Kiai Singo Wulung Awal Macan Kaddu’ di Bondowoso

0
2582

Ronteg Singo Ulung merupakan kesenian tari yang menggunakan topeng barongan ini merupakan seni tradisional asli dari Kabupaten Bondowoso Jawa Timur. Dengan kepala barong yang terbuat dari kayu dan badannya terbuat dari karung plastik ini biasa disebut warga sekitar dengan nama Can Macanan atau Macan Kaddu’ (bahasa madura red-). Dimana julukan ini memiliki arti Can Macanan berarti harimau mainan dan Kadduk berarti karung.

Tari tradisional ini diciptakan oleh leluhur bernama Jasiman dan Kiai Singo Wulung yang dihormati karena kearifan dan kesaktiannya. Dimana, sekitar 400 tahun yang lalu, Kiai Singo adalah pejuang yang datang dari ponorogo dan dipercaya masih merupakan keturuan dari kerabat bupati Ponorogo, Batoro Katong.

Dalam perjalanannya untuk dakwah islami, Kiai Singo Wulung berhenti di sebuah hutan yang masih lebat dan berteduh di sebuah pohon Belimbing untuk istirahat. Hingga kini daerah tersebut menjadi sebuah nama Desa Belimbing.

Kedatangan Kiai Singo Wulung membuat murka Jasiman atau Mbah Saman, yang merupakan penguasa hutan tersebut karena telah lancang memasuki wilayahnya. Singkat cerita, akhirnya terjadilah perkelahian sengit antara kiai singo wulung dan Jasiman dimana, dalam pertarungan tersebut keduanya menggunakan kayu rotan yang ada di hutan tersebut. Hinjgga sekarang, pertarungan tersebut diangkat menjadi seni budaya tari Ojhung.

Baca juga: Seni Ojhung Bondowoso

Jasiman sebagai penguasa hutan tidak mau mengalah, hingga pada saatnya Kiai Singo mengubah wujudnya menjadi “Sardula Seta” atau harimau Putih. Jasiman tidak mampu melawan Kiai Singo yang kian memojokannya dan tidak dapat berkutik hingga pada akhirnya Jasiman menyerah dan meminta pertarungan di hentikan.

Jasiman yang tidak tahu kedatangan Kiai Singo pun menjadi Sadar dan masuk agama Islam. Kiai Singo merupakan pendekar sakti yang sudah beragama islam yang ternyata satu perguruan dengan Jasiman. Pemandangan yang biasa manusia dengan ilmu tingkat tinggi mampu mengubah wujudnya menjadi siluman harimau. Hingga Jasiman menikahkan adiknya bernama Munawaroh dengan Kiai Singo dan berganti nama menadi Muslihah. Karena Kiai Singo di rasa cocok karena sangat sederhana dari penampilannyayang yang terkesan ulung baik dalam olah kanuragan maupun dari sisi agamanya.

Baca Juga:  Pesona Sejarah Padang Savana Cikasur Gunung Argopuro

Hingga pada suatu hari, Jasiman memiliki ide untuk menciptakan tari tradisional yang kini disebut tari Ronteg Singo Ulung yang dimainkan oleh dua orang seperti barong ponorogo atau reyog tradisional. Tarian ini telah diiringi dengan musik khusus khas Bondowoso yang dapat membuat penonton merasa heran dan mendapat efek mistis saat mendengar dan menyaksikannya.

Karena pada tahun 1806 terjadi imigrasi secara besar-besaran yang di lakukan oleh orang madura di wilayah tapal kuda, khususnya Bondowoso, terjadilah perubahan pula pada kesenian tersebut. Seperti julukan pada Kiai Singo menjadi “Juk Senga” dalam bahasa madura, serta musik pengiring menggunakan gamelan reyog menjadi arasemen madura dan pakaian warok ponorogo menjadi pakaian khas madura.

perkembangan Seni bersama-sama dengan seni Pojian, seni Ojung selalu dipertunjukkan pada upacara adat yaitu “Bersih Desa Blimbing” yang selalu diadakan setiap tahun (bulan Sya’ban / Ruwah). Di sisi lain, ini pertunjukan seni bisa dinikmati pada saat tahunan “Hari Jadi Bondowoso” tepatnya pada 16 Agustus.

Dalam kesenian Singo Ulung terdapat tokoh yang di perankan seperti,

Singo Ulung yang menggambarkan wujud Kiai Singo Wulung yang menjadi Harimau putih Panji yang menggambarkan Jasiman yang merupakan penguasa wilayah. Dua orang berkelahi menggunakan rotan menggambarkan pertarungan Jasiman dengan Kiai SIngo. Penari perempuan menggambarkan istri Kiai SIngo.

Berbagai sanggar memiliki presepsi sendiri seperti masih di gunakannya bahasa jawa dan pakaian warok pada kesenian singo ulung ini, di lain sanggar di gunakanlah bahasa dan pakaian madura. Tentu hal ini, merupakan suatu perkembangan kultur yang wajar terjadi disaat era baru mulai muncul. Namun yang demikian layaknyalah menjadi acuan bagi segenap elemen untuk tetap berjuang dalam menumbuh kembangkan kesenian di Nusantara ini. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here