Bunga Abadi Gunung Ijen Bikin Harum dan Rapet Kaum Hawa

0
792

Bunga Edelweiss berasal dari dua kata dalam bahasa Jerman, yakni edel yang memiliki arti “agung atau mulia” sedangkan weiss yang memiliki makna “putih”. Tanaman ini, dikenal dengan nama latin Leontopodium Alpinum yang merupakan bunga dengan sebutan “bunga abadi”. Mengapa mendapat julukan seperti itu?

Karena, tanaman tersebut memiliki kandungan hormon etilen yang dapat berperan agar bunganya tidak mudah gugur. Bunga ini biasanya tumbuh pada tempat bebatuan blerang dengan ketinggian 1.800 sampai 3.000 meter di atas permukaan laut. Banyak pegunungan di Indonesia yang cocok ditumbuhi pohon bunga ini. Namun, yang paling terkenal akan keindahan dan khasiatnya, yang tumbuh di pegunungan Ijen, Bondowoso Jawa Timur.

Pada zaman peradaban kuno, bunga ini biasa dijadikan sebagai bahan baku obat herbal alami untuk berbagai macam penyakit seperti disentri, TBC, diare, difteri dan lain sebagainya.

Hal tersebut dikarenakan adanya kandungan zat anti-oksidan yang ada pada bunga edelweis. Sehingga, dapat digunakan sebagai obat herbal alami.

Kandungan anti-oksidan yang cukup kaya pada tanaman tersebut, yaitu anti-mikroba yang berfungsi untuk membasmi bakteri serta jamur, juga mempunyai anti radang (anti-inflamasi).

Bukan hanya itu, dalam tanaman ini juga terkandung sifat pelindung yang baik bagi keremajaan sel kulit serta bisa membantu kulit terlihat awet muda dan melidungi dari radikal bebas.

Menurut dr. Ivanda Maya dokter spesialis kelamin dari Bandung, tangkai Bunga Edelweiss jika senantiasa dikonsumsi sebagai minuman teh, sangat mujarab untuk mengharumkan dan merapatkan daerah sensitif wanita.

Selain itu juga, bunga ini bisa diolah dan diminum layaknya “minuman teh” yang dapat berfungsi untuk membantu menormalkan kembali sirkulasi yang kurang baik, kanker payudara, difteri dan batuk.

Bahkan, bisa juga berfungsi untuk dijadikan bahan baku salep yang melindungi kulit dari sinar UV (Ultraviolet), mempercepat kesembuhan luka dan membantu meredakan sakit akibat rematik.

Adapun sejarah Bunga Edelweiss sbb:

Pada tahun 1819, seorang bernama Caspar Georg Carl Reinwardt menemukan bunga ini untuk pertama kalinya di daerah lereng Gunung Gede. Baru setelah itu, diteliti lebih lanjut oleh Carl Heinrich ‘Bipontinus’ Schultz yang sama-sama berprofesi sebagai kepala botani asal Jerman.

Pada tahun 2003, Pos Indonesia pernah menjadikan bunga ini sebagai gambar perangko. Bahkan, bunga ini pernah suatu ketika dijadikan sebagai judul lagu pada tahun 1965 pada film The Sound of Music. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here