Beranda agama Karomah Telunjuk Bercahaya Syekh Nawawi Al-Bantani Mampu Memberi Cahaya di Indonesia

Karomah Telunjuk Bercahaya Syekh Nawawi Al-Bantani Mampu Memberi Cahaya di Indonesia

0
1869

Ulamak legendaris Nusantara ini bernama lengkap, Abu Abdul Mu’thi Muhammad Nawawi bin ‘Umar bin Arabi al-Jawi al-Bantani. Ia dilahirkan pada tahun 1230 H/1813 M di Tanara, serang, Banten. Jika diruntun Ia masih punya hubungan nasab dengan Maulana Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati (Cirebon).

Pada usia 15 tahun, Nawawi muda pergi belajar ke Tanah Suci Mekkah, karena saat itu Indonesia yang namanya masih Hindia Belanda dijajah oleh Belanda, yang membatasi kegiatan pendidikan di Nusantara. Beberapa tahun kemudian, ia kembali ke Indonesia untuk menyalurkan ilmunya kepada masyarakat.

Tak lama ia mengajar, hanya tiga tahun, karena kondisi Nusantara masih sama, di bawah penjajahan oleh Belanda, yang membuat ia tidak bebas bergiat. Ia pun kembali ke Makkah dan mengamalkan ilmunya di sana, terutama kepada orang Indonesia yang belajar di sana.

Banyak sumber menyatakan Syekh Nawawi wafat di Makkah dan dimakamkan di Ma’la pada tahun 1314 H/1897 M, namun menurut Al-A’lam dan Mu’jam Mu’allim, dua kitab yang membahas tokoh dan guru yang berpengaruh di dunia Islam, ia wafat pada tahun 1316 H/1898 M.

Adapun Peran strategis Syekh Nawawi Al-Bantani di dunia dan Indonesia adalah beliau satu dari tiga ulama Indonesia yang mengajar di Masjid Al-Haram, Makkah Al-Mukarramah pada abad ke-19 dan awal abad ke-20. Dua yang lain ialah muridnya, Ahmad Khatib Minangkabau dan Syekh Mahfudz Termas. Ini menunjukkan bahwa keilmuannya sangat diakui tidak hanya di Indonesia, melainkan juga di semenanjung Arab.

Syekh Nawawi sendiri menjadi pengajar di Masjid al-Haram sampai akhir hayatnya yaitu sampai 1898, lalu dilanjutkan oleh kedua muridnya itu. Wajar, jika ia dimakamkan berdekatan dengan makam istri Nabi Muhammad, Khadijah ra di Ma’la.

Syekh Nawawi Al-Bantani mendapatkan gelar Sayyidu Ulama’ al-Hijaz yang berarti Sesepuh Ulama Hijaz atau Guru dari Ulama Hijaz atau Akar dari Ulama Hijaz. Yang menarik dari gelar di atas adalah beliau tidak hanya mendapatkan gelar Sayyidu ‘Ulama al-Indonesia sehingga bermakna, bahwa kealiman beliau diakui di semenanjung Arabia, apalagi di tanah airnya sendiri.

Selain itu, beliau juga mendapat gelar al-imam wa al-fahm al-mudaqqiq yang berarti Tokoh dan pakar dengan pemahaman yang sangat mendalam. Snouck Hourgronje memberi gelar “Doktor Teologi”.

Syekh Nawawi, selain diketahui merupakan salah satu keturunan Syarif Hidayatullah yang lebih dikenal sebagai Sunan Gunung Jati dari Cirebon. Dia juga merupakan kakek buyut dari KH Ma’ruf Amin, Ketua Rais Aam Nahdlatul Ulama (NU) yang juga Ketua Umum Majelis Ulama Indonesia (MUI).

Dengan adanya nazab dari waliulah, tak ayal Syekh Nawawi memiliki berbagai karomah dari Allah. Pada masa menetap di Mekkah kepiawaiannya dalam ilmu agama, terutama tentang tauhid, fiqih, tafsir, dan tasawwuf sangat menonjol dan karena itulah dia ditunjuk sebagai Imam Masjidil Haram pengganti imam sebelumnya Syekh Achmad Khotib Al-Syambasi. Sejak itulah dia dikenal dengan nama Syekh Nawawi al-Bantani.

Disini karomah Syekh Nawawi al Bantani kembali nampak. Dimana jari telunjuknya mengeluarkan cahaya seperti lampu disaat kegelapan melanda ketika dia mengarang kitab Maraqi al-Ubudiyyah syarah Matan Bidayah al-Hidayah.

Ketika itu Syekh Nawawi dalam perjalanan dengan unta yang tanpa penerangan namun disaat itu inspirasi untuk mengarang kitab sedang menguat. Lalu Syekh Nawawi berdoa memohon kepada Allah SWT agar telunjuk kirinya dapat menjadi lampu menerangi jari kanannya yang untuk menulis. Telunjuknyapun mengeluarkan cahaya seperti lampu yang menerangi kegelapan.

Dari kelebihan karomah yang dimilikinya tersebut, banyak ulamak Nusantara, salah satunya KH. Abdurrahman Wahid (Gus Dur) pernah berkata, “Suatu saat cahaya di telunjuk beliau, akan menjadi penerang kegelapan di Tanah asalnya (Indonesia)”.

Nama Syekh Nawawi semakin mashyur sehingga banyak muridnya yang di belakang hari menjadi ulama besar, misalnya KH Hasyim Asyari (Pendiri Nahdhatul Ulama), KH Ahmad Dahlan (Pendiri Muhammadiyah), Syekh KH Mas Abdurahman (Pendiri Mathla’ul Anwar), KH Kholil Bangkalan, dan KH Asnawi Kudus. Para Ulama Indonesia menggelarinya sebagai Bapak Kitab Kuning Indonesia.

Syekh Nawawi wafat di Mekah pada 25 Syawal 1314 H/ 1897 M. Tapi ada pula yang mencatat tahun wafatnya pada tahun 1316 H/ 1899 M. Makamnya terletak di Pekuburan Ma’la di Mekah. Makam dia bersebelahan dengan makam anak perempuan dari Sayyidina Abu Bakar Ash-Shiddiq, Asma binti Abu Bakar al-Siddiq.

Karomah yang lain, tampak saat beberapa tahun setelah dia wafat, makamnya akan dibongkar oleh Pemerintah Arab Saudi untuk dipindahkan tulang belulangnya dan liang lahatnya akan ditumpuki jenazah lain (sebagaimana lazim Pemakaman di Ma’la).

Saat itulah para petugas mengurungkan niatnya, sebab jenazah Syekh Nawawi (beserta kafannya) masih utuh walaupun sudah bertahun-tahun dikubur.

Tidak kurang satu apapun, tidak lecet atau tanda-tanda pembusukan seperti lazimnya jenazah yang telah lama dikubur. Bahkan kain putih kafan penutup jasad dia tidak sobek dan tidak lapuk sedikitpun.

Terang saja kejadian ini mengejutkan para petugas. Mereka lari berhamburan mendatangi atasannya dan menceritakan apa yang telah terjadi.

Setelah diteliti, sang atasan kemudian menyadari bahwa makam yang digali itu bukan makam orang sembarangan sehingga, makam beliau hingga kini tidak dipindahkan. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan