganti pakayan kyai Fatahpun bergegas menemui santrinya di Musollah yang dimaksud.

Yai Fatah: Asalam alaykum yai.Santri: Dengan tidak menjawan, Duduklah dulu aku akan mengambil minyak karimah, karena tanpa minyak itu aku tak dapat menembus sidrotul muntaha.

Yai Fatah: Njeh yai,
Saat santri beranjak pergi mengambil minyak, yai Fatah mengeluarkan patungnya dan menaruh pas di depan pengimaman.
Singkat cerita ketika santri memakai minyak harum tersebut, anehnya minyak yang ia pakai berubah menjadi bau bangkai. Santripun tak memghiraukan bau tersebut, dan iapun bertanya pada kyai Fatah,
Santri: Hai kisanak bau apakah yang kau cium ?

Yai Fatah: Harum ndoro
Santripun bergegas menuju ke tempat imam dan mengimami kyai Fatah, guna menunaikan solat hajat. Ditengah tengah solat, santri terhentak dan baru sadar jika didepannya ada patung berhala. Sontak saja solatnya terhenti, anehnya saat santri akan branjak dari tempatnya, dia menjadi kaku dan tak dapat bergerak. Sementara itu Yai. Fatah meneruskan solatnya. Ditengah tengah solat antara sadar dan tidak, Santri mengalami kejadian luar bisa. Seolah dirinya ditemui Kyai Fatah dimana gurunya tersebut berpesan, “Ingatkah kamu wahai anakku, bahwa Allah tak tersekat ruang dan waktu. Ketika Allah berkehendak, jangankan kepadamu, pada seorang pengamen hinapun Allah bisa mencurahkan rahmatnya. Namun ketika engkau merasa dirimulah satu satunya penolong ummat, dan yang lain hanyalah kaum hina yang dapat kau tolong, maka sesungguhnya engkau telah menjadikan dirimu menjadi tuhan itu sendiri.  
MAN AROFA NABSAHU FAQOD AROFA ROBBAHU : Barang siapa mengenal  dirinya, maka dia mengenal Tuhan nya. WA MAN AROFA ROBBAHU FAQOD JAHILAN NAFSAHU : Barang siapa merasa mengenal Tuhannya, maka dia termasuk golongan kaum yang bodoh.
Jangankan menjadi tuhan, bahkan pada Bau bangkai dan berhalapun dirimu ketakutan, hingga kau rela menukarnya dengan kau meninggalkan ibadahmu. Sadar dan kembalilah pada jalan yang benar wahai anakku. Ingatlah kau hanya mahluk yang tak memiliki daya upaya dihadapannya”
Mendengar pesan itu, tersungkur dan sadarlah santri, hingga ia meneteskan air mata penyesalan. Dan tangisnyapun menjadi-jadi mana kala ia menoleh kebelakang, tak dilihatnya lagi sosok pengamen tersebut.
Oleh : Nur HM
Baca Juga:  Rahasia Tersembunyi Dibalik Hari Raya Umat Islam Idul Nahr

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here