Tumbal Syekh Subakir, Untuk Dapat Menyatukan Keyakinan, Bukan Mempertajam Perbedaan

0
1066
Tumbal Syekh Subakir, Untuk Dapat Menyatukan Keyakinan, Bukan Mempertajam Perbedaan
SejarahBudaya – Syekh Subakir seorang ulama’ yang diutus ke Tanah Jawa bersama dengan masa Wali Songo Periode Pertama. Ulamak yang terkenal sebagai penumbal tanah Jawa tersebut, diutus oleh Sultan Muhammad I dari Istambul, Turkey, untuk berdakwah dan membumingkan Agama Islam di pulau Jawa pada sekitar tahun 1404. 
Syekh Subakir sebagai salah satu dari anggota Wali Songo periode pertama dengan Nasab lengkap beliau adalah, Syaikh Subakir bin Abdulloh bin Aly bin Ahmad bin Aly bin Ahmad bin Abdulloh bin Ahmad bin Muhammad bin Ahmad bin Aly bin Abubakar bin Salman bin Hasyim bin Ahmad bin Badrudin bin Barkatulloh bin Syafiq bin Badrudin bin Omar bin Aly bin Salman Alfarisiy.
Pada kala itu Syaikh Subakir berdakwah di daerah Magelang Jawa Tengah, dan menjadikan Gunung Tidar sebagai Pesantrennya. Syekh Subakir adalah salah seorang ulama Wali Songo periode pertama yang dikirim khalifah dari Kesultanan Turki Utsmaniyah Sultan Muhammad I untuk menyebarkan agama Islam di wilayah Nusantara. 
Syekh Subakir konon adalah seorang ulama besar yang telah menumbal tanah Jawa dari pengaruh negatif makhluk halus saat awal penyebaran ajaran Islam di nusantara. Kisahnya berawal dari saat Sultan Muhammad 1 mendapat petunjuk dari Tafaqqurnya, untuk menyebarkan dakwah Islam ke tanah Jawa. 
Adapun mubalighnya diharuskan berjumlah sembilan orang. Jika ada yang pulang atau wafat maka akan digantikan oleh ulama lain, asal tetap berjumlah sembilan. Mereka yang diutus  bersama syekh Subakir diantaranya, Maulana Malik Ibrahim/ Sunan Gersik berasal dari Turki, ahli mengatur Negara, Maulana Ishaq, berasal dari Samarkand, Rusia Selatan, ahli pengobatan,  Maulana Ahmad Jumadil Kubro, dari Mesir, Maulana Muhammad Al Maghrobi, berasal dari Maroko, Maulana Malik Isro’il, dari Turki, ahli mengatur negara, Maulana Muhammad Ali Akbar, dari Persia (Iran), ahli pengobatan, Maulana Hasanudin, dari Palestina, Maulana Aliyudin, dari Palestina, dan Syekh Subakir, dari Iran, Ahli menumbali daerah yang angker yang dihuni mahluk halus.
Sudah beberapa kali utusan dari Kesultanan Turki Utsmaniyah yang datang ke tanah Jawa, untuk menyebarkan agama Islam tapi pada umumnya mengalami kegagalan. Penyebabnya masyarakat Jawa saat itu sangat memegang teguh kepercayaannya. Sehingga para ulama yang dikirim mendapatkan halangan, karena meskipun berkembang tetapi ajaran Agama Islam hanya dalam lingkungan yang kecil, tidak bisa berkembang secara luas. 
Selain itu konon, Pulau Jawa saat itu masih merupakan hutan belantara angker yang dipenuhi makhluk halus.  Lalu diutuslah Syekh Subakir yang ahli dalam mengatasi ekologi, meteorologi dan geofisika dunia tak kasat mata.
Konon Syekh Subakir menginjakkan kakinya ke Gunung Tidar, hanya dengan membekali diri dengan Tumbak Panjang Kyai Jangkung. Dimana menurut cerita rakyat pusaka itu adalah garapan mpu. Supo yang husus diperuntukkan kepada syekh. Subakir. Dengan bekal berbagai Ilmu yang dimiliki dan pusaka yang berkaromah tinggi, Syekh Subakir ahirnya dapat membuat kesepakatan dengan Kyai. Semar, untuk dapat memperluas ajaran Islam di tanah Jawa. Dimana dalam kesepakatan itu, kyai. Semar dan Syekh Subakir sama-sama menanamkan tumbal, dengan tujuan untuk dapat tidak saling mengganggu antara keyakinan yang dibawa syekh Subakir dengan keyakinan murni penduduk tanah Jawa yang tidak ingin berpindah keyakinan. Hingga pada ahirnya syekh subakir memilih bagian Jawa separuh kebarat dengan menumbalkan pusaka Tombak Panjang di gunung Tidar. Sedang Kyai Semar menumbalkan dirinya sendiri di Kawasan Alas baluran tepatnya di Wisata Watu Dodol. 
Sampai saat ini ajaran Islam sudah sangat membuming dipersada Nusantara. Sedang efek dari Tumbal Kyai Semar terlihat ttp melindungi ajaran Hindu, dari Watu Dodol meluas ketimur meliputi pulau Bali, Lombok, dan juga tersebar diseluruh persda Negri ini. 
Namun apapun wujud keyakinannya, selama masih menegakkan kebaikan, pada intinya sama – sama menuju pada satu titik ideologi Ketuhanan yang maha esa. Berbeda beda namun tetap satu Jua.  Karna pada dasarnya kita boleh berprinsip namun jangan sampai menjadi Fanatik, karena kefanatikan adalah suatu wujud kebodohan yang tak disadari.
Oleh: Nur HM

Tinggalkan Balasan