Aji Gineng Sukawedha, Lambang Pemahaman Seorang Pemimpin Terhadap Rakyatnya

0
1826
Lurah Semar Saat Mewejang Momongannya, Raden Permadi Arjuna


Wujud Bakti suci Arjuna pada Negara, dalam mendapatkan wahyu dari Yang Maha Kuasa berupa Wahyu “Aji Gineng Sukawedha” penuh dengan perjuangan dan pengorbanan yang begitu besar.

Keberhasilan ini adalah wujud kerja kerasnya yang dibantu oleh Ki Lurah Semar Bandranaya.

Wahyu Aji Gineng Sukawedha adalah ajian sakti yang oleh salah satu pemiliknya Pikulun Nagaraja, digunakan untuk mengetahui bahasa semua mahluq di dunia ini.  Sementara pemilik ajian serupa Prabu Newatakawaca, menempatkan aji gineng di dalam tenggorokannya. Baik Nagaraja maupun Newatakawaca menjadikan Aji Gineng sebagai sarana artikulasi dan penyampaian pesan.  Intinya, Aji Gineng akan menjadikan seorang prajurit mampu memahami kehendak bawahannya.  Aji Gineng adalah sarana komunikasi atasan dengan bawahannya.

Untuk mendapat wahyu tersebut  dari Batara Guru Arjuna, sengaja  dikadali oleh Bethara Guru, dikarenakan Bethara Guru berniat menyerahkan Aji Gineng Sukawedha kepada anak biologisnya dengan Bethari Durga, yaitu Dewasrani.

Mengetahui hal tersebut, sebagai abdi yang tanggap terhadap kesulitan momongannya, Lurah Semar  bergegas menuju kahyangan guna menuntut keadilan pada Bethara Guru, dikarenakan perjuangan dan pengorbanan Arjuna dalam menempuh Tapa brata, sudah dianggap layak guna memperoleh wahyu tersebut. Rekayasa tingkat tinggi yang dilakukan oleh Bethara Guru bersama dengan Bethari Durga akhirnya kandas ditangan Lurah Semar.  Lurah Karang Kadempel inilah yang pada akhirnya menjadi tokoh sentral diakhir cerita untuk memuluskan langkah Arjuna mendapatkan haknya.

Dalam Lakon Semar Maneges, nama Aji Gineng muncul lagi dalam bentuk wahyu yang merupakan representasi dari wahyu keprajuritan.  Nilai filosofis yang tersirat dari lakon ini adalah wahyu (kekuatan) seorang pemimpin yang akan dapat dicapai apabila seorang ksatria/pemimpin senantiasa melibatkan “wong cilik” dalam meraihnya.  Semar adalah represntasi wong cilik, sementara Arjuna adalah simbol seorang ksatria, seorang aparat dan abdi Negara, seorang nayaka praja yang dianggap mengerti dan bertanggung jawab terhadap rakyat kecil.

Dengan wahyu gineng inilah Pandawa semakin kuwat mewakili kebenaran. Sadar bahwa kesaktian Pandawa tidak mungkin ditandingi oleh para kurawa, maka Prabu Duryudana berniat untuk mengembalikan Negara Hasitana kepada Pandhawa.  Niat ini ditentang oleh Patih Sengkuni dan Pendhita Durna.  Merekka menyarankan untuk lebih baik Sang Prabu berupaya meraih turunnya Wahyu Aji Gineng Saptawedha yang dalam waktu dekat akan diturunkan oleh Dewa di lereng Gunung Arjuna.  Prabu Duryudana menyetujui usulan ini dan memerintahkan Adipati Karna untuk “nyadhong’ turunnya Wahyu Aji Gineng Sukawedha. Alhasil Karnapun juga mendapat aji gineng yang serupa dengan milik Arjuna.

Di kahyangan Jonggringsaloka, Bethara Guru tengah menerima kehadiran Bathari Durga bersama anak lelakinya yang sudah menjadi raja di Tunggulmalaya, Dewasrani.  Kedatangannya kali ini adalah untuk menagih janji Bathara Guru kepada Dewa Srani yang akan menyerahkan Wahyu Aji Gineng kepada Dewasrani apabila anak lelakinya ini sudah bersedia hadir menghadap dirinya.

Seperti saya kemukakan didepan, Aji Gineng Sukawedha akhirnya didapatkan oleh Panengah Pandhawa, Raden Arjuna, yang dikemudian hari ajian itupun digunakan Raden Permadi menumpas keangkaramurkaan Kurawa.

Aji Gineng  adalah sebuah pusaka (ajian) sakti yang dikemudian hari juga dimiliki oleh Pikulun Nagaraja, yang kelak menjadi Guru Spritual Prabu Malwapati Angling Darma.  Ajian inilah yang pada akhirnya membuat Dewi Setyawati, sang permaisuri membakar diri.  Dikarenakan, Angling Darma menapatkan wewarah Aji Gineg dari Nagaraja.  Hasilnya, Angling Darma mampu mengetahui bahasa semua jenis binantang di dunia ini.  Setyowati membakar diri karena Angling Darma tidak mau memberikan ajian sakti ini kepadanya.  Yang kedua, Aji Ginengdimiliki oleh Prabu Newatakawaca dari Keraton Himahimantaka yang menjadikannya sakti luar biasa.  Hingga Tak seorangpun mampu menandingi kesaktian Raja Raksasa ini.  Namun dikarenakan raja tersebut menyalah gunakan aji luhur ini di jalan kesesatan, pada ahirnya raja sakti ini, terbunuh oleh ajiannya sendiri.

Jadi kesimpulannya, sebaik apapun prinsip dan ideologi yang digunakan, jika penerapannya salah, maka salahlah pula semua yang disandangnya, begitupun sebaliknya.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here