Semi Bocah 10 Tahun, Menjadi Cikal Bakal Lahirnya GANDRUNG Banyuwangi

0
570

Semi Bocah 10 Tahun, Menjadi Cikal Bakal Lahirnya GANDRUNG Banyuwangi

SejarahBudaya – Mengenal Gandrung Banyuwangi, dimana  Gandrung yang berarti hobi atau senang. Tarian ini masih satu aliran dengan tari Ketuk Tilu di Jawa Barat, Tayub di Jawa Tengah dan Jawa Timur bagian barat, Lengger di Cilacap dan Banyumas juga Joged Bumbung di Bali. Tari ini melibatkan beberapa wanita sebagai penari professional yang menari bersama-sama tamu (terutama pria) dengan duiringan musik atau gamelan.
Tarian ini populer di wilayah Banyuwangi yang terletak di ujung timur Pulau Jawa, dan telah menjadi ciri khas dari wilayah tersebut, hingga tak salah jika Banyuwangi selalu diidentikkan dengan Gandrung, dan akan banyak di jumpai di perbatasan wilayah patung penari Gandrung di berbagai sudut Banyuwangi. 
Tari Gandrung ini sering dipentaskan pada berbagai acara, seperti perkawinan, pethik laut, khitanan, tujuh belasan dan acara-acara resmi maupun tak resmi lainnya baik di Banyuwangi maupun wilayah lainnya. 
Asal-Usul Tari GandrungMenurut catatan sejarah-budaya.com, Gandrung pertama kalinya ditarikan oleh para lelaki yang didandani seperti perempuan dan menurut laporan Scholte (1927) instrumen utama yang mengiringi tarian gandrung lanang ini adalah kendang. Namun pada sekutar 1890 an demikian, gandrung laki-laki ini lambat laun lenyap dari Banyuwangi,  Yang dimungkinkan karena masuknya ajaran Islam radikal, yang melarang segala bentuk travesty atau berdandan seperti perempuan. Namun, tari gandrung laki-laki baru benar-benar lenyap pada tahun 1914, setelah kematian penari terakhirnya, yakni Marsan.
Sedangkan Gandrung wanita pertama dikenal pada tahun 1895, dikenal dalam sejarah budaya sebagai “Gandrung Semi”, dimana pemerannya seorang anak kecil yang masih berusia sepuluh tahun. Menurut cerita rakyat, dipercaya waktu itu Semi menderita penyakit yang cukup parah. Segala cara sudah dilakukan hingga ke dukun, namun Semi tak juga kunjung sembuh. Sehingga ibu Semi (Mak Midhah) bernazar seperti “Kadhung sira waras, sun dhadekaken Seblang, kadhung sing yo sing” (Bila kamu sembuh, saya jadikan kamu Seblang/ penari kalau tidak ya tidak jadi”. 
Ternyata, akhirnya Semi sembuh dan dijadikan Seblang sekaligus memulai babak baru dengan ditarikannya Gandrung oleh wanita.Tradisi Gandrung yang dilakukan Semi ini kemudian diikuti oleh adik-adik perempuannya dengan menggunakan nama depan Gandrung sebagai nama panggungnya. Kesenian ini kemudian terus berkembang di seantero Banyuwangi dan menjadi ikon khas setempat.
Banyak sanggar sanggar yang hingga kini tetap eksis melestarikan kesenian budaya ini. Salah satunya  Sanggar tari asuhan Jaswadi  “Mitra Remaja” yang berada di Kec. Muncar.
Pada mulanya Gandrung hanya boleh ditarikan oleh para keturunan penari gandrung sebelumnya, namun sejak tahun 1970an mulai banyak gadis-gadis muda yang bukan keturunan gandrung, ikut mempelajari tarian ini dan menjadikannya sebagai sumber mata pencaharian disamping mempertahankan eksistensinya yang makin terdesak oleh era globalisasi. Namun menurut sumber berbeda, tari gandrung konon lahir pada zaman Kerajaan Airlangga di Jawa Timur. 
Dalam suasana bersukaria, para prajurit keraton ada yang menabuh gamelan, ada yang menari. Mereka menari secara bergantian setelah penari sebelumnya menyentuh penonton yang berdiri di tepi arena. Perkembangan berikutnya, penari utamanya adalah perempuan (gandrung) yang pada awal penampilannya menyatakan tiang lanang (saya lelaki) kemudian menari sambil bernyanyi (basandaran atau bedede).
Tari ini terdiri atas tiga babak, yaitu babak bapangan-penari memperkenalkan diri kepada penonton-babak gandrangan di mana penari dengan kipas di tangan mengitari arena. Saat tertentu penari menyentuhkan kipasnya (tepekan) pada salah seorang penonton, yang serta-merta maju ke tengah arena untuk menari (pengibing). Kemudian babak parianom, di mana penari menari sambil bernyanyi dan melayani sang pengibing. Tiap pengibing diberi waktu menari sekitar 10 menit dan menyerahkan uang ala kadarnya sebelum meninggalkan arena. Namun ketika hidung pengibing mampu menyentuh hidung penarinya maka, sebaliknya Pengibing akan diberikan semua saweran yang diperoleh penari.
Baca Juga:  Mantra Sepuh Aksara Caraka Terbalik Pamungkas Waringin Sungsang

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here