Beranda Artikel Wejangan Olah Rohso Sesepuh Purwo “Sing Disawang Obah, Sing Nyawang Obah”

Wejangan Olah Rohso Sesepuh Purwo “Sing Disawang Obah, Sing Nyawang Obah”

0
1365

Mungkin bagi sebagian orang Jawa khususnya bahkan mayoritas Indonesia umumnya, menganggap ilmu leluhur yang bernama “Olah Rohso”, merupakan ilmu yang terlalu rumit untuk dipelajari dan terkesan tidak berguna. Karena, hampir rata-rata oknum mentor Olah Rohso, terlebih dahulu menganjurkan sarana ritual atau tirakat yang tentusangat menguras segalanya sebelum memberi sari pati ilmu tersebut.

Kali ini, sejarah-budaya.com ingin berbagi pengalaman sekelumit kajian Olah Rohso dari sumber seorang linuwih bernama KH. Mahfud atau Mbah UT. Dimana beliau, dimasa tuanya menetap dan meninggal di tanah ujung timur Pulau Jawa, tepatnya di Kecamatan Tegaldelimo, Desa Pondok Asem (Pintu gerbang Alas Purwo) Banyuwangi.

Menurut beliau, olah Rohso merupakan sarana jalan menuju pada ujung atau sari pati Rohso tersebut. Dikatakan sarana jalan karena didalamnya terkandung ajaran-ajaran prihatin, penyerahan diri kepada sang pencipta. “Tentu jalannya tidaklah mudah namun, juga tidak terlalu sulit” ungkapnya.

Menjalani Olah Rohso atau Olah Rasa, terlebih dahulu kita dihadapkan pada tiga fase pengenalan yaitu 1. rasa dari fikir, 2. rasa dari hati dan 3. Tanpa rasa. Adapun fase pertama tersebut, kita wajib belajar merasakan segala rasa dalam hidup baik itu manis, pahit, asam dan sebagainya yang meliputi seluruh rasa dengan sumber kelima panca indra. Kemudian, rasa tersebut dibenamkan sedalam – dalamnya pada lubuk fikir hingga sulit untuk dilupakan. Menurut Mbah UT terkait ilmu atau ingatan yang mudah maupun sulit dilupakan, hal ini tergantung dari proses bagaimana ilmu tersebut didapat. Jika mendapatkannya cukup mudah maka, melupakannyapun bisa cukup mudah, begitupun sebaliknya. Oleh sebab itu, belajar ilmu apapun haruslah dilandasi Ikhtiar yang benar -benar menantang. Kata pepatah “Jher Bhasuki Mowo Beo” yang memiliki arti pengorbanan dan perjuangan tidaklah dapat dipisahkan dalam meraih sesuatu didunia lebih-lebih diakhirat.

Baca Juga:  Berkembangnya Kata SEGHORO Memupuk Jiwa Arif Kaum Jawa

Mengacu pada fase pertama, kita lanjut pada fase kedua yaitu Rasa dari Hati. Dimana dalam hal ini kita hanya menjalankan lebih halus lagi dari laku pertama. Biasanya dalam hal ini kita mendapat pengajaran laku “lawan arus” yang didalamnya berlaku pula prihatin atau penyerahan diri dengan jalan riyadloh / meditasi. Untuk memuluskan jalan riyadloh lawan arus tersebut, murid biasa dianjurkan lelaku tirakat dengan jalan melawan arus rasa. Misalnya, jika ingin bicara maka jangan berbicara, jika dingin maka mandilah, jika panas maka berpuasalah dan lain sebagainya. Saripati dari fase ini adalah dapat merasakan sefala sesuatu yang dirasakan umum oleh orang lain maupun alam semesta.

Setelah kedua fase tersebut dirasa cukup untuk bekal, barulah kita menginjak ke fase akhir yaitu fase tanpa rasa. Disebut tanpa rasa bukan berarti sudah tidak memiliki rasa sama sekali. Namun hal ini, lebih condong menyatukan rasa fikir dan rasa hati menuju rasa sejati / yang sesungguhnya. Dalam bab ini kita duharuskan benar-benar mengikuti langkah sang mentor yang lebih berpengalaman. Jika tidak, dalam bab ini kita bisa terjerumus pada hal-hal yang benar-benar fatal kesalahannya.

Sebab dalam fase akhir ini, kita sebagai pemula diharuskan mampu mebcapai perasaan “Suwung” atau hampa pada segala rasa. Inti suwung ini menuntut kita memasuki titik nol, jangankan rasa manis pahit susah dan senang bahkan diri kita sendiripun harus benar-benar tidak dapat dirasakan. Hal ini bertujuan agar kita dapat melebur rasa dengan sang pencipta atau alam semesta.

Masih kata Mbah. UT, untuk mencapai itu semua, selain berani, sabar dan ikhlas beliau juga berpesan dalam bahasa jawa Timuran, “Sing di awas obah lan sing ngawas obah, yora bakal ketemu dununge” artinya, yang dilihat bergerak dan yang melihat juga bergerak, ya tidak bakal bertemu ujungnya. Hal ini menurut beliau merupakan salah satu kunci mencapai puncak Olah Rohso. Sebab jika sama – bergerak (hati dan fikiran) keduanya tidak bakal bertemu / menyatu. Begitupun juga jika sama-sama diam, juga tidak bakal bertemu. Hendaknyalah salah satu dari hati maupun fikiran, satu bergerak dan satunya lagi diam dengan begitu kita akan mudah menyatukan keduanya menuju cahaya rahmatan lilalamin.

Baca Juga:  Obat Murah Ampuh Memulihkan Aki Sooak Kembali Seperti Baru

Jadi pada intinya, belajar rohso bertujuan agar kita sebagai hamba dapat senan tiasa beribadah menghadap Tuhan semesta alam dengan jalan menyatukan hati dan fikiran juga dengan melupakan, meniadakan apapun kecuali Tuhan saja. Dengan begitu nisca semua keraguan yang mengganjal dilubuk fikir maupun hati dapat teratasi dengan keyakinan yang benar.

Dengan demikian biasanya, kita yang belum mengalami proses belajar diatas bertanya, apakah dengan seperti itu kita selalu akan terlepas dari masalah…?

Menurut Mbah UT, jika ada yang bertanya demikian kamu jawab saja, ” jika kamu menganggap saya sudah tidak bermasalah, berarti kamu juga menganggap saya sudah tidak bernyawa”. Sebab, selama kita (manusia) masih menyandang Jasad, kita tidak akan pernah terlepas dari masalah. Namun, jika kita sudah memegang pakem pengertian hidup, ibarat masalah itu sebagai kita sedang menyebrang sungai yang dalam dimana, jika kita teruskan menyebrang kita akan hanyut dan tenggelam lalu mati sia-sia. Tetapi, jika kita ingat (eling) tentu walau terlanjur menyebrang, kita pasti akan kembali ke tepian untuk melanjutkan hidup agar lebih bermanfaat. Lalu, dimana dan siapakah tepian tersebut…? Jawabnya didalam dirimu dan hanya sang pencipta saja. Wallahu bissowab. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here