Seni Ojhung Bondowoso, Lekat Erat Dengan Perjuangan Masa Lalu

0
1009

Budaya tari perang Ojhung merupakan sebuah seni tradisi yang hingga kini masih tetap dipertahankan warga di Kabuaten Bondowoso. Tari yang dapat dikatagorikan sebagai olah raga ini, dikenal sengat erat dengan kebudayaan seni barongan Singo ulung. Dimana Singo ulung sendiri, bukan dicipta melalui pemikiran warga masa kini namun, lebih mentradisikan sebuah peninggalan kesenian dari leluhur yaitu Mbah Singo Ulung.

Mbah Singo Ulung atau yang akrab dikenal warga sekitar Desa Blimbing, Kecamatan Klabang, Kabupaten Bondowoso sebagai Bujuk Sengah atau Juk Seng ini, cukup menjadi bukti kemurnian seni ojhung dan rontek singo ulung.

Seni Ojhung pada dasarnya merupakan tradisi yang bertujuan untuk meminta turun hujan agar kala itu, desa mereka tak mengalami kekeringan ketika musim kemarau panjang tiba.

Tradisi pertandingan saling memukul menggunakan rotan dengan peserta laki-laki yang berusia rata-rata antara 17 hingga 50 tahun ini, dibuka dengan pergelaran dua tarian yang masing-masing bernama tarian topeng kuna dan tarian rontek singo wulung.

Asal-usul dari dua tarian diatas sendiri konon bermula dari sebuah tokoh desa tersebut yang dianggap pahlawan pada masa lalu yakni Juk Seng karena kegigihannya dalam mengusir penjajah. Juk Seng pada masa itu adalah seorang demang yang dalam menjalankan tugasnya dibantu oleh pengikut setianya bernama Jasiman bersama murid-muridnya.

Konon pada masa itu, untuk membiayai perjuangannya melawan penjajah Juk Seng kerap ngamen dengan menggelar pertunjukan dua tarian tersebut. Dan karena warga tahu bahwa uang hasil dari ngamen itu akan digunakan sebagai penunjang perjuangan maka, warga pun tak segan untuk memberikan uang kepada mereka.

Begitu tarian topeng kuna dan tarian rontek singo wulung selesai digelar, barulah kemudian warga menyiapkan sesaji sambil membakar dupa di samping mata air yang ada di desa tersebut, guna memanjatkan doa keselamatan.

Setelah semua ritual selesai digelar barulah kemudian acar inti pun dilaksanakan yakni sebuah pertandingan saling memukul menggunakan rotan. Ketika wasit memberi aba-aba, semua peserta pun dengan tangkas saling memukul rotan yang dipegang lawannya secara bergantian.

Walau sama-sama mengadu rotan diantara keduanya, tak jarang rotan tersebut dapat mengenai tubuh masing-masing. Panasnya sekujur tubuh akibat dari pecutan rotan lawan inilah yang konon akan mendatangkan rasa iba pada sang pemilik kehidupan untuk segera menumpahkan air hujan agar segala panasnya badan dapat terbasuh.

Selain itu, dari rasa panas lebam dan behkan berdarah tersebut, dapat mengingatkan kita atas dosa dan perihnya siksa neraka. Sehingga dengan demikian, segenap peserta Ojhung, dapat lebih mendekatkan diri pada sang pencipta.

Walau demikian kayanya tradisi seni yang ada di Nusantara ini, untuk dapat lebih berkembang dan tetap lestari menjadi kultur budaya yang mendaging perlulah adanya partisipasi segenap lapisan dalam mengaplikasikannya. Terlebih adanya bantuan juga gagasan dari segenap elemen Pemerintahan yang seharusnya dapat membantu terwujudnya hal tersebut.

Baca juga: Gunung Putri Bondowoso

Jangan sampai, seni, budaya, sejarah dan kultur ini tenggelam tanpa bekas di negeri sendiri apa lagi sampai diakui bangsa lain. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here