Legenda dan Sejarah Asal-Usul Desa Alas Sumur Bondowoso, Sabut Aren dan Mayat Kutukan

0
2912

Konon pada dahulu kala, Desa Alas Sumur merupakan sebuah hutan belantara penuh dengan rawa- rawa yang terkenal angker. Hingga pada suatu ketika, datanglah seorang kiyai muda dari pulau garam Madura, yang bernama Kyai. Abdurrohim. Saat awal Kyai Abdurohim menapakkan kaki di hutan belantara tersebut, tiba – tiba ada sebuah semburan air yang cukup besar terpancar dari tanah salah satu sudut hutan itu. Seketika itu Kyai muda Abdurrohim bermunajat pada tuhan, meminta petunjuk mengatasi semburan air tersebut. 

Dari cerita masyarakat setempat, dalam tafaqqurnya Abdurohim muda mendapat suatu firasat, ” Jika sampai sumber tersebut tak dapat disumbat , niscaya semua dataran yang saat ini dikenal sebagai Bondowoso, akan dipenuhi dengan genangan air, dan tak dapat dijadikan pemukiman” . Hingga dalam tafaqur tersebut Kyai muda, menangis tersimpuh pada tuhan semesta alam, memohon petunjuk.

Singkat cerita setiap hari Abdurrohim mengumpulkan sabut pohon Aren, setelah sabut tersebut memenuhi kendaraannya ( Jikar bahasa Madura red-), Abdurrohim mengikat gumpalan sabut Aren tersebut dan menyumbatkannya pada semburan air yang besar tersebut. Begitu ia lakukan setiap hari, hingga semburan air besar tersebut dapat ditutupnya. Dikarenakan semburan besar tersebut tertutup, ahirnya muncullah sebuah sumber air kecil yang cukup banyak di sekitar hutan tersebut.
 Legenda ini pernah dibuktikan oleh kepala desa Alas Sumur Totok Haryanto SH, Saat dirinya hendak membabat Rawa tersebut menjadi sebuah tempat wisata. Kades Totok mencoba menenggelamkan sebatang bambu yang ujungnya diberikan besi pengait, dengan ukuran panjang bambu kurang lebih 30 meter. Setelah semua batang bambu itu ditelan habis oleh permukaan rawa, lalu ia angkat kembali, alhasil diujung pengait itu terdapat serabut Aren yang tersangkut. Hingga kini Sumber air utama tersebut diberi nama sumber Patemon oleh masyarakat setempat. Dimana hingga saat ini sumber utama tersebut dilarang untuk dikembangkan dan dibiarkan sesuai dengan kondisi aslinya.
Walau begitu Hutan belamtara tersebut belum memiliki nama, hingga pada pertengahan tahun 1800san grilya belanda menjamah pertiwi, konon hutan tersebut dijadikan lahan pembuangan mayat. Hingga muncullah sebuah doktrin untuk masyarakat awam yang bermukim di hutan berrawa itu, ” Jika menemui mayat di hutan tersebut, dilarang untuk mendekati, apalagi sampai menguburkannya, jika tidak akan mendapat musibah 7 turunan”. Dari doktrin yang berkembang tersebut hutan itu kerap kali tampak mayat yang sampai membusuk dan dibiarkan begitu saja. 
Hingga pada sekitar tahun 1902 datanglah pemuda dari Desa tetangga Poncogati, kini masyarakat Alas Sumur banyak mengenalnya sebagai Buju’ Karu. Dimana sebelumnya Buju’ karu adalah seorang penganut muslim yang lebih menanamkan rasa kemanusiaan pada sesama. Melihat banyak mayat yang tergeletak tak terurus, dirinya tergerak untuk mengurus dan memakamkannya dengan layak. 
Melihat yang dilakukan buju’ Karu, masyarakat menjadi heboh menggembar – gemborkan buju’ Karu sebagai orang Sakti yang mampu menghilangkan Kutukan yang sebenarnya hanya doktrin sesat semata.  Hingga pada ahirnya tindakan buyut Karu terdengar oleh Pihak Belanda. Singkat cerita didatangilah Buju’ Karu oleh belanda, dan diangkatlah Buju’ Karu sebagai Kepala Desa pertama di daerah tersebut. Hingga dirinya memberikan nama desa tersebut sebagai DESA ALAS SUMUR hal ini dikarenakan awal mula buyut Karu menapaki daerah itu, dirinya melihat sebuah telaga kecil ditengah hutan yang menyerupai sebuah sumur. 
Hingga saat ini, sekitar satu tahun yang lalu hanya Kepala Desa Totok saja yang berani membuka lahan tersebut untuk dijadikan lahan wisata.  Dan genap satu tahun wisata alam tersebut berkembang pesat dan mampu manjadikan kemakmuran bagi masyarakatnya. 

(hadats)

Baca Juga:  Samosir Punya Legenda Fenomenal

Klick Video terkait di bawah 👇

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here