Beranda Sejarah Tragedi Tewasnya Pahlawