Sakral Gunung Putri Bondowoso Dan Tokoh Parpol

0
2047

Gunung putri yang berada di Kecamatan Taman Krocok Kabupaten Bondowoso Jawa Timur ini, berada pada ketinggian 1200 mdpl. Pesona alam yang kebtal dengan nuansa religi tersebut, dapat ditempuh melalui 2 jalur. Jalur pertama dari Desa Kretek dan Jalur kedua yang lebih suka dengan jalur pendakian pendek bisa melalui Desa Kemuning.

Setelah sampai dibahu gunung wisatawan akan menjumpai dua dusun yaitu Dusun Pettung dan Dusun Catoh. Dikedua dusun tersebut rata-rata setiap prnduduknya ramah tamah.

Namun kali ini sejarah-budaya.com akan menggali misteri Gunung Putri dari sisi legenda cerita rakyat, mistis dan religinya.

Legenda
Berawal dari sebuah kisah anak manusia berparas cantik bermata sendu berjuluk Dewi Putri dengan seorang kesatria muda nan gagah bernama Damar Sasongko. Dimana, keduanya merupakan sepasang kekasih yang sedang dilanda asmara.

Siang dan malam sepanjang waktu kedua insan tersebut bagai tiada hari tanpa saling bertemu. Hingga pada suatu ketika, puncak saling percaya akan bersatupun di ikrarkan. Namun, saat menjelang pelaksanaan ikrar, datanglah penggangu sosok Raja Raung bersama dengan punggawa – punggawanya yang berwujud Harimau.

Dalam sebuah cerita, Raja Raung langsung jatuh hati pada sosok Dewi Putri dan ingin menyunting menjadi istrinya. Namun, Sang Dewi enggan menerima Cinta Raja Raung karena dirinya telah bersumpah setia pada kekasihnya Damar Sasongko.

Akibat penolakan cinta tersebut, Raja Raung yang terkenal sakti mandraguna itu murka, hingga menantang kekasih Pujannya Damar Sasongko untuk bertarung.

Damar sasongko yang tak ingin kehilangan kekasinya, mati-matian bertarung melawan Raja Raung. Akan tetapi, walau telah mengeluarkan seluruh kesaktiannya, Damar Sasongko tidak dapat mengalahkan Raja Raung dan pada akhir pertarungan, dengan ajian Gelap Sayuta raja Raung berhasil melempar jauh Damar sasongko hingga bak ditelan bumi.

Baca Juga:  " History and Purpose Community ", Ampabon

Melihat kekasihnya kalah, Dewi Putri lari menjauh dari Raja Raung bersama segenap dayangnya.

Mengetahui Dewi Putri Raib usai Raja Raung bertarung melawan Damar Sasongko, Raja sakti itupun semakin murka hingga dengan ilmu yang tinggi, Raja Raung mengutuk Dewi Putri dengan Kutukan yang berbunyi “Dewi Putri Tidak akan menikah dengan siapapun seumur hidupnya”. Karena saat mengikrarkan kutukan tersebut Dewi Putri tidak terlihat oleh Raja Raung, efek dari kutukan itu berjalan perlahan menimpa pada Sang Dewi.

Sadar kutukan Raja yang murka akan terjadi, Dewi Putripun berinisiatif mencari sosok linuwih yang sanggup menangkal kutukan raja raung. Hingga pada suatu hari, bertemulah Dewi Putri dengan seorang pertapa bernama Ki. Sedeng. Dalam petunjuknya, Ki.Sedeng menyarankan Sang Dewi untuk bertapa di sebuah Pelinggihan yang terletak di Dusun Ampelan. Dalam pertapaanya, Sang Dewi ditugaskan untuk dapat menggeser sebuah batu lingga dari tempatnya semula. Konon saat batu itu dapat digesernya, Ki.Sedeng percaya kutukan Raja Raungpun akan luntur dengan sendirinya. Akan tetapi, menurut Ki. Sedeng hingga saat itu tidak ada satu orangpun yang berhasil memindah batu tersebut.

Tak berselang lama Dewi Putripun bertapa mengikuti petunjunk Ki. Sedeng. Raja Raung yang mendengar keberadaan sang Dewi, datang mengganggu guna menggagalkan ritual pertapaan tersebut. Gangguan demi gangguan yang dilancarkan Raja Raung nampak tidak berhasil menggoyahkan sang Dewi dari meditasinya.

Mengetahui hal tersebut, Raja Raung bersama segenap punggawanya, mengumpulkan dan menyatukan kesaktian guna mengutuk Dewi Putri untuk dapat tidur selamanya.

Wal khasil kutukan yang kedua kalinya ini benar-benar fatal dan terjadi menimpa sang Dewi Putri.

Akibat dari kutukan tersebut, selain membuat Dewi Putri tertidur dan menjadi batu juga membuat bencana yang maha dahsyat di negeri tersebut. Gempa bumi, banjir bandang, puting beliung dan sejenisnya, membuat porak porandanya sebuah negeri.

Baca Juga:  Sejuta Pesona Membentang Eksotis di Megahnya Gunung Lawu

Takut akan efek kutukan tersebut semakin menyengsarakan penduduk, Ki. Sedeng yang melihat bencana itu, keluar dari padepokannya untuk melawan Raja Raung dengan sebuah pertarungan sengit.

Singkat cerita, Raja Raung berhasil dikalahkan oleh Ki Sedeng dan bencana yang menimpa negri itupun dapat perlahan mereda.

Walau demikian, sang Dewi Putri hanya dapat pasrah menerima garis menjadi batu, yang lama kelamaan batu tersebut perlahan membesar menjadi sebuah gunung.

Hingga saat ini, gunung yang memiliki keindahan flora dan faunanya tersebut dikenal oleh penduduk sekitar dengan nama “Gunung Putri”.

Selain menawarkan wisata alam nan indah, penduduk sekitar lereng gunung Putri juga banyak percaya akan adanya sebuah mitos bahwa, barang siapa yang datang ke gunung tersebut dan menjumpai tanaman putri malu lalu beramal pada yang membutuhkan niscaya, akan terkabul 1 hajatnya.

Menurut sesepuh / kuncen gunung putri (mbah Jasimun) yang berada di Dusun Catoh, biasanya kalau pas Selasa Kliwon banyak peziarah yang melakukan ritual di puncak gunung. Dari mulai pedagang, petani, artis bahkan tokoh pemerintahan juga politik kerap di jumpai melakukan ritual.

“Terlepas itu semua, sebagai ummat beragama hendaknyalah kita pasrahkan segalanya pada sang pencipta, tentu hal tersebut setelah kita ber ikhtiar,” tutup mbah Jasimun seraya menyedot rokok kelobotnya. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here