Peristirahatan di Bondowoso Dalam Napak tilas Hayam Wuruk

0
1454

Napak tilas Raja Hayam Wuruk di abad ke 14, tepatnya sekitar tahun 1281 saka atau tahun 1359 masehi, disebut dalam naskah Negarakrtagama atau Desawarnana yang ditulis Dang Acarya Nadendra (mpu Prapanca), meliputi wilayah Jawa Timur utamanya Pakambangan atau Gambang yang sekarang desa Tlogosari Bondowoso dan sekitarnya.

Diketahui, perjalanan politik tersebut menempuh jarak cukup panjang hingga melewati sekitar 200 desa, melalui tidak kurang 11 kabupaten yang ada di Jawa Timur, mulai dari Mojokerto, Pasuruan, Lumajang, Jember, Bondowoso Situbondo, Probolinggo, Malang, Jombang, Kediri dan Blitar.

<<<<baca juga sistem politik majapahit >>>>

Dalam naskahnya, mpu Prapanca menceritakan bahwa Raja Hayam wuruk melakukan blusukan jajah deso minangkori meliputi Sadeng (gunung sadeng, kasiyan jember selatan), usai menaklukkan Keta pada tahun 1253 tahun Saka (1331 M). Waktu itu seluruh bumi nusantara sudah dibawah perlindungan Mahapatih Gajahmada. Namun nampaknya mpu Prapanca tidak terlalu fokus menulis terhadap prstasi Gajahmada setelah gemilang dalam mengembangkan kerajaan majapahit (disinyalir mpu Prapanca termasuk pendukung rezim patih lama Arya Tadah sebelum diganti oleh Gajahmada). Dalam kitab Negarakertagama 370: 2006, hanya digambarkan mahapatih ini terkenal bijaksana, kemudian pada 1364 M jatuh sakit dan meninggal dunia.(nag 70:3).

Adapun deteil perjalan yang diceritakan sebagai berikut “pagi-pagi sekali berangkat menuju Sadeng melalui Kunir (kunir adalah nama desa di Lumajang sebelah timur yang berbatasan dengan Jember) dan Basini lalu menginap beberapa malam menikmati keindahan alam di sekitar Srampwan. Dari Sadeng Raja Hayam Wuruk menuju Kutha Bacok yang tereletak ditepi pantai, melihat karang yang terkena ombak dan terpencar seperti hujan. (nag 22: 4-5).

Setelah bermalam di muara sungai Bondoyudo (rabut lawang) rombongan Raja lurus ketimur menyeberangi sungai Besini disekitar Gumukmas (ada peninggalan Candi Gumukmas/ Candi Boto) hingga diteruskan ke Puger. Diceritakan tentang Gunung Watangan sebelah timur desa Puger, bahwa terdapat nama Sarampwan disekitar gunung tersebut.

Baca Juga:  Resep Ampuh Melenyapkan NU Garis Lurus (NUGL) Dewan Pakar Rijalul Anshor

Sekitar pulau Kucur 2km sebelah barat Gunung Watangan terdapat makam “mbah Srampon atau lebih dikenal dengan makam mbah Tanjung”. Setelah itu, menuju timur lagi terdapat nama Kuta Bacok (Watu Ulo) dengan formasi gunung karangnya, dulu dikenal orang salah satu puncaknya adalah Gunung Bacok, (disinyalir sementara sekitar Sabrang dan grintingan Wuluhan).

Mengenai perjalanan Raja dari Kuta Bacok (watu ulo) sampai dengan Patukangan (Situbondo) memang beberapa daerah sudah tidak bisa teridentifikasi dari penceritaan Prapanca. Mungkin, karena daerah-daerah yang ditulis Prapanca kini sudah berganti nama (gelombang migrasi orang madura atau pemebrontakan raja-raja kecil). Beberapa nama yang teridentifikasi diroutenya adalah dari Balung, Renes (Wirowongso Ajung) , Pakusari (dulu Pakis Haji : ini juga belum sepenuhnya diyakini sebagaimana yang dimaksud desa dalam pupuh Negarakrtagama), Mayang (menyusuri kali Mayang) menuju Kalisat Sukowono.

