Mbah Kucur Puger Dipercaya Masih Hidup Ditengah Masyarakat

0
3312

Pulau Kucur yang terletak di kawasan pantai Pancer, Kecamatan Puger, Kabupaten Jember, tepatnya 40 KM sebela barat daya dari pusat kota Jember ini, sangat terkenal dengan eksotis alamnya.

Pulau ini cukup dikenal masyarakat luas dengan nama Pulau Kucur dikarenakan, selain bentuk pulaunya mirip dengan kue cucur, juga yang paling tersohor adalah adanya petilasan tokoh spiritual yang bernama Mbah. Kucur, juga makam Raden Tanjung dan Raden Suryojoto.

Ditempat yang cukup menyuguhkan keindahan alam ini, ditemukan kawanan kera merah yang selalu bergerombol. Konon, kera-kera itu akan membawa malapetaka apabila ada pengunjung yang berani menyakiti apalagi sampai membunuhnya.

Kemudian juga, masyarakat di sepanjang pantai ini, juga masih memegang teguh kultur budaya ritual adat yang disebut dengan Larung Sesaji setiap tahunnya. Hal ini merupakan kegiatan yang dilakukan rutin sebagai ungkapan rasa syukur kepada Tuhan Yang Maha Esa atas rezeki yang dilimpahkan melalui perantara lautnya. Budaya ini biasa diperingati dengan melarung sesaji berupa tumpeng dan lain-lainnya ke tengah-tengah laut.

Banyak mitos yang berkembang di Pantai Selatan Jawa ini namun, kali ini sejarah-budaya.com akan menguak salah satu mitos di Pantai Puger yang berasal dari petilasan Mbah Kucur. Dimana, petilasan tersebut berada di dekat kolam penampungan Mata Air Kucur, dan dibawah Mata Air Sumber Sewu.

Mbah Kucur yang diyakini memiliki ilmu kebatinan tinggi ini, dipercaya sebagai seorang prajurit yang tugasnya mengawal Pangeran Puger dari Kerajaan Mataram guna jajah ndeso minangkori ( blusukan keseluruh desa ).

Dalam mengawal sang Pangeran Puger, Mbah Kucur juga dikawal oleh kedua muridnya (Mbah Tanjung dan Mbah Suryojoto).

Diberi julukan Mbah Kucur karena setiap singgah di Pasar, prajurit sakti ini selalu menyempatkan diri dengan membeli bekal kue Cucur.

Baca Juga:  Sakral Gunung Putri Bondowoso Dan Tokoh Parpol

Dari cerita penduduk lokal, 1 kue cucur tersebut dimakannya hingga habis selama 1 Minggu.

Singkat cerita, kedua murid Mbah Kucur dianggap belum lulus secara keilmuannya. Oleh karena itu, kedua murid ditugaskan bertapa di sebuah pulau hingga berhasil meraih kelulusan batinnya.

Saat Tanjung dan Suryojoto bertapa, Mbah Kucur melanjutkan perjalanannya mengawal Pangeran Puger.

Menurut cerita lain, ketika Mbah Kucur akan meninggalkan kedua muridnya beliau berpesan, agar kedua murid tersebut tidak mengakhiri tapanya hingga Mbah Kucur datang membangunkannya. Namun, hingga saat ini sampai Tanjung, dan Suryojoto meninggal dan dimakamkan di pulau tersebut, Mbah Kucur tak kunjung datang.

Konon keberadaan Mbah Kucur, hingga saat ini masih hidup di tengah-tengah masyarakat umum, (entah secara jasad atau ruhaninya). Hingga sampai kelak saatnya tiba beliau akan kembali ke pulau tersebut guna membangunkan pertapaan kedua muridnya. Disaat itulah berkah dari ketiga tokoh tersebut, akan dibagi-bagikan kepada masyarakat sekitar.

Karena ilmu batin yang dimilikinya cukup tinggi, tak heran pula jika tempat tersebut diyakini menyimpan energi mistis hingga akhir zaman.

Hingga kini banyak pengunjung yang berdatangan pada malam Jumat Paing untuk melakukan berbagai kepentingan dengan jalan ritual, yang konon di hari itu pulalah Mbah Kucur akan datang. Wallahu bissawab. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here