Beranda Sejarah Bekal Laddunni dan Gelap Ngampar Jendral Soedirman

Bekal Laddunni dan Gelap Ngampar Jendral Soedirman

0
1330

Selain dikenal sebagai Pahlawan yang juga ikut dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI, Jendral Soedirman juga terkenal sakti dan memiliki segudang strategi perang juga firasat jitu semasa hidupnya. Hal ini dibuktikan pada sekitar tahun 1949 ketika saat itu Soedirman bergerilya melawan penjajah. Ketika Soedirman sampai di Gunung kidul, dirinya tidak mengizinkan pasukannya beristirahat lama-lama. Benar saja, beberapa saat kemudian, pasukan Belanda tiba di lokasi peristirahatan pasukannya. Hal ini sengaja dilakukan Soedirman yang dalam kondisi sakit, khawatir jika berperang, pasukannya akan kalah.

<<<<baca juga aji welut putih>>>>

Tidak hanya mahir dalam strategi berperang, ternyata Soedirman yang selalu menyamar sepanjang gerilya itu, dengan segenap kesaktiannya juga kerap diminta mengobati orang sakit. Hal ini diceritakan anak bungsunya yang pada saat itu di Pacitan, Soedirman dan pasukannya kelaparan karena tak menemukan makanan berhari-hari. Mau meminta kepada warga desa, takut ada mata-mata Belanda. Saat rombongan ini beristirahat, seorang penduduk menghampiri mereka dan meminta air mantra untuk kesembuhan istri lurah di situ.

Sang Panglima mengambil air dari sumur, lalu meniupkan doa. Ajaib, istri lurah yang terbaring sakit itu bisa bangun setelah minum air dari sang Jendral. Pak Lurah pun menyilakan Soedirman dan anak buahnya beristirahat.

Selain segudang kesaktian, SOEDIRMAN juga MEMPUNYAI KERIS sakti yang dipercaya dapat mENOLAK MORTIR. Hal ini diketahui pada saat desing pesawat membangunkan Desa Bajulan yang senyap, suatu hari di awal Januari 1949. Penduduk kampung di Nganjuk, Jawa Tengah, yang tengah berada di sawah, halaman, dan jalanan, itu panik masuk ke rumah atau bersembunyi ke sebalik pohonan. Warga Nganjuk tahu itu pesawat Belanda yang sedang mencari para gerilyawan dan bisa tiba-tiba memuntahkan bom atau peluru.

Baca Juga:  Selamatkan Aset Negara, Benarkah Supriyadi Lari ke Bondowoso..?

Tak kecuali Jirah. Perempuan 16 tahun itu gemetar di dapur seraya membayangkan gubuknya dihujani peluru. Di rumahnya ada sembilan laki-laki asing tamu ayah angkatnya, Pak Kedah, yang ia layani makan dan minum. Meski tak paham siapa orang-orang ini, Jirah menduga mereka yang sedang dicari tentara Belanda. Sewaktu pesawat mendekat, dia melihat seorang yang memakai beskap duduk di depan pintu dikelilingi delapan lainnya. “Saya mengintip dan menguping apa yang akan terjadi dari dapur,” kata Jirah.

Lelaki pemakai beskap yang oleh semua orang dipanggil ”Kiaine” atau Pak Kiai itu mengeluarkan keris dari pinggangnya. Keris itu ia taruh di depannya. Tangannya merapat dan mulutnya komat-kamit merapal doa. Ajaib. Keris itu berdiri dengan ujung lancipnya menghadap ke langit-langit. Kian dekat suara pesawat, kian nyaring doa mereka.

Keris itu perlahan miring, lalu jatuh ketika bunyi pesawat menjauh. Kiaine menyarungkan keris itu kembali dan para pendoa meminta undur diri dari ruang tamu. Kepada Jirah, seorang pengawal Kiaine bercerita bahwa keris dan doa itu telah menyamarkan rumah dan kampung tersebut dari penglihatan tentara Belanda.

Dari curi-dengar obrolan para tamu dengan ayahnya itu, Jirah samar-samar tahu, orang yang memakai beskap bertubuh tinggi, kurus, dan pendiam dengan napas tercekat yang dipanggil Kiaine tersebut adalah Jenderal Soedirman.

Waktu itu Panglima Tentara Indonesia ini sedang bergerilya melawan Belanda, yang secara resmi menginvasi kembali Indonesia untuk kedua kalinya tiga tahun setelah Proklamasi. Jirah ingat, rombongan yang itu berjumlah 77 orang, datang ke Bajulan pada Jumat Kliwon Januari 1949. Di rumahnya, Soedirman ditemani delapan orang, antara lain Dr Moestopo, Tjokropranolo, dan Soepardjo Roestam. Yang lain menginap di rumah tetangga.

Baca Juga:  Banyak Yang Belum Tahu, Dalamnya Makna Simbolis Dhapur Brojol

Selama lima hari di Bajulan, tak sekali pun Belanda menjatuhkan bom atau menembaki penduduk. “Itu berkat keris dan doa-doa,” kata Jirah. Soedirman seolah-olah tahu tiap kali Belanda akan datang mencarinya. Karena itu, operasi Belanda mencari buron nomor wahid tersebut selalu gagal.

<<<baca juga keris sodo lanang kinasih sunan kalijaga>>>>>

Menurut Kiyai Murtodo, keris jendral Soedirman tersebut merupakan keris “Kyai Gelap Ngampar” pemberian kanjeng ratu kidul, yang diperolehnya saat Jendral Soedirman melakukan tapa brata di pantai Parang Kusumo. Selain Gelap Ngampar, Soedirman dalam laku prihatinnya di Parang Kusumo, juga dipercaya mendapatkan pengajaran ilmu kesaktian Laddunni langsung dari Syekh Abdul Kodir Al-Jailani. Dimana, ilmu tersebut berfungsi dapat mengetahui suatu kejadian yang belum terjadi, orang jawa biasa menyebutnya “weruh sa’durunge winarah” atau tau sebelum diberi tau.

<<<baca juga kupas laduni weruh sadurunge winarah>>>>

Dengan berbagai kemampuan dan beberapa pusaka sakti tersebutlah Soedirman dipercaya dapat menjalankan tugasnya dengan penuh tanggung jawab dan keberhasilan. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here