Beranda budaya Lestarikan Tajin Sorah Tradisi Dari Sunan Kalijogo

Lestarikan Tajin Sorah Tradisi Dari Sunan Kalijogo

0
1600

Tradisi ungkapan rasa syukur dengan membuwat dan membagikan Tajin Sorah atau jenang suro di tahun baru Hijriyah yakni bulan Muharram atau bulan Suro, menjadi tradisi kebudayaan yang layak dilestarikan.

Bubur suro, terbuat dari nasi putih dicampur kuah santan kuning dengan lauk yang bervariasi, ada yang berisi lauk daging sapi, udang, ayam dengan taburan bawang goreng, dan kacang tanah goreng diatasnya.

Pada awal bulan Suro biasanya masyarkat Madura khususnya akan membuat Bubur Suro untuk selanjutnya membagikannya ke tetangga atau saudara dekat.

Tradisi ini, berawal pada zaman Nabi Muhammad yang untuk merayakan Muharram, dikeluarkanlah apa saja yang dimiliki, termasuk sisa-sisa makanan yang masih bisa dimakan untuk dibagikan kepada sanak saudara dan tetangga. Lalu hal ini dikembangkan oleh para waliullah dengan membuwat bubur.

Menurut Kyai. Muhtadin pimpinan salah satu Ponpes di Bangkalan, pada jaman dulu bubur suro ini dikenalkan oleh kanjeng sunan Kalijogo sendiri kepada masyarakat madura. Hal ini merujuk pada banyaknya kondisi beras yang kadaluarsa pada jaman itu, dimana banyaknya beras apek hanya menjadi bahan makan ternak. Melihat hal ini Sunan Kalijogo berinisiatif mengolah beras apek tadi menjadi bubur. Setelah berhasil mengolah bubur tadi, raden Sahid lantas menjadikan panganan tersebut sebagai ciri khas bersodaqoh di bulan Muharram atau Suro.

Mengapa sampai saat ini tradisi ini masih terus dilakukan masyarakat, karena selain memang rasanya yang khas dalam tradisi ini terdapat pula unsur keharmonisan antar masyarakat satu dengan masyarakat lainnya.

Dimana biasanya dalam pembuatannya dilakukan bersama-sama keluarga besar ssebelum dibagi-bagikan ke tetangga dan ini merupakan wujud dari rasa syukur kepada Allah SWT.

Hubungannya dengan Islam Nusantara pada saat ini adalah kebudayaan ini merupakan tradisi yang sangat dilestarikan oleh masyarakat Madura karena ada unsur perwujudan dari rasa syukur masyarakat kepada sang pencipta alam semesta. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan