Perjalanan Brawijaya V Hingga Berjuluk Sunan Lawu

1
4803

Menurut versi beberapa naskah babad dan serat Majapahit, Brawijaya V memerintah kerajaan Majapahit terakhir sampai dengan tahun 1478. Tokoh ini nyata dan sangat legendaris. Ia sering dianggap sama dengan Bhre Kertabhumiyaitu, nama yang ditemukan dalam penutupan naskah Paramadina. Namun, pendapat lain mengatakan bahwa, Brawijaya cenderung identik dengan Dyah Ranawijaya yaitu, tokoh yang pada tahun 1486 mengaku sebagai penguasa Majapahit, Menggala, dan Kediri, setelah berhasil menaklukan Bhre Kertabhumi.

Brawijaya atau Raden Alit, naik tahta menggantikan ayahnya yang bernama Prabu Bertanjung. Adapun silsilah Raja Majapahit sebagai berikut, Jaka Sesuruh bergelar Prabu Bratana, Prabu Brakumara, Prabu Brawijaya IRatu Ayu Kencanawungu, Prabu Brawijaya II, Prabu Brawijaya III, Prabu Brawijaya IV dan terakhir, Prabu Brawijaya V.

Baca juga: Alas Purwo Tempat Lahirnya berbagai Ilmu

Pasca lengser keprabon dari tahtanya, Prabu Brawijaya V mengajak dua orang abdi kinasihnya Sabda Palon dan Naya Genggong pergi ke puncak Gunung Lawu di kawasan Argo Ndalem untuk menggapai kasampurnan atau moksa dengan menjalani dharma, yakni bersemadi atau tapa brata hingga akhir hayat.

Sebelum naik puncak lawu, Brawijaya V terlebih dahulu Jajah ndeso minang kori atau berkeliling ke seluruh desa dibawah naungan Majapahit. Dalam perjalanannya, bertemulah sang Prabu dengan Raden Sahid (Sunan Kalijaga). Dimana menurut sumber lain Sunan Kalijaga memang sengaja mengejar sang Prabu.

Pertemuan tersebut terjadi di Blambangan atau tepatnya di alas purwo. Raden Sahid menghentikan niat Prabu Brawijaya V yang hendak menuju kerajaan di Bali.

Dalam pertemuannya Kalijaga berkata, “Namun lebih baik jika Paduka berkenan berganti keyakinan syariat rasul, dan mengucapkan asma Allah. Akan tetapi jika Paduka tidak berkenan itu tidak masalah. Toh hanya soal agama. Pedoman orang Islam itu syahadat, meskipun salat dingklak-dingkluk jika belum paham syahadat itu juga tetap kafir namanya.”

Sang Prabu berkata, “Syahadat itu seperti apa, aku koq belum tahu, coba ucapkan biar aku dengarkan “

Sunan Kalijaga kemudian mengucapkan syahadat,

“Asyhadu ala ilaha ilallah, wa asyhadu anna Muhammadar Rasulullah, artinya aku bersaksi tiada Tuhan selain Allah dan bersaksi bahwa Kanjeng Nabi Muhammad itu utusan Allah. “

Sunan Kalijaga memberikan wejangan sampai Prabu Brawijaya berkenan pindah Islam, setelah itu prabu meminta potongan rambut kepada Sunan Kalijaga, akan tetapi rambutnya tidak mempan digunting. Sunan Kalijaga lantas berkata, Sang Prabu dimohon Islam lahir batin, karena apabila hanya lahir saja, rambutnya tidak mempan digunting. Sang Prabu kemudian berkata kalau sudah lahir batin, maka rambutnya bisa dipotong.

Setelah berhasil memotong rambut kemudian Sang Prabu berkata kepada Sabdapalon dan Nayagenggong, “Kamu berdua kuberitahu mulai hari ini aku meninggalkan agama Buddha dan memeluk agama Islam. Aku sudah menyebut nama Allah yang sejati. Jikalau kalian mau, kalian berdua kuajak pindah agama rasul dan meninggalkan agama Buddha”.

Namun, keduanya tidak mau dan tetap mempertahankan keyakinan aslinya. Dari keIslamannya tersebut, Brawijaya V mengurungkan niatnya pergi ke Bali, dan langsung melanjutkan perjalanannya menuju puncak gunung lawu. Hingga dikemudian hari setelah beliau nyepi dipuncak Lady, beliau lebih dikenal sebagai Sunan Lawu. (dats)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here