Joko Bandung Raksasa Bondowoso Dan Sepenggal Tape Legidnya

0
1632

Bandung Bondowoso, selain menjadi nama kota yang sama – sama memiliki alam yang sejuk, sama – sama menjadi ikon poropinsi di Jawa Berat dan Jawa Timur, juga kedua kota yang memiliki ciri khas makanan yang sama yaitu, tape. Dimana, dari kedua kota di provinsi yang berbeda tersebut, tape dengan karakter rasa yang sama namun, memiliki nama yang berbeda yaitu tape di Bandung bernama Peuyeum sedang tape di Bondowoso bernama Tapai.


Namun, kali ini sejarah-budaya.com lebih akan mendalami legenda seorang pemuda mandraguna dari kota Bandung. Dimana, pemuda yang mampu mengutuk Roro Jonggrang, (seorang putri dari Prabu Boko yang tersohor dengan kecantikan paras wajahnya) menjadi sebuah patung untuk melengkapi candi ke-seribu yang sampai sekarang dapat kita saksikan & nikmati keindahannya.

Nama asli dari pemuda mandraguna tersebut adalah Joko Bandung, Putra mahkota dari kerajaan Pengging. Putra dari Prabu Damar Moyo.

Joko Bandung dikisahkan pernah beradu kesaktian dengan seorang raksasa sakti yang bernama Bondowoso. Ilmu kanuragan keduanya sama-sama tinggi. Tapi, dalam pertarungan tersebut, Bondowoso akhirnya kalah. Lalu, Bondowosopun meminta izin agar rohnya menyatu dalam tubuh Joko Bandung dan menginginkan namanya digabung dengan Joko Bandung. Pemuda itupun sepakat dengan nama barunya, Bandung Bondowoso. Karena itu pula kesaktiannya bertambah dua kali lipat hingga kian tak tertandingi.

Suatu hari, Bandung Bondowoso ditugaskan oleh ayahandanya, Prabu Damar Moyo untuk menggempur Keraton Boko karena dianggap memberontak. Keraton Boko adalah sebuah kerajaan yang berdiri di bawah Kerajaan Pengging. Kerajaan ini dipimpin oleh Prabu Boko, seorang Raja berwujud raksasa yang terkenal sangat kejam dan sadis. Prabu Boko memiliki seorang putri semata wayang yang memiliki paras wajah yang cantik rupawan yang bernama Roro Jonggrang.

Baca Juga:  Sejarah Peniggalan Putri Rengganis, Meliputi Banyuwangi, Jember, Bondowoso

Pertempuran antara Kerajaan Pengging dan keraton Boko itupun tak terelekkan. Singkat cerita, dengan ilmu kesaktian yang dimiliki Bandung Bondowoso, akhirnya Prabu Boko gugur di tangannya.

Sepeninggal Prabu Boko, ia masih meninggalkan Roro Jonggrang. Putri semata wayangnya yang terkenal dengan kecantikan paras wajahnya. Karena kecantikannya pula, Bandung Bondowoso menjadi terpikat dan ingin memperistrinya. Tapi, Roro Jonggrang tidak mencintai Bandung Bondowoso. Bahkan sangat membencinya ketika mengetahui jikalau laki-laki yang ingin memperistrinya adalah pembunuh ayahnya. Namun, Roro Jonggrang tidak berani menolaknya secara terang-terangan pinangan dari Bandung Bondowoso. Sebab, ia takut dengan Bandung Bondowoso yang terkenal sangat sakti, maka untuk mengelabuhi Bandung Bondowoso, sang puteri membuat sebuah siasat dengan meminta dua persayaratan untuk bisa meminangnya.

Syarat yang pertama, Bandung Bondowoso harus membuat sebuah sumur yang diberinya mana “Sumur Jolotundo”. Dengan kesaktiannya, syarat ini tidaklah berarti apa-apanya. Bandung Bondowoso mampu menyelesaikannya dengan cepat. Setelah selesai, Bandung Bondowoso memanggil Roro Jonggrang untuk melihatnya. Namun, disaat Roro Jonggrang di tepi sumur, ia mendorong Bandung Bondowoso hingga jatuh ke dalam sumur. Lalu, memerintahkan Patih Gupolo untuk menimbun sumur tersebut dengan tanah dan batu.

Dengan kesaktiannya, Bandung Bondowoso mampu keluar dan selamat dari Sumur Jolotundo. Mulanya, sang Pengeran sangat marah dengan kelicikan Roro Jonggrang. Tapi, sekali lagi beliau tersihir dengan kecantikan sang putri. Akhirnya, rasa marahnyapun hilang dengan sendirinya.

Lalu, Roro Jonggrang pun mengajukan syarat yang kedua. Syarat yang kedua ini meminta Bandung Bondowoso untuk membuat seribu candi dalam waktu satu malam. Candi tersebut harus sudah selesai sebelum ada ayam jantan berkokok atau sebelum fajar menyingsing. Dengan kehebatan yang dimilikinya, Bandung Bondowoso hampir menyelesaikan pekerjaannya karena ia dibantu oleh pasukan bangsa jin yang sangat patuh kepadanya.

Baca Juga:  Makam Sayyid Yusuf Tlango, Berawal Dari Petunjuk Selembar Daun

Roro Jonggrang semakin ketakutan ketika malam masih panjang dan Bandung Bondowoso sudah menyelesaikan 999 candi. Mengetahui bahwa Bandung Bondowoso hampir menyelesaikan pekerjaannya, Roro Jonggrang sangat panik, sehingga ia menyuruh para dayangnya untuk menabuh lesung (tempat menumbuk padi) guna membangunkan ayam, supaya berkokok. Dengan harapan si Bandung Bondowoso merasa bahwa hari sudah pagi. Sehingga gagal dalam membuatkannya 1000 candi.

Mengetahui hal tersebut adalah ulah sang puteri, Bandung Bondowoso menjadi sangat marah. Ia merasa telah ditipu, sehingga ia mengucapkan kutukan, bahwa untuk melengkapi jumlah candi genap seribu, puterilah yang disabda (dikutuk) hingga berubah menjadi candi. Lalu, jumlah candi menjadi seribu dan oleh orang jawa disebut dengan candi Sewu yang sampai sekarang masih dapat kita saksikan bersama keindahan wujud dan keberadaannya. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here