Selepas dari sana kemudian, menuju Tamanan dan berlanjut ke Pakambangan atau Gambang desa Tlogosari Bondowoso. Disini sang Prabu sempat menginap sebelum menuju Patukangan sebagai tujuan ahir perjalanannya di daerah tapal kuda.

Walau minim keterangan terkait peristirahatannya di Bondowoso ini namun, berbagai peninggalan rasanya cukup menjadi bukti bahwa, perjalanan Hayam Wuruk dapat dikatakan lebih lama beristirahat di Pakembangan ketimbang tempat-tempat yang lain. Hal ini mengacu pada banyaknya bukti jejak berupa sumur tua dengan beberapa potong batu bata besar juga candi bhuto di desa cerme. Selain itu, masih banyak pula tersebar di beberapa pelosok Bondowoso berupa peninggalan arca yang jumlahnya mencapai ratusan. Dimana, dalam membangun segenap peninggalan tersebut tentu, tidaklah dengan waktu yang singkat.

Tidak hanya peninggalan benda bahkan, beberapa kesenian khas dari Majapahitpun juga banyak lestari di Bondowoso. Seperti halnya macopat, gamelan srigati, bahkan akhir-akhir ini juga berkembang tari ronteg singo wulung. Yang semua kesenian atau kebudayaan tersebut, sangatlah identik dengan kultur Majapahit. Hal inilah yang menjadi bukti kuatnya pengaruh raja hayam wuruk kepada masyarakat pedesaan termasuk Bondowoso.

Baca Juga:  Candi Jabung Bukti Sejarah Majapahit dan Asal Mula Daerah Paiton

Setelah cukup lama beristirat di Pakembangan, Hayam wuruk melanjutkan perjalanannya melalui desa Prajekan Bondowoso hingga menuju ke Panarukan atau Patokengan (Patukangan) Jawa Timur. Dari sini langsung melanjutkan perjalanan di Jawa Timur yang melalui daerah Probolinggo, Malang, Jombang, Kediri dan Blitar.

Usai dari Jawa Timur, pada tahun 1360 napak tilasnya berlanjut ke Tarib dan Sampur, tahun 1361 mengunjungi Rabut Palah (Candi Penataran, Blitar) dan pada 1363 Hayam Wuruk mengunjungi Simping (Sumberjati) untuk meresmikan candi pendharmaan eyangnya, Kertarajasa Jayawardhana atau Raden Wijaya.

Sementara beberapa nama desa yang lainya seperti Pakusari (Pakis Haji), Pakembangan ( Pakambangan), Tangsil (Tamangsil), Jurang Dalem nama-nama ini seperti yang terdapat dalam naskah Negarakrtagama tetapi masih belum memberikan kepastian keberadaannya. Seperti Patukangan yang dapat diidenfikasikan dengan Desa Patokengan, Desa Peleyan Kec. Panarukan Kabupaten Situbondo.

Disana terdapat tanah lapang dengan sebutan Kota Bedah, ditemukan pecahan keramik. Orang disana mengenalnya sebagai peninggalan Adipoday (masyarakat setempat menyatakan raja ini berasal dari Pulau Sepudi Madura) ayah Joko Tole (menurut masyarakat Madura). Sedang penuturan orang Jawa daerah ini terdapat penggalan kepala Minak Jinggo. Disana juga terdapat batu besar yang konon kabarnya dipakai sebagai tambatan perahu ( kini letaknya jauh dari pantai). Konon sungai sampayan (kini sampean baru) dulu terkenal begitu besarnya hingga kapal bisa sandar dekat dengan kota Panarukan Situbondo (sejarah PT Jakarta Loyd melakukan pengiriman tembakau dari dermaga Panarukan). (dats)

Sumber: Negara kertagama, musium trowulan, beberapa ahli sejarah dan kebudayaan.

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here