Beranda agama Sejarah Sunnah Manasik Haji di Zaman Rasulullah SAW

Sejarah Sunnah Manasik Haji di Zaman Rasulullah SAW

1
1016

Manasik haji atau peragaan replika ibadah haji sesuai dengan rukun-rukunnya merupakan kegiatan latihan tentang tata cara pelaksanaan haji misalnya, rukun wajib dan sunnah haji maupun hal-hal yang tidak boleh dilakukan selama pelaksanaan berhaji. Selain itu, para calon jamaah haji juga akan belajar bagaimana cara melakukan praktik tawaf, sa’i, wukuf, lempar jumrah, dan prosesi ibadah lainnya dengan kondisi yang dibuat mirip dengan keadaan di tanah suci.

Nah kali ini sejarah-budaya.com akan sedikit mengupas terkait asal usul sejarah manasik haji yang dilakukan pertama kali oleh Nabi Muhammad SAW.

Pada tahun 10 Hijriyah atau 632 Masehi, di Semenanjung Arabia telah dipersatukan dibawah kekuasaan Nabi Muhammad SAW yang pusat pemerintahannya terletak di Madinah dan seluruh penduduknya pada saat itu telah memeluk agama Islam.
Maka pada awal bulan Syawal Rasulullah memberi pengumuman bahwa beliau sendiri yang akan memimpin dan mengajarkab tata cara Ibadah Haji pada tahun itu.

Kabar ini disambut hangat oleh seluruh ummat dari segala penjuru dunia. Sebab, mereka berkesempatan mendampingi Rasulullah dan menyaksikan langsung setiap langkah beliau dalam melakukan manasik haji.

Pada waktu itu Rasulullah SAW berangkat dari Madinah sesudah melaksanakan shalat Jum’at tanggal 25 Dzulkaidah (21 Februari) dengan mengendarai unta, beliau yang diberi nama Al Qashwa dengan diikuti jamaah yang begitu banyak yakni 30.000 jamaah.

Seluruh istri beliau pun ikut serta dan juga putri beliau yang saat itu masih hidup yaitu Fatimah. Sesampai di Dzulhulaifah (Birr ‘Aliy) yang berjarak belasan kilometer dari Madinah, Rasulullah dan rombongan akhirnya singgah untuk istirahat dan mempersiapkan untuk ihram.

Disini Istri Abu Bakar Ash Shiddiq melahirkan putranya yang diberi nama Muhammad. Abu Bakar berniat untuk mengembalikannya ke Madinah. Tetapi Rasulullah SAW mengatakan bahwa istri Abu Bakar cukup mandi bersuci saja, lalu memakai pembalut dengan rapi dan dapat kembali melakukan seluruh manasik Haji. Muhammad Bin Abu Bakar RA yang lahir di Dzulhulaifah itu kelak menjadi seorang Gubernur Mesir pada masa Khalifah Ali Bin Abi Thallib RA (656 – 661 M).

Baca Juga:  Alas Purwo Tempat Lahirnya Berbagai Ilmu, Bukan Tempat Pengabdi Kekayaan

Keesokan harinya, Sabtu 26 Dzulkaidah (22 Februari) setelah semuanya siap untuk berihram, Rasulullah SAW menaiki unta kembali, lalu bersama seluruh jamaah mengucapkan niat haji : Labbaika Allahumma Hajjan.

Tidak ada seorangpun yang berniat ibadah umrah sebab menurut tradisi saat itu ibadah umrah hanya dibolehkan diluar musim haji saja. Tiga cara haji yaitu Tamattu’, Ifrad dan Qiran yang kita kenal sekarang baru diterapkan Rasulullah di Mekah 8 hari berikutnya.

Lalu rombongan menuju ke Mekah dengan tiada henti selalu mengucapkan kalimat Talbiyah. Pada hari Sabtu 3 Dzulhijjah (29 Februari) Rasulullah dan rombongan pun tiba di Sarif, 15 km utara Mekah dan beristirahat.

Saat itu Aisyah RA istri Nabi kedatangan masa haid nya sehingga dia menangis karena dia khawatir tidak bisa menunaikan ibadah haji. Oleh karenanya Rasulullah SAW menghiburnya, “Sesungguhnya haid itu ketentuan Allah untuk putri-putri Adam. Segeralah mandi dan engkau dapat melakukan semua manasik haji, kecuali thawaf sampai engkau suci.”

Pada Ahad 4 Dzulhijjah (1 Maret) pagi, Rasulullah dan rombongan memasuki kota Mekah. Disana sudah banyak yang menunggu puluhan ribu ummat yang datang dari berbagai penjuru dan diperkirakan total jamaah haji yang datang waktu itu sudah mencapai lebih dari 100.000 jamaah. Rasulullah memasuki Masjidil Haram melalui gerbang Banu Syaibah yang terletak disamping telaga Zamzam di belakang Maqam Ibrahim. Gerbang Banu Syaibah ini kelak dikemudian hari populer dengan nama Baabussalam yakni Gerbang Kedamaian.

Perlu kita ketahui bahwa yang disebut Masjidil Haram pada waktu itu adalah pelataran Ka’bah dimana, tempat untuk melakukan shalat dan thawaf. Sedangkan bangunan masjid baru dirintis pada masa Khalifah Umar Bin Khattab RA (634 – 644 M) dan terus mengalami perluasaan dari zaman ke zaman sehingga akhirnya megah seperti sekarang ini.

Baca Juga:  Kiai Singo Wulung Awal Macan Kaddu' di Bondowoso

Perlu diketahui pula, bahwa Rasulullah tidak pernah memerintahkan ummatnya harus masuk Masjidil Haram dari gerbang banu Syaibah atau Baabussalam. Rasulullah masuk melalui pintu itu karena beliau datang dari arah utara. Gerbang yang dimasuki Nabi itu kini sudah tidak ada lagi.

Ketika pada tahun 1957 Masjidil Haram diperluas sehingga tempat Sa’i termasuk Shafa dan Marwa menjadi bagian dari Masjid. Kemudian pemerintah Arab Saudi membuat banyak pintu. Dua pintu diantaranya diberi nama Pintu Banu Syaibah dan Pintu Baabussalam.

Merujuk pada sejarah diatas dan diriwayatkan oleh Atturmuzi RA bahwa, hukum melakukan manasik haji juga merupakan suatu ibadah sunah yang pernah dilakukan oleh Rosulullah SAW. (dats)

1 KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here