Beranda legenda Kumis Bodas Macan Putih, Punggawa Setia Prabu Tawangalun ll, Hingga Kini Masih...

Kumis Bodas Macan Putih, Punggawa Setia Prabu Tawangalun ll, Hingga Kini Masih Kerap Muncul di Lintas Gumitir

0
2941
SejarahBudaya – Legenda Macan Putih Banyuwangi, sangat popoler dan  tumbuh kental Sakral, di tengah masyarakat Kalibaru utamanya. Sebenarnya banyak fersi cerita tentang legenda Macan putih. Namun diasesi kali ini Sejarah Budaya – Legenda Macan Putih Banyuwangi, sangat popoler dan  tumbuh kental Sakral, di tengah masyarakat Kalibaru utamanya. Sebenarnya banyak fersi cerita tentang legenda Macan putih. Namun diasesi kali ini sejarah-budaya.com akan mengangkat cerita rakyat “Macan Putih dan Mbah. Kemis”.
Konon saat Jaman kepemimpinan Prabu Tawangalun ll di Kerajaan Blambangan, sang Prabu memiliki sesosok Punggawa Gaib. Dimana punggawa tersebut kerap menampakkan diri sebagai sosok harimau putih, yang bernama “Kumis Bodas”. Sebelum Kumis Bodas tunduk patuh dibawah perintah prabu Tawangalun ll, konon sosok gaib berwujud harimau putih ini, menjadi penguwasa buas dan sakti di gunung Raung. Dari kebuwasannya tak sedikit rakyat dan prajurit Blambangan yang dibunuh, saat mendekati wilayah kekuwasaannya. 
Mendengar keresahan rakyat, akibat ulah Kumis Bodas yang buas tersebut, Prabu Tawangalun ll menggelar sayambara, “Barang siapa dapat menaklukkan Harimau Putih Jadi-jadian, akan mendapatkan hadiah berupa lahan garapan yang luas dan beberapa emas”. 
Woro-woro yang cepat tersebar itupun, banyak mengundang respon dari berbagai kalangan yang ber ilmu sakti. Puluhan bahkan ratusan pendekar yang mencoba menaklukkan Kumis Bodas, hampir sebagian besar mati mengenaskan, entah terjatuh dari atas gunung, atau diterkam macan putih. Pada kenyataannya semua yang tewas berlumuran darah dan penuh luka disekujur tubuhnya.
Hingga pada suatu ketika, datanglah seorang pemuda muslim dari Persia bernama, Sayyid. Abdullah datang menghadap prabu Tawangalun ll. Dengan mengaku diutus kerajaan Demak, pemuda itu datang untuk mohon ijin mengikuti sayembara. Singkat cerita, tepat hari Kamis Wage Abdullah mendatangi Kumis Bodas.
Harimau: Wahai Pemuda, pulanglah engkau sebelum bernasib sama dengan mayat – mayat utusan prabu Tawangalun itu.
Abdullah: Kedatanganku kemari tidak bermaksud menantangmu, sebagai sesama mahluk tuhan, aku ingin mengajakmu bersama menumpas penjajah negri ini.
Harimau: Hahaha… tidak salahkah aku mendengar ucapanmu? Siapa engkau sehingga berani memerintahku? Jika kau sanggup mengalahkanku, apapun perintahmu pasti akan aku lakukan dengan kesetianku.
Abdullah: Baikklah jika itu maumu, namun sebelum aku melawanmu. Kuajukan satu syarat,  Dimana engkau harus melawanku dibawah gunung ini. Aku ajak kau bertarung di tepian jurang Gunung Gumitir. 
Harimau: Dimanapun tempat yang kau inginkan untuk menjemput kematianmu, aku selalu siap.
Setelah sampai dilokasi yang dimaksud, Kumis Bodas menyuruh Abdullah mengeluarkan senjata pamungkasnya. Dengab tenang Abdullah mengeluarkan sebilah keris kecil berjuluk ” Kyai Kembang Suroh” seukuran jari tengah dari dalam jubahnya. Melihat keris mini itu Harimau tertawa.
Harimau:  Hahahaha… beribu-ribu pusaka sakti yang dihujamkan kepadaku tak satupun yang dapat menggores kulitku, kamu hanya mengandalkan keris mainan itu, mana bisa? Sudahlah pulang saja engkau, sebelum menjadi mayat. 
Abdullah: Lawanlah aku wahai harimau putih, atas ijin tuhan akan aku tundukkan engkau dengan pusaka mainan ini. 
Tanpa menunggu lama, Macan Putihpun langsung melompati Abdullah dengan kedua cakar tangannya. Namun, sebelum harimau putih mendaratkan kuku cakar di tubuh Abdullah, tanpa terlihat pemuda persia itu sudah lebih dahulu memotong semua cakar dan taring harimau. Hingga tepat harimau mendarat ditubuh abdullah, bagai sebuah bantal yang jatuh tepat didada pemuda itu. 
Dari terpotongnya kuku dan taring itulah, Kumis Bodas bagai kehilangan seluruh tenaga dan kesaktiannya. Hingga tersungkur dan mengakui kekalahannya pada Abdullah, dan bersedia dengan ihlas mengabdi pada kerajaan.
Usai mengakui kekalahannya Kumis Bodas, diresmikan sebagai punggawa gaib kraton blambangan oleh Sayyid Abdullah. Peresmian itu ditandai dengan pemotongan kumis harimau dan menguburkan taring, kuku, dan beberapa mayat korban harimau ditempat terkalahkannya harimau. Hingga kini tempat tersebut ditandai dengan dibangunnya sebuah Makom yang dikenal sebagai Makom Mbah Kemis/Kumis Sayyid Abdullah, di Dusun. Kalubaru Kulon Kec. Kalibaru Kab. Banyuwangi. Tepatnya dibelakang pabrik triplek, di tengah tengah kebun kopi, kurang lebih 7 KM dari Jalan raya. 
Menurut beberapa saksi mata, baik masyarakat sekitar Jalur Gumitir, ataupun para pengendara yang melintas, hingga kini masih sering muncul penampakan sosok macan putih tersebut. Entah itu harimau jadi – jadian atau memang harimau nyata. Sebagian yang percaya jika melihat harimau tersebut, harus melempar koin dan membunyikan klakson dengan jumlah genap. 
Sumber Tulisan : Sejarah budaya Osing, Kitab Mahes pati, dan  Masyarakat Kalibaru. akan mengangkat cerita rakyat “Macan Putih dan Mbah. Kemis”.
Baca Juga:  Pura Agung Blambangan, Cikal Bakal Umat Hindu di Pulau Bali

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here