Kewalian Gus Huddi Malang, Senyap Dipermukaan

0
4701

Asy-Syaikh KH.M.Sholeh Huddi Muchyiddin Al-Amien (alm), diketahui meruupakan salah satu tokoh pimpinan Pondok Pesantren Baiturrohmah di Jalan Ciliwung 1 Nomor 61, Kecamatan Blimbing, Kab. Malang. Putra dari Asy-Syaikh KH.Abdul Chayyi Muchyiddin Al-Amien (mbah.Yayi) ini, merupakan sosok waliullah yang memiliki sifat welas asih terhadap siapapun yang ia temui. Dari kalangan keluarga, santri, pejabat, kaum fakir bahkan terhadap orang gilapun, beliau juga menerapkan sifat kewelas asihan.

Terkait dengan kiprah Syaikh KH.Abdul Chayyi Muchyiddin Al-Amien (mbah.Yayi) sediri dalam perjuangan dan kiprahnya terhadap negara dan agama dapat kita baca di : Pancasila Buah Pemikiran Ulamak Baiturrohmah

Memang tidak banyak orang tahu akan kiprah perintisan kewaliannya namun, bukan berarti gelar kewalian beliau diperoleh dengan mudah. Dari salah satu santri Baiturrohmah Kh. Mahfud / mbah. Ud (alm) Banyuwangi, yang masih merupakan santri tua generasi kamar Jinem ini menerangkan beberapa perjalanan gus Huddi. Menurut mbah. Ud, memang gus Huddi itu memiliki garis keturunan dari sedemikian banyak waliullah bahkan nazabnya tembus hingga ke Rosulullah. Walau demikian, bukan berarti lefel kewalian beliau bukan hanya diperoleh dari garis keturunan tersebut.

Beliau diketahui melakukan pencarian ilmunya hingga keliling Indonesia, berguru kepada segenap ulama yang dianggapnya memiliki sambungan rasa dengan nuraninya, hingga akhirnya menjadi mursyid menggantikan ayahnya.

Adapun salah satu wujud karomah beliau yang cukup gamblang, setiap pembicaraannya dapat dimengerti siapapun dalam melakukan ceramah bai’at, walau jika didengar dengan tanpa rasa ucapan beliau seperti balita yang berbicara. Tidak hanya itu, menurut mbah. Ut, gus Huddi juga dapat berbicara dengan bangsa hewan apapun. Hal ini, terbukti saat beliau berkunjung ke Pondok Mbah Ud di kaki alas Purwo. Ketika itu sapi peliharaan mbah Ut sedang mengamuk dan merusak bagian musollah. Ketika didekati gus Huddi sapi tersebut terduduk dan tampak bercakap-cakap layaknya sesama manusia. Setelah usai bercakap, sapi tersebut dibuka semua tali yang membelenggunya dan dilepas ke Alas Purwo. Usai dilepas, sapi tersebut menjadi rebutan para penduduk namun tidak satupun orang yang berhasil menangkapnya. Hingga sapi masuk ke semak belukar di hutan Purwo dan menghilang bak ditelan bumi.

Sebenarnya masih banyak karomah beliau yang tersembunyi namun, beliau memang sengaja untuk selalu menyembunyikannya dari siapapun. Hal ini sengaja dilakukan karena menurut beliau, bukanlah karomah yang ia ytamakan melainkan sebuah posisi keridhoan Ilahilah yang mebjadi prioritas utamanya. Dalam menggapai Keruidhoan tersebut, beliau tidak henti-hentinya melakukan perbuatan yang dapat mengantar seseorang pada pengertian hakiki. Dari beberapa pesan beliau saat berdakwah pada jamaah Kholwah diantaranya,
1. Permudahlah saudaramu niscaya engkau dipermudah Allah.
2. Doakanlah saudaramu niscaya engkau akan di doakan Allah.
3. Janganlah butuh pada apapun dan siapapun kecuali pada Allah dan masih banyak lagi pesan-pesan tersurat maupun tersirat dari beliau.

Hingga di usia yang ke 54 tahun, tepatnya pada tanggal 06 Desember 2017 sekitar jam 04:16 wib, segenap keluarga, santri dan masyarakat dikejutkan dengan wafat dan berakhirnya kepemimpinan beliau dalam mempersatukan ummat di dunia ini.

Banyak orang terutama santri, yang merasa kehilangan sosok kharismatik sang waliullah yang penuh welas asih ini. Jutaan bulir air mata tampak jelas mengiringi perjalanan jasad Gus Huddi menuju liang lahat.

Namun, kesedihan santri dan ummat tersebut, sedikit mendapat angin segar manakala, Gus Yahya putra gus Hudi ini telah siap melanjutkan perjuangan ayahandanya dalam mengaplikasikan wujud Bai’at kepada segenap generasi santri Baiturrohmah. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here