Beranda Artikel Aksara Jawa dan Arab Bagai Suami Istri dan Menjadi Syarat Pemersatu Dunia

Aksara Jawa dan Arab Bagai Suami Istri dan Menjadi Syarat Pemersatu Dunia

0
1490

Indonesia terkenal dengan adanya kultur kebhinekaan yang membuat negara ini menjadi disegani oleh negara lain. Adanya paham bawaan dari arab, cina dan india yang melebur menjadi satu muara dalam keberagaman adat, menjadikan masyarakat Indonesia mudah bertoleransi atar satu paham dengan paham lainnya.

Kali ini, sejarah-budaya.com dengan hangat menyuguhkan asal muasal kebhinekaan dari salah satu muara sepiritual antara aksara Jawa dengan aksara Arab. Diketahui peradapan aksara Jawa atau caraka, diciptakan awal kali oleh Aji Saka yang berasal dari Bumi Majeti. Bumi Majeti sendiri adalah negeri antah-berantah secara mitologis, akan tetapi ada yang menafsirkan bahwa Aji Saka berasal dari Jambu dwipa (India) dari suku Scythia, karena itulah ia bernama Aji Saka (Raja Shaka).

Sedangkan aksara Arab atau Hijaiyah sendiri awal kali diciptakan oleh Nabi Ismail. Hal ini merujuk pada keterangan dari Ibnu Affan dari Qasim dari Ahmad dari az Zubair bin Bakkar, dari Ibrahim bin al Mundzir, dari Abdul Aziz bin lmran, dari Ibrahim bin Ismail bin Abi Hubaib dari Dawud bin Husain dari lkrimah dari Ibnu Abbas, yang berkata: “Orang yang pertama kali mengucapkan bahasa Arab dan membuat tulisan lafalnya adalah Ismail bin Ibrahim”.

Kedua aksara tersebut (jawa dan arab) bukan hanya dianggap sebagai sebuah karya cipta tulisan belaka. Namun lebih dari itu semua, keduanya merupakan karya sastra seni yang sarat akan kedalaman makna dan sebagai simbol suatu paham ketuhanan.

Ditinjau dari asal muasal dan latar yang berbeda, kedua aksara dan faham tersebut mustahil untuk dapat dipadukan. Namun, ketika keduanya dibawa berhijrah ke negeri Nusantara, faham dengan sejuta perbedaan itu ber metamorfosa menjadi satu kesatuan yang dinamakan kaweruh atau pengetahuan.

Menurut beberapa sumber, Aksara Jawa merupakan lambang dari sosok pria atau suami. Hal ini dikarenakan bentuk hurufnya yang rata-rata bertekstur berdiri. Sementara huruf arab, dilambangkan sebagai sosok wanita atau ibu juga karena hurufnya saat disambung bertekstur tidur.

Perpaduan ibarat suami dan istri inilah yang kemudian dijadikan suatu gambaran kaweruh bagi orang – orang Nusantara bahwa, diantara keduanya menjadi teladan untuk selalu mengingat adanya asal muasal diri manusia, yang tidak akan pernah ada diri tanpa adanya ibu dan bapak. Keberadaan dua orang tua (ayah dan ibu) ini sangat diskralkan Dalam faham ideologi maupun agama. Jika dalam keyakinan jawa mereka disebut “Pangeran Katon” atau Tuhan yang tampak.

Begitupun dalam paham arab, ibu bapak juga diposisikan menjadi wakil Tuhan. Hal ini merujuk pada sabda Nabi yang berbunyi, “Ridho Allah terletak pada ridho kedua orang tua“.

Dengan demikian masyarakat Nusantara khususnya Indonesia, terkenal dengan kearifan yang dapat selalu mempersatukan perbedaan faham dalam satu kesatuan persamaan. Hal inilah yang menjadikan masyarakat Indonesia istimewa dimata negara-negara lain dan oleh karenanya pulalah banyak negara termasuk arab dan india berhijrah ingin berguru kearifan pada negeri Nusantara ini. ( dats )

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan