Beranda legenda Asumsi dan Legenda Candi Gedhong Putri Sosok Ratu Rupawan

Asumsi dan Legenda Candi Gedhong Putri Sosok Ratu Rupawan

0
950

Candi Gedhong Putri yang terletak di kaki gunung api aktif Semeru Dusun Selorejo Desa Kloposawit Kecamatan Candipuro Provinsi Jawa Timur ini, sangat erat kaitannya dengan keberadaan Goa Maling Aguno yang terletak di Desa Sumberejo berada di belakang pasar Candipuro. Candi yang merupakan sebuah komplek dengan terdiri dari tumpukan batu bata merah dan beberapa batu andesit ini, di sekitarnya banyak dijumpai hamparan batuan vulkanik warisan letusan gunung semeru beberapa abad silam.

Nama gedhong putri sendiri diambil dari seorang ratu yang berkuasa kala itu. Sedangkan Goa Maling Aguno adalah sebuah goa atau terowongan bawah tanah yang dipercaya tembus ke Candi Gedhong Putri bahkan ada yang menyebutnya sampai ke utara pulau Jawa.

Menurut keterangan tokoh masyarakat konon di wilayah ini hiduplah seorang putri yang cantik rupawan dengan rakyat yang hidup sejahtera (sampai sekarang belum diketahui siapa nama putri yang dimaksud). Sang putri tersebut mempunyai beberapa pengawal tangguh yang berdiri di sekitar kerajaan. Pengawal yang siap melindungi sang putri dari ancaman orang-orang jahat, bahkan diantara pengawal itu berasal dari golongan makhluk ghaib atau jin. Suatu ketika, ada seorang pemuda bernama Maling Aguno yang tertarik dengan kecantikan sang putri. Pemuda itu dikenal sebagai orang yang suka menculik putri-putri bangsawan kerajaan, olah karena itu orang menyebutnya Maling Aguno. Beberapa kali pemuda itu berusaha mendapatkan sang putri, tapi berkat perlindungan dari pengawal yang tangguh usahanya selalu gagal. Karena usahanya tidak pernah berhasil Maling Aguno pun berniat menculik putri melalui lubang rahasia di dalam tanah. Maka, dibuatlah terowongan bawah tanah sepanjang puluhan kilometer. Tepat berada di bawah kerajaan snga ratu. Maling Aguno membuka jalur terowngannya, sehingga berhasil memasuki wilayah kerajaan tanpa sepengetahuan pengawal kerajaan. Singkat cerita, akhirnya sang putri berhasil diculik oleh Maling Aguno.

Bila kita membaca cerita di atas, dibenak kita muncul beberapa pertanyaan yang belum kita ketahui. “Siapa sosok putri yang ada dalam cerita di atas? Apakah ada fakta sejarahnya?”. Beberapa ahli sejarah mengatakan bahwa cerita legenda yang beredar dimasyarakat mempunyai kelayakan untuk dijadikan referensi penelitian. Hingga saat ini sudah beberapa kali arkeolog dan ahli sejarah telah melakukan penelitian terhadap situs Candi Gedhong Putri. Menurut beberapa sumber Candi Gedhong Putri pertama kali ditemukan tahun 1897 oleh pencari kayu. Kalau dilihat dari banyaknya batu-batu besar di sekitar candi, maka dapat disimpulkan bahwa candi ini hancur karena letusan gunung semeru.

Menurut beberapa ahli sejarah, di wilayah Candipuro ini dipercaya menjadi titik awal peradaban masyarakat Lumajang Kuno. Hal ini dibuktikan dengan membandingkan umur batu bata yang lebih tua dibandingkan umur batu bata di situs lain yang terdapat di Lumajang. Bukti lain yang dapat meyakinkan hal tersebut yaitu di dalam Prasasti Mula Malurung yang dibuat masa Raja Nararyya Seminingrat dari Kerajaan Singosari berangka tahun 1255 yang berbunyi “siro nararyya kirana saksat atmadja nira nararyya sminingrat pinratista juru lamajang, pinasangaken jagat palaka, ngkaning nagara lamajang” Artinya : Beliau Nararyya Kirana semata-mata putra beliau Nararyya Sminingrat, ditetapkan sebagai juru di Lamajang, dipasangkan menjadi pelindung dunia Di Negara Lamajang. Dari sinilah penetapan tahun kelahiran Kota Lumajang, jadi bila saat ini tahun 2012, dikurangi dengan tahun 1255, maka umur kota Lumajang sekarang adalah 757 tahun.

Kembali ke pertanyaan diatas. “Siapa sosok putri dalam cerita legenda tersebut?”. Jika ditelusuri bahwa, adanya hubungan antara keberadaan Candi Gedhong Putri dengan prasasti Mula Malurung. Maka, untuk menjawab pertanyaan di atas, sekarang kita bahas hal-hal yang berhubungan dengan perempuan. Pertama, dalam prasasti tertulis nama “Kirana” mencerminkan simbol perempuan yang artinya cahaya bulan / wulan. Kedua, terdapat yoni bermotif ukiran naga yang berwajah feminim mencerminkan sosok perempuan yang menjadi ratu. Tidak seperti naga pada umumnya yang berwajah garang, penuh amarah yang merupakan simbol naga jantan. Peneliti sudah berasumsi bahwa Nararyaa Kirana adalah penguasa gedhong putri ratusan tahun silam. Sehingga dapat dimungkinkan bahwa sosok putri yang ada dalam legenda rakyat candipuro adalah perempuan yang terdapat dalam prasasti tersebut yaitu “Putri Kirana”.

Mengenai sosok siapa itu Maling Aguno? Berasal dari mana? Benarkan gua itu adalah buatan tangan manusia atau hanya terbentuk dari proses alam? untuk saat ini belum ada referensi yang bisa menjelaskan. Pasalnya beberapa daerah di Pulau Jawa juga memiliki Legenda Maling Aguno dengan watak yang berbeda, yaitu menculik putri-putri bangsawan dan ada juga yang berwatak kesatria. Jadi Maling Aguno itu siapa? Belum adanya data lengkap yang mampu memecahkan misteri sosok Maling Aguno.

Dari berbagai sumber, sejarah-budaya.com merangkum data hingga dapat menyimpulkan sebuah Opini tentang keberadaan situs ini.

Melihat keberadaan situs batuan vulkanik yang tersebar di areal persawahaan, adalah bukti nyata bahwa pernah terjadi banjir dahsyat di wilayah tersebut. Sepanjang 2 km dari arah Candipuro menuju ke arah Desa Kloposawit banyak sekali dijumpai batu-batu besar. Bahkan beberapa batuan berukuran sangat besar yang diperkirakan berbobot ribuan ton.

Bila batu berukuran 2 x 2 meter atau lebih bisa bergerak sejauh puluhan kilometer, maka kekuatan derasnya air bisa mencapai ratusan juta meter kubik per detik. Bisa bayangkan bila manusia olahraga arung jerang disana. Kalau melihat kekuatan air yang maha dahsyat seperti itu, bangunan yang terbuat dari beton sekalipun pasti hancur tidak mungkin bangunan yang hanya terbuat dari batu bata bisa selamat. Dalam benak tentu bertanya kenapa batuan besar yang berbobot ratusan ton bisa amburadul (istilah jawanya semburat) sementara situs Candi Gedhong Putri yang hanya terbuat dari batu bata merah bisa terselamatkan oleh hantaman banjir gunung semeru?walaupun bagian kecil yang selamat!

Jawaban yang didapat setelah adanya pertanyaan ini melalui media jejaring sosial adalah karena kualitas batu bata merah saat itu terbilang cukup baik. Bisa kemungkinan sudah ada upaya penyelamatan oleh masyarakat di zaman itu. Setelah banjir selesai, selang beberapa tahun kemungkinan beberapa orang yang selamat dari hantaman banjir melakukan pencarian sisa-sisa batu bata untuk dikembalikan ke tempat semula. Dapat dilihat saat ini tidak ada susunan batu bata yang tertata rapi, melainkan hanya ditumpuk-tumpuk saja. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan