Beranda Artikel Gempa Lombok 7 SR Akibat Ulah Buta Kala Yang Kelaparan

Gempa Lombok 7 SR Akibat Ulah Buta Kala Yang Kelaparan

0
1298

Terjadinya dua kali gempa bumi di NTB dengan kekuatan gempa pertama 7 SR dan gempa kedua 5 SR pada Minggu, (5/8/18) kali ini, sudah terdeteksi sejak adanya kejadian gerhana bulan pada 1 minggu sebelumnya.

Menurut dari berbagai sumber khalayak seorang prakirawan seismik asal Australia yang mengamati gerhana bulan “micro Blood Moon”, mengklaim bahwa, gerhana Bulan yang terjadi kali ini, merupakan gerhana dengan durasi waktu penampakan terlama dan hal ini mampu memicu terjadinya gempa Bumi.

Baca juga: Gerhana Bulan Total Reminder

Frak Hoogerbeets (49) dalam situs web pemantau gempanya, pada 24 Juli 2018 lalu meramal, kesejajaran benda antariksa seperti pada gerhana micro Blood Moon dan yang lainnya, akan berdampak pada peningkatan aktivitas seismik dan tektonik di Planet Biru kita ini.

Frak, menggunakan cara yang tidak diakui luas oleh komunitas ilmiah, yakni memprediksi gempa Bumi dengan keterkaitannya pada kesejajaran antar benda antariksa.

“Setiap kali tiga benda antariksa di Tata Surya kita mengalami kesejajaran, akan ada gempa yang signifikan terjadi pada satu dua hari sebelum atau sesudahnya,” ungkap Frak.

Selain soal gerhana, Hoogerbeets juga menyajikan contoh soal kesejajaran Bumi dengan planet lain di Tata Surya yang menurutnya, mampu memicu gempa.

“Bumi telah berada di antara Mars dan Merkurius selama beberapa pekan terakhir dan sedikit tarikan gravitasi dari kedua belah pihak dapat mengganggu lempeng tektonik Bumi,” Hoogerbeets memprediksi.

Dan benar adanya, prediksi Hoogerbeets sedah terjadi kali ini di Indonesia tepatnya di lautan Nusa Tenggara Barat.

Namun kali ini, sejarah-budaya.com akan menguak sisi lain dari kejadian tersebut. Sisi lain yang jarang dinalar fikir namun, menjadi wacana subur di kalangan sebagian masyarakat adat terutama Indonesia.

Baca Juga:  Keris Kyai Carubuk, Manifestasi Pulung Bagi Sang Calon Pemimpin Negara

Mitos Buta Kala memakan gerhana

Menurut pemangku adat di Jembrana Bali, I Ketut Darmakawit atau lebih akrab disapa mbah Wit mengatakan kejadian (fenomena alam) kali ini, sangat lekat dengan keyakinan adanya mitos cerita rakyat dimana, Buta Kala membuat kekacauan dengan memangsa cahaya bulan.

Menurut Mbah. Wit, hal ini terjadi karena buta kala yang keluar dari dasar laut merasa lapar dan karena yang dilihat pertama kali adalah bulan purnama maka, ia langsung memangsa sang bulan. Namun, karena bulan tersebut tidak dapat dimangsa akhirnya buta kala kembali memuntahkannya. ” Menurut moyang saya dulu, setelah bulan dimuntahkan Buta Kala merasa marah karena rasa laparnya tidak terpenuhi. Disaat itulah Sang Buta menebar Kolo Bendu atau wabah penyakit di maya pada dan langsung kembali ke pertapaannya di dasar samudra.

“Kembalinya Buta Kala inilah yang mengakibatkan gesekan di lempeng bumi hingga berpotensi gempa. Biasanya gempa terjadi 2 kali, waktu keluar dan masuknya buta kala” terang mbah Wit.

Namun, itu semua hanyalah merupakan cerita lampau yang sengaja diciptakan oleh leluhur. Terkait kebenarannya, sangat minim mendekati kebenaran nalar dan logika. Akan tetapi, kita sebagai generasi penerus hidup sang leluhur, perlu adanya menilai positif dari adanya mitos tersebut.

Masih Mbah Wit, cerita itu semua sengaja disuburkan oleh pendahulu kita agar, kita semua dapat selalu mendekatkan diri pada sang pencipta. Mengapa harus dengan cerita mitos menakutkan,? Jawabnya, selain memang tidak mengetahui ilmu astronomi, leluhur dahulu juga memiliki cipta angan yang bermacam-macam.

Sebab, biasanya manusia itu dapat mengingat Tuhannya dikala sedang takut, terhimpit dan lain sebagainya. Nah disinilah gunanya mitos yang berfungsi sebagai pemicu ketakutan dan keterhimpitan seseorang, agar setelahnya, seseorang tersebut tidak melarikan masalahnya kepada selain Tuhan.

Baca Juga:  Asal-Usul Keris Putut Sajen Bertuah atau Tidak, Tergantung Pemegangnya

Selain itu, dengan tetap menyuburkan cerita lampau, baik terkait mitos, legenda, maupun sejarah, kita terhindar dari predikat pepatah ” Kacang Lupa Kulit”.

Semoga hal ini menjadi manfaat bagi segenap pembaca, dan semoga kita semua senan tiasa mendapat perlindungan dan naungan dari sang pencipta alam semesta. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here