Beranda Artikel Keris Sodo Lanang Kinasih Sunan Kalijaga dan Begawan Hanoman Gunung Lawu

Keris Sodo Lanang Kinasih Sunan Kalijaga dan Begawan Hanoman Gunung Lawu

0
3952

Cerita keris yang berpamor Sodo lanang dipercaya bagi sebagian masyarakat Jawa khususnya, sebagai pusaka pegangan Raden Sahid ( Sunan Kalijaga ). Keris ini, sering tampak terselip di pinggang depan sang Sunan. Menurut dari beberapa sumber, selain seorang wali, sastrawan dan budayawan Raden Sahid juga memiliki keahlian membuat senjata keris.

Diceritakan Mbah. Subali asal klaten yang dulu pernah berguru pada cicit Sunan Kalijaga bahwa, konon keris Sodo Lanang merupakan keris kebanggaan R. Sahid. Selain memiliki keistimewaan dapat membawa karakter wibawa bagi si pemegang, keris tersebut juga dipercaya dibuat hanya dengan mengepal-ngepal sebuah tanah yang akhirnya lambat laun menjadi sebuah keris pusaka.

Keris sodo lanang memiliki ciri terdapat sebuah pamor seperti lidi yang menojol dipermukaan ujung hingga pangkal keris. Jika dipegang dengan ibi jari, tonjolan tersebut sangat terasa di kulit.

Selain identik dengan kewibawaan, Keris sodo lanang juga dipercaya sebagai media pembawaan karakter Kinasih bagi sipemiliknya. Hal ini tentu tidak akan terlepas dengan adanya pasangan dari keris tersebut. Menurut mbah. Subali, keris Sodo Lanang memiliki pasangan yang berupa Ilmu atau rapal mantra “Aji Sodo Lanang”. Keduanya (keris dan ajian) sebenarnya tidak dapat dipisahkan.

Terkait itu semua sejarah-budaya.com juga akan menguak sedikit cerita tentang ajian sodo lanang. Adapun menurut cerita orang Jawa khususnya yang menggemari cerita wayang, keris tersebut identik dengan tokoh Bagawan Hanoman. Warta berkisah, sosok yang juga dikenal sebagai Putera Anjani dan masih kadhang (keluarga-Jw) Batara Bayu adalah benar-benar sosok pilihan. Kepiawaiannya dalam olah keprajuritan pun telah dibuktikan pada saat diri dan pasukan wanara yang dipimpinnya melabrak negerti Alengkadiraja. Pada saat itu, bala tentara Rahwana yang dikabarkan mampu mengobrak-abrik kahyangan dibuat tak berdaya oleh tokoh yang satu ini. Bahkan berbagai bangunan yang megah dan pertamanan yang indah pun mampu dibuat menjadi karang abang (bumi hangus-Jw).

Baca Juga:  Alur Inspirasi Kesuksesan BOB SADINO "Rencana Adalah Bencana"

Menurut tutur para sepuh, Resi atau Bagawan Hanoman yang pada akhirnya dikenal dengan Resi Mayangkara, akan terus hidup sepanjang masa dan bahkan siap membantu siapapun yang membutuhkan pertolongannya.
Hal ini dibuktikan kala itu, tepatnya 25 tahun yang lalu, Bekel (salah satu jenjang kepangkatan di Keraton-red) Yudho merasa gundah gulana. Betapa tidak, cintanya yang demikian tulus ditolak mentah-mentah oleh Sulastri yang merupakan kembang desa di mana ia tinggal.

Berbekal dengan tekad yang pantang menyerah, Bekel Yudho langsung berangkat ke Gunung Lawu, gunung yang diyakini banyak orang sebagai salah satu pusat spiritual tanah Jawa. Bahkan tak kurang, ada yang meyakini bahwa kekeramatan gunung ini sama dengan gunung Mahameru yang ada dalam cerita wayang.

Di Telaga Wali, salah satu tempat keramat yang ada di gunung itu, ia melakukan tapa kungkum (berrendam-Jw). Tekadnya hanya satu, mukti (mendapatkan kebahagiaan-Jw) atau pati (mati-Jw). Pada hari ke 21, antara sadar dan tidak ia merasa didatangi oleh sesosok bayangan yang menyilaukan. Dengan suara yang penuh wibawa, sosok itu berkata, “Jebeng (anakku-Jw), kamu jangan takut. Aku adalah Bagawan Hanoman. Untuk mendapatkan wanita yang kaucintai, engkau kuhadiahi Aji Pengasihan Sodo Lanang. Tetapi ingat, ajian ini jangan untuk main-main. Karena engkau akan kuwalat (kena tulah-Jw).”

Usai mendengar kata-kata itu, ajaib, tanpa mendengar lanjutan kata-kata dari sang Bagawan, tetapi di benak Bekel Yudho telah terekam serangkaian kalimat dari ajian yang dimaksud. Aneh memang, tetapi begitulah kenyataan yang dialami oleh sang Bekel.

Keanehan terus saja terjadi sekembalinya dari Gunung Lawu, di rumahnya, ia melihat kedua orang tuanya sedang sibuk menerima kedatangan keluarga kekasihnya. Ia hanya tahu, mereka tengah menghitung hari dan bulan baik untuk melangsungkan pernikahan dirinya dengan Sulastri. Bekel Yudho hanya tergugu, tak mempu mengucapkan kata barang sepatahpun. Akhirnya, pernikahan keduanya berlangsung dengan meriah. Seiring dengan berjalannya waktu, pasangan yang berbahagia ini dikaruniai tiga orang anak yang kesemuanya lelaki.
Dan atas kebesaran hati Mas Pratiknyo, putera tertua Bekel Yudho yang kini tinggal di sudut Timur kota pelajar, Yogyakarta.

Baca Juga:  Mayat Ini Terhimpit Dalam Kubur Meski 70 Ribu Malaikat Hadir Di Pemakamannya

Hanya saja ia berpesan, sebagaimana wasiat dari Bagawan Hanoman, mohon ilmu ini jangan dipakai sembarangan. Karena dapat berakibat fatal bagi diri maupun yang terkena.

Mantera Aji Pengasihan Sodo Lanang adalah sebagai berikut:
Sun amatek ajiku sodo lanang,
Saka pertapan kendalisada,
Dak sabetake segara asat,
Dak sabetake bumi bengkah,
Dak sabetake watu pecah,
Dak sabetake atine si jabang bayi … (sebut nama orang yang dituju),
Takluk, edan mikir aku,
Yen ora tak tambani ora mari,
Banget asih, tresna saka kersaning Allah.

Adapun syaratnya melakukan adalah:
Lakukan mandi keramas dengan bunga tujuh macam. Puasa mutih selama 7 hari 7 malam selama menjalankan puasa, tiap tengah malam, sambil membakar kemenyan baca mantera di atas sebanyak 13 kali seraya membayangkan wajah yang dimaksudkan.

Aji Pengasihan ini, hanyalah sebagai penambah wawasan bagi para pembaca yang gemar menekuni berbagai ajian-ajian kuno yang kini sudah terbilang langka. Sebab yang perlu selalu diingat adalah, keberhasilan seseorang di dalam menjalankan suatu ilmu ataupun mendapatkan dambaan hatinya hanyalah tergantung kepada Allah semata. Selaku manusia kita hanya biasa, berusaha. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here