Gus Daud Mendaftar Jadi Tuhan Kepada Kyai Rekso Hingga Memperoleh Ikhlas

0
762

Suatu ketika disebuah perkampungan penduduk, hiduplah seorang linuwih bernama Gus Daud, yang hidup sederhana bersama istri dan kedua putrinya. Gus Daud yang keseharianya berprofesi sebagai penulis sastra, cukup berpengaruh dan dibutuhkan pemikirannya oleh berbagai kalangan. Dari mulai kaum duafa bahkan pejabat penting negarapun kerap kali terlihat namu dan bertukar fikiran dengan Gus Daud.

Pemikiran-pemikiran cemerlang yang kerap menjadi inspirasi tersebut, cukup membuatnya sedikit tenar dalam berbagai perhelatan acara. Bagaimana tidak tenar, pemikiran nyentrik yang terkesan menyerupai ramalan dari Gus Daud rata-rata terbukti di setiap akhir permasalahan. Seperti misalnya, suatu hari datanglah seorang pimpinan Partai Politik kerumahnya. Tokoh Parpol tersebut meminta saran, bagaimana dirinya akan lolos dalam suatu pemilihan bupati di daerah tersebut.

Tokoh parpol: Ghus, bagaimana saran dan pendapat njenengan terkait pencalonan saya?

Gus Daud diam sejenak seraya menyedot sebatang rokok kreteknya. Baru menjawab setelah dia menyemburkan asap dari mulut dan hidungnya.

Gus Daud: Menurut saya, selama andika memiliki niat murni dalam memperjuangkan perubahan lebih baik, saya rasa niat pencalonan itu akan menjadi tujuan mulia. Jika niat yang tujuannya mulia maka, strategi sudah gak perlu over atau muluk-muluk. Santai tetap bergerak dalam kebaikan tidak perlu menjatuhkan lawan dan yang terpenting jangan mengubah kultur masyarakat yang sudah tampak arif. Dengan seperti itu, andika sudah bermanufer politik dengan jalan kebaikan.

Dan saran saya terkait gerakan dukungan, cobalah andika lebih sering berkampanye dari pintu kepintu terutama pada masyarakat pedesaan terpencil. Sebab, jika kaum pinggiran sudah bisa dibuat jatuh hati niscaya, energi positifnya akan tertular pada masyarakat pusat kota.

Tidak disangka, ternyata Tokoh Parpol itu menjalankan semua pentunjuk Gus Daud dan benar saja, dalam berkampanye dari pintu ke pintu itulah sang tokoh parpol memperoleh banyak simpatik dan dukungan dari setiap kepala yang ditemuinya, hingga mampu mengantarnya duduk di kursi yang dicita-citakannya.

Dari keahlian berfikir yang dianggap jitu tersebut Gus Daud terlanda kedholiman yang membuatnya berubah sifat. Dari semula asor, pendiam dan arif kini, Gus Daud berubah menjadi sombong, angkuh dan terkesan tidak mau kalah dalam setiap perdebatan.

Cukup lama perubahan sifat tersebut melanda Gus Daud, hingga sanak saudara teman sejawatnya satu persatu meninggalkannya. Disinilah awal gus Daud menjadi risau, berhari-hari menjadi murung dan tampak putus asa. Hingga anak istrinyapun sudah tampak tidak diperhatikannya. Setiap istrinya berbicara, Gus Daud selalu merasa tersinggung dan akhirnya marah. Makin hari tampak kondisi Daud semakin memprihatinkan.

Hingga pada akhirnya beberapa hari dia menangis tersedu-sedu sampai lelah dan tertidur. Saat tertidur inilah di suatu malam Gus Daud mimpi bertemu kakek buyutnya, dalam mimpi tersebut sang kakek menyuruh Daud menemui teman kakeknya semasa muda dulu, untuk menimba ilmu kepadanya. Namun, petunjuk tentang siapa nama, dimana tempatnya belum sempat diketahui hanya ada isyarat untuk berjalan ke arah utara dan samar-samar melihat wajah teman kakeknya tersebut. Gus Daudpun keburu terbangun dari mimpinya.

Namun dengan segenap tekat dan kepasrahan, pagi harinya Gus Daud berpamit kepada anak istrinya untuk menunaikan tugas dari kakeknya itu.

Seharian Daud berjalan kaki kearah utara dan beberapa kali bertanya kepada orang yang ditemuinya namun, tidak ada satupun yang dapat dijadikan pentunjuk pada apa yang dicarinya. Barulah saat hampir senja, terlihat sayup seorang nenek janda tua yang berjalan menggendong beberapa bilah kayu bakar. Ketika daud sudah berhadapan dengan nenek tersebut, Daud merasa iba dan meminta beban di punggung nenek itu untuk dipanggulnya.

Singkatnya, dipanggullah beberapa potong kayu itu oleh Daud. Dalam perjalanan menuju rumah sang Nenek, Daud sempat berbincang menanyakan sosok arif dalam mimpinya itu, dengan detil Daud menceritakan ikhwal mimpinya kepada nenek. Hingga tidak terasa sampailah Daud didepan rumah nenek tadi. Seraya menaruh beberapa ikat kayu tadi. Sang nenek yang tampak hanya diam saja dalam perjalanan, lalu mengucapkan terima kasih kepada Daud.

Usai berterima kasih nenek tadi berucap, “mungkin seorang arif yang cucu cari ada di balik bukit itu” ucapnya seraya menunjuk ke arah utara. “Disana ada sebuah tanah lapang yang luas dan separuh dari tanah lapang itu ada sebuah bangunan mewah yang dihuni oleh satu orang raksasa dan beberapa santrinya,” ucapnya seraya meninggalkan Daud masuk ke dalam biliknya.

