Wedhar “Manungso Eslam” Dalam Keyakinan Jawa

0
906

Secara harfiah Manungso Eslam berasal dari dua kata Manungso atau Manusia dan Eslam yang berarti Agama Islam atau secara gamblang dapat diartikan sebagai Manusia yang beragama Islam / muslim.

Dalam Syar’i mazhab Syafi’i, manusia islam merujuk pada dua dasar yaitu “Dhoiman Wa Yaqinan”. Iman, seseorang bisa dianggap sebagai iman bawaan dari kedua orang tua. Ketika orang tua kita muslim maka, pada umumnya kitapun otomatis dimuslimkan. Namun, tidak demikian dengan Keyakinan. Hal inilah yang sebenarnya menjadi kewajiban bagi manusia yang telah berkembang pada kesadaran pencarian, untuk dapat menemukan keyakinan yang dapat tertanam dalam fikiran dan hati.

Ketika keduanya (Iman dan Yakin) telah berhasil distabilkan dalam fikir dan hati, maka disitulah sebenarnya setiap insan telah menyandang gelar sebagai Manusia Islam.

Kali ini sejarah-budaya.com akan mengupas sedikit makna Manungso Eslam dari sisi sanepan / (perumpamaan) dalam pengertian orang Jawa.

Manungso sendiri bagi orang jawa sangatlah memiliki arti yang luas. Namun yang umum diwedar adalah makna singkatan yang menerangkan makna Manungso sebagai Manunggaling Rohso atau menyatu dengan rasanya. Diwedarkan, ketika setiap insan berhasil mengolah rasa dan dapat menyatukan hati fikiran seirama dengan rasa maka, ia layak dikatakan sebagai manungso. Namun ketika, insan belum dapat menyatukan ketiganya (hati, fikir dan rasa) maka ia masih dianggap dengan julukan kata orang (bukan manusia).

Sedang Eslam atau Islam sendiri, diartikan dengan makna Isineng Alam atau isinya alam. Dalam hal ini, meliputi segenap, seluruh Alam dan Isinya. Bagi sebagian orang jawa, Islam sendiri meliputi seluruh alam dan isinya tanpa terkecuali. Hal ini dimaksudkan agar sang manusia dapat menanamkan sebuah keyakinan agama yang pluralisme terhadap apapun dan siapapun.

Baca Juga:  Arum Kusuma, Menikah Rasa Pacaran Hingga Akhir Hayat

Dengan demikian dapat disimpulkan bahwa makna sanepan dari kata Manungso Eslam berarti Manunggaling Rohso isineng alam. Terkait kebenaran dan kesalahan dalam wedar diatas, kita sebagai manusia berakal, layaknyalah dapat berfikir dengan filterisasi lebih dalam. Dan menyerahkan semua hasil akhir pada sang pencipta alam semesta. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here