Arum Kusuma, Menikah Rasa Pacaran Hingga Akhir Hayat

0
600

Disuatu desa terpencil hiduplah sosok gadis cantik, pandai dan taat dalam menjalankan perintah dan larangan agama bernama Arum Kusuma.

Gadis yang mendapat predikat sebagai bunga desa ini, hidup bersama kedua orangtuanya dengan kondisi ekonomi yang serba terbatas. Walau demikian sebagai gadis desa Arum Kusuma tetap tampak memiliki kepribadian hidup yang selalu optimis. Sebagai bunga desa, tak hayal jika cukup banyak lelaki yang mendambakan gadis ini sebagai istrinya. Usaha demi usaha juga persainganpun tampak menghias desa tersebut untuk mendapatkan sang bunga desa. Namun, dari sekian banyak lelaki yang berusaha mendapatkan Arum, tidak satupun yang berhasil meluluhkan hati wanita ini.

Karena, dalam keseharianya arum sudah mengenal tabiat dan kelakun dari segenap pemuda yang berusaha mendekatinya. Dimata Arum, mereka semua hanya memandang Arum dengan nafsu semu belaka, tidak didasari dengan niat tulus berumah tangga guna mlengkapi ibadah.

Sedang Arum sendiri mendambakan sosok lelaki yang minimal kualitas ibadahnya sama dengan dirinya. Hal ini diyakini Arum bahwa, walu ada salahnya setiap perbuatan suami jika diimbangi dengan kualitas ibadah yang cukup, niscaya tetap akan membawa ketentraman bagi istri dan anaknya.

Hingga tak terasa demi mendambakan suami yang sesuai harapan, umur Arum kian bertambah dan gadis-gadis seusianya sudah banyak yang menimang bayi namun, Arum belum juga mendapatkan tambatan hatinya. Kondisi yang demikia, membuat ayah dan ibu Arum kian mendesak agar anaknya tersebut segera menentukan sikap untuk berkeluarga. Dari desakan orang tuanya, hidup Arum terlihat gundah gulana tidak seperti hari-hari sebelumnya. Satu sisi merasa terdesak oleh orang tua agar segera menikah, disisi lain tidak ada satupun lelaki yang sesuai dengan harapannya.

Baca Juga:  Budaya Sedekah Bumi, Halal Haram Hanyalah Sudut Pandang

Disaat beginilah membuat Arum melakukan berbagai usaha agar dapat dipertemukan segera dengan jodohnya. Mulai dari bertanya informasi kepada sanak famili, tetangga, dan teman, juga yang paling konyol menulis surat botol dan dilarung ke lautpun ia lakukan. Hal ini dilakukan semata agar dirinya dapat segera bertemu jodoh dan berangkat ke pelaminan. Namun, dari berbagai usaha yang dilakukan tersebut, tidak satupun dapat membuahkan hasil.

Hingga pada suatu malam, saat Arum berada dalam posisi lelah tak berdaya juga putus asa, dia menangis seraya bersimpuh memohon pertolongan pada sang pencipta. Dia menganggap sudah tidak ada lagi usaha yang dapat dilakukan kecuali hanya berpasrah pada Tuhan.

Dari khusyuknya menangis dan mengharap jalan dari Tuhan, tidak terasa bahwa Arum telah bersimpuh selama dua hari tidak makan dan minum, hingga ia tertidur dan dibangunkan oleh ayahnya.

Tidak memerlukan waktu lama dari ia berpasrah pada sang pencipta, datanglah sosok lelaki yang sebelumnya tidak pernah Arum kenal, dimana lelaki tersebut bermaksud melamar Aruma kepada orang tuanya.

Singkatnya walau tidak saling kenal, Arum tidak kuasa menolak lamaran tersebut dikarenakan ayah dan ibunya terlihat sudah sangat mendambakan menantu. Usai prosesi lamaran, menikahlah keduanya dalam upacara perkawinan yang ala kadarnya.

Seiring berjalannya waktu, rasa cinta keduanya mulai perlahan tumbuh dan tampak tercipta keharmonisan seiring mengenalnya watak masing-masing. Setelah mengenal watak dari suaminya tersebut, Arum bersyukur walau jauh dari kata sempurna, suaminya kini ternyata sosok yang juga taat dalam beribadah. Hal ini pulalah yang membuat Arum makin menumbuhkan rasa sayang terhadap suaminya begitupun juga sebaliknya.

Kehidupan rumah tangga pengantin baru ini, tampak begitu bergairah dan pebuh dengan kecerian di setiap hari yang terlalui. Hingga pada suatu malam menjelang tidur Arumpun bertanya kepada sang suami. “Akankah rasa keceriaan dan gairah ini dapat kita pertahankan hingga kelak diakhir usia ini kanda..?,” tanya Arum.

Baca Juga:  Kearifan Nun Kalaim Genggong Teladan Hidup Makmur Dunia Akhirat

Mendengar pertanyaan tersebut sang suami tak langsung menjawab, dia menghela nafas panjang dan tersenyum mesra menatap Arum.

“Pada sebelumnya engkau telah bercerita tentang jirih payah usaha perjuanganmu dalam meminta jodoh kepada Tuhan. Jika dirimu yakin akulah jawaban Tuhan tersebut maka, seharusnya engkau tak perlu risau, sang pencipta pasti akan selalu menjaga keharmonisan rumah tangga ini. Terlepas dikemudian hari ada selisih paham yang mengganggu keharmonisan kita, anggaplah itu sebuah anugrah pula dari tuhan untuk menaikkan kuwalitas keimanan kita kepadanya. Untuk berusaha menjaga agar rumah tangga ini selalu terasa bagai pengantin baru, hendaknyalan kita saling menanam rasa percaya diantara kita dan dapat saling menjaga amanah percaya tersebut dengan segenap jiwa.

Selain itu dalam menjaga keharmonisan walau usia perkawinan sudah udzur, kamu dan aku harus tetap memiliki rasa gairah muda dan menyingkirkan perasaan udzur tadi. Dengan demikian walau kelak kita sudah lanjut usia, kita tetap merasakan suasana pengantin baru sayangku,” terangnya.

Mendengar ucapan sang suami, Arum tersenyum manis dan menjawab dengan sedikit candaan. “Jika dapat begitu saya bersyukur Tuhan sudah memberikan anugrah Menikah Rasa Pacaran hingga akhir hayat, bukankah begitu wahai kandaku,” jawab Arum.

Mendapat jawaban tersebut, sang suami kembali tersenyum dan mengecup kening Arum hingga keduanya beranjak tidur mengarungi gelapnya kamar dimalam yang sunyi. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here