Tanpa berfikir panjang Daud bergegas menuju rumah yang dimaksud. Dia berjalan setengah berlari, difikirnya takut kemalaman ditengah jalan. Namun walau disela perjalanan Daud kadang berlari, sepertinya tempat yang dituju tampak semakin menjauh darinya. Hingga pada sekitar tengah malam, Daud sampai juga dilatar rumah mewah bertingkat 2 dan disambut oleh beberapa orang santri.

Benarkah ini rumah Raksasa” kata Daud.
Santripun menjawab, “Ini rumah Kyai Rekso kisanak, bukan raksasa” kata santri yang menyambut Daud.

Santri: apakah kisanak Daud,?

Daud hanya mengangguk, tercengang dan heran, “bagai mana ia tau namaku, padahal aku sama sekali tidak mengenalnya” gumam Daud dalam hati.

Santri: sebentar saya beritahukan kepada Kyai, andika sudah lama ditunggu.

Dalam benak Daud, seraya menunggu kedatangan Kyai Rekso, membayangkan bahwa kyai rekso adalah sosok tua renta yang sebaya dengan almarhum kakek buyutnya.

Setelah Kyai Rekso keluar menemui Daud, tercenganglah Daud bak sapi dicocok hidungnya. Bagaimana tidak, sosok yang dibayangkan dalam angannya salah total. Kyai Rekso ternyata sangat muda, tampak tinggi besar kumis tipis dan sangat anggun rupawan.

Dengan penuh senyuman, Kyai Rekso menjabat tangan Daud seraya berkata, “engkau mirip dengan kakekmu Ud, ayo masuk kedalam” sapanya.

Setelah sampai didalam bilik tamu, Daud disuguhi wedang Jahe dan pisang rebus. Sambil menawarkan suguhan tadi, Kyai Rekso mulai mewejang Daud dengan suasana santai namun penuh kesakralan.

Kata Kyai Rekso, “Sungguh aku menangis saat melihat dirimu terjangkit penyakit, serakah, sombong, dan merasa aku.

Begini anak muda, seseorang akan menjadi serakah manakala ia masih takut kehilangan dan seorang akan menjadi tamak mana kala ia masih merasa butuh. Ketika engkau benar-benar percaya bahwa hidup ini rencana Tuhan maka buanglah jauh-jauh rasa takut kehilangan dan merasa butuh tadi. Sebab, jika engkau benar-benar ikhlas percaya kepada Tuhanmu, rasa takutmu sudah akan ditanggung olehnya dan segala kebutuhanmu sudah akan dipenuhinya. Dan jadilah engkau sosok yang selalu rendah hati dihadapan sesamamu,” terang kyai Rekso.

Seraya tercengang Daud tampak terdiam bagai dibalut selimut salju yang dinginnya merasuk ke seluruh organ terkecil tubuhnya. Daud berfikir bagaimana kyai ini bisa tau akan problem yang saya alami,?

Kyai Rekso: Aku tidak akan banyak memberikan sesuatu kepadamu namun, aku hanya berharap engkau dapat berfikir,. Jika kau sudah percaya hidupmu atas rencana Tuhan lalu apa gunanya engkau sebagai hamba ikut berencana?… “jika seorang hamba ikut berencana maka, bagiku hamba tersebut telah mendaftar menjadi Tuhan. Lalu, pertanyaanku sekarang kepadamu wahai anak muda. “Bolehkah seorang hamba mendaftar menjadi Tuhan?” tanya Kyai pada Daud.

Dengan penuh keyakinan Daudpun menjawab, “Tidak boleh kyai“.

Kyai Rekso: Kata siapa tidak boleh,? Daftar jadi Tuhan itu boleh – boleh saja. Namun, sekarang bukan masalah boleh atau tidak,! Akan tetapi, kira-kira hamba yang mana yang mampu menjadi Tuhan, sedang menjadi dirinya sendiripun terkadang masih kwalahan. Berpasrahlah akan semua rencana Tuhan dan yakinilah semua kodrat yang kau jalani dengan keyakinan yang penuh keikhlasan. Karena, ulat di dalam batu yang tidak bergerakpun sudah mampu hidup mulia atas rencana Tuhan. Jadikanlah Tuhanmu diatas segalanya dan jangan pernah engkau menyekutukan Tuhan dengan Pemikiran dan rencanamu,” ucapnya tegas, seraya menyuruh Daud ber Istirahat rebahan. “Tampaknta engkau lelah sekali, istirahatlah agar esok pagi tenagamu kembali pulih,”.

Saat Kyai Rekso beranjak meninggalkan Daud menuju bilik kamarnya, Daudpun membaringkan badannya hingga tak terasa ia tertidur pulas.

Keesokan paginya, Daud terbangun kebingungan. Bagaimana tidak, yang semalam Daud merasa tidur di bilik megah nan mewah di kediaman Kyai Rekso, kini dia terbangun malah berada di tanah lapang di tengah-tengah hutan belukar. Dia tidak lagi melihat kondisi seperti semalam, hanya didepannya tampak Wedang Jahe dan Pisang Rebus suguhan Kyai Rekso semalam.

Ditengah kebingungannya tersebut daud perlahan menyetabilkan rasa dan berusaha menerima apa yang terjadi juga berusaha menyadari bahwa ini semua merupakan rencana Tuhan sesuai petunjuk Kyai Rekso. Setelah Daud tenang, dia bergegas membawa suguhan dari Kyai Rekso semalam dan langsung menuju ke arah pulang. Dalam perjalanan pulang inilah Daud selalu tampak mengucap rasa syukur atas segudang ilmu Ikhlas yang telah dipelajarinya dari Kyai Rekso. Dia bertekad untuk senantiasa mengamalkan ilmu tersebut dalam setiap detak hidupnya. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here