Walau Gosong Dilahap Api, Penyadap Aren Tetap Hidup

0
711

Sunan Geseng atau Eyang Cakrajaya, memang tidak sesohor para waliyullah yang lain seperti wali songo. Namun, beliau memiliki ketoa’tan yang cukup tinggi dalam beribadah. Bahkan, dari hasil to’at yang istimewa tersebut, sunan Geseng tidak mempan dibakar saat menjalankan tafaqqur Ilallah (tapa Brata).

Sunan Geseng adalah salah satu murid ta’at dari Sunan Kalijaga. Ia adalah keturunan Imam Jafar ash-Shadiq, dengan nasab: Sunan Geseng bin Husain bin al-Wahdi bin Hasan bin Askar bin Muhammad bin Husein bin Askib bin Mohammad Wahid bin Hasan bin Asir bin ‘Al bin Ahmad bin Mosrir bin Jazar bin Musa bin Hajr bin Ja’far ash-Shadiq bin Muhammad al-Baqir bin Ali Zainal Abidin al-Madani bin al-Husain bin al-Imam Ali k.w.

Pertemuan beliau dengan Sunan Kalijaga diyakini saat Kanjeng Sunan melakukan perjalanan syiar Agama ke daerah Bagelan (kini masuk Purworejo) untuk menyebarkan kedamaian Islam di daerah tersebut. Setiba di daerah Bagelan, Sunan Kalijaga bersinggah di rumah Ki Cokrojoyo dalam beberapa waktu.

Ki Cokrojoyo yang keseharian nya merupakan seorang “penderes aren” (atau dalam bahasa Indonesia disebut “penyadap aren”) untuk dijadikan gula memiliki kebiasaan bernyanyi (nembang) saat membuat gula.

Mendengar suara nyanyian Ki Cokrojoyo, Sunan Kalijaga sangat takjub, kemudian beliau memanggil Ki Cokro untuk mendekat pada dirinya. Ditanya oleh Kalijaga mengenai hasil penjualan dari gula aren tersebut.

Dengan segera Cokrojoyo pun menjawab bahwa hasil gulanya hanya bisa digunakan sebagai keperluan seorang fakir.

Mendengar jawaban tersebut Sunan Kalijaga kemudian memerintahkan Cokrojoyo untuk mengubah syair tembang nya dengan bacaan- bacaan dzikir dan pujian kepada Allah serta memintanya untuk memperlihatkan hasil gulanya kepada Beliau nanti. Setelah memerintahkan hal tersebut kepada Ki Cokro, Sunan Kalijaga melanjutkan perjalanan ke tempat lain. Singkat cerita Ki Cokro kembali melakukan kegiatan membuat gula aren dengan bernyanyi menggunakan syair barunya yang di dapat dari Kanjeng Sunan.

Ki Cokro sangat terkejut melihat gula hasil olahan nya ternyata menjadi emas batangan. Sesaat setelah menyadari mukjizat tersebut Ki Cokro memutuskan untuk mencari Sunan Kalijaga guna mengucapkan terimakasih sekaligus memohon untuk dapat diterima sebagai murid Beliau.

Setelah menemukan keberadaan Kanjeng Sunan, Ki Cokro mengutarakan maksud dan tujuannya mencari beliau. Mendengar apa yang disampaikan oleh Ki Cokro kepada beliau, Sunan Kalijaga memberikan syarat pada Cokrojoyo untuk bersemedi hingga Kalijaga kembali ke tempat tersebut.

Dalam sumber lain disebutkan bahwa Ki Cokro melakukan semedi tidak kurang dari satu tahun.

Persemadian Ki Cokro selesai setelah Sunan Kalijaga kembali melewati daerah Bagelan. Tempat persemadian Ki Cokro saat itu telah menjadi lahan yang rimbun ditumbuhi alang-alang dan semak belukar. Melihat kondisi ini Sunan Kalijaga memerintahkan para pengikutnya untuk membakar tempat tersebut guna mencari keberadaan Ki Cokro.

Demikianlah, ketika kebakaran berhenti dan Sunan Kalijaga datang menjenguknya, dia dapati Cakrajaya telah menghitam hangus, meskipun tetap sehat wal afiat.

Dengan wujud kegosongannya tersebut maka, diberilah gelar ia dengan julukan Sunan Geseng atau gosong.

Makam Sunan Geseng terletak di Dusun Jolosutro, Kecamatan Piyungan, Kabupaten Bantul, Yogyakarta. Letaknya kira-kira 2 km di sebelah kanan Jalan Yogyakarta-Wonosari Km. 14 (kalau datang dari Yogyakarta). Setiap tahun ada perayaan haul yang di gelar warga setempat untuk menghormati Sunan Geseng. Selain di dekat Pantai Parangtritis, Jogjakarta, makom Sunan Geseng juga dipercaya terdapat di sebuah desa yang bernama Desa Tirto, di kaki Gunung Andong-dekat Gungung Telomoyo-secara administratif di bawah Kecamaan Grabag, Kabupaten Magelang Jawa Tengah.

Masyarakat sekitar makam khususnya, dan Grabag pada umumnya, sangat mempercayai bahwa, makam yang ada di puncak bukit dengan bangunan cungkup dan makam di dalamnya adalah sarean (makom) Sunan Geseng.

Pada Bulan Ramadhan, pada hari ke-20 malam masyarakat banyak yang berkumpul di sekitar makam untuk bermunajat. Selain itu, di Desa Kleteran (terletak di bawah Desa Tirto) juga terdapat sebuah Pondo Pesantren yang dinamai Ponpes Sunan Geseng.

Ada sebuah makam yang konon juga makam Sunan Geseng, tepatnya dihutan di atas bukit kapur kurang lebih 10 km disebelah timur kota tuban jawa timur, yang konon juga sunan geseng bertapa di situ sampai akhirnya hutan terbakar, dan pada saat dia wafat dimakamkan disitu, karena di dusun geseng tersebut terdapat sebuah makam yang di atasnya terdapat batu nisan, dan banyak di ziarahi orang, dan dari situlah para peziarah yang pada umumnya berziarah di makam sunan Bonang di tuban, atau di makam Syeh Maulana Ibrahim Asmoro Qondi, selalu menyempatkan untuk berziarah ke makam Sunan Geseng tersebut. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here