Pura Agung Blambangan, Cikal Bakal Umat Hindu di Pulau Bali

0
1630

Pura Agung Blambangan, Cikal Bakal Umat Hindu di Pulau Bali

SejarahBudaya – Pura Agung Blambangan, Saksi Sejarah cikal bakal umat hindu di Pulau Bali. Pura tertua dan sekaligus termegah ke dua di Jawa ini, bertempat di kecamatan muncar, kurang lebih 30 km dari kota Banyuwangi.
Peninggalan purbakala “umpak songo” serta pelabuhan ikan muncar tidak jauh dari pura agung blambangan ini. Pura ini selalu ramai dikunjungi umat hindu dari berbagai daerah. Di pura ini pula biasanya upacara kuningan yang diadakan umat hindu sebagai kemenangan dharma di pusatkan. Pura Agung sangatlah penting bagi umat hindu di indonesia, selain tempat bersejarah, pura ini juga adalah tempat suci yang disakralkan. Banyak orang beragama hindu dari luar pulau jawa yang datang. Selain sekedar berwisata religi, mereka juga para turis asing yang ingin melihat keindahan struktur pura kuno ini. Obyek pertama yang dikunjungi adalah Pura Agung Blambangan yang terletak di Desa Tembok Rejo kecamatan Muncar Kabupaten Banyuwangi.


Pura ini merupakan Pura terbesar kedua di pulau Jawa setelah Pura Gunung Salak, yang terletak di Jawa Barat, dan Pura Agung Blambangan tersebut terbesar dibandingkan 92 buah pura lainnya yang ada di Banyuwangi. Pura yang berdiri sehak tahun 1974 ini, baru diresmikan pada 28 juni 1980 silam tepatnya hari sabtu wuku Kuningan yang bertepatan dengan hari raya Kuningan.


Pura Agung Blambangan memiliki hubungan yang sangat erat dengan kerajaan Blambangan yang bercorak Hindu di Banyuwangi itu. Kerajaan Blambangan adalah kerajaan yang berpusat di kawasan Blambangan, yaitu di sebelah selatan Banyuwangi atau yang lebih dikenal dengan Alas Purwo.

Raja terakhir yang menduduki singgasana adalah Prabu Minakjinggo. Kerajaan ini telah ada pada akhir era Majapahit. 
Pura yang kental dengan Hari Raya Kuningan ini, berdiri  bersamaan dengan waktu piodalan Pura Blambangan. Hal ini cukup menarik minat banyak umat Hindu asal Bali yang datang untuk berdoa. Piodalan adalah hari lahirnya Pura Agung Blambangan yang memiliki kaitan sejarah dengan masyarakat Bali, karena nenek moyang masyarakat Bali sebagian dari kerajaan Blambangan yang ada di Banyuwangi. 
Pura Agung Blambangan, awalnya merupakan situs umpak songo, peninggalan zaman kerajaan Blambangan. Pura ini lalu pindah ke tempat sekarang dengan luas lahan sekitar satu hektar dan bisa menampung sekitar seribu umat untuk berdoa bersama. 
Dari catatan pengurus, saat ini umat Hindu di Kabupaten Banyuwangi ada sekitar 17 ribu jiwa ditambah dengan umat Hindu dari Bali jumlahnya cukup banyak. Di Pura Agung kerap beberapa kali mengadakan persembayangan yang biasa dipimpin 21 pemangku. Biasanya Umat datang mulai pagi hingga malam hari, untuk dan dilakukan selama tiga hari untuk memberikan kesempatan umat yang tidak sempat sembayang saat puncak perayaan.


Selain perayaan Kuningan, banyak juga masyarakat Bali yang datang untuk melakukan wisata religi dari agen tour asal Bali atau dari pemerintah Bali. Ada juga beberapa wisatawan mancanegara yang datang karena tertarik dengan struktur bangunan Pura Agung Blambangan yang sangat indah. 


Pura Agung Blambangan sendiri merupakan pura terbesar diantara 92 buah pura yang ada di Kabupaten Banyuwangi. Sebagai catatan, untuk masuk ke dalam pura, pengunjung wajib menggunakan selendang yang diikat pada pinggang.

Baca Juga:  Bukit Pecaron Dan Kisah Cinta Syekh Maulana Ishaq

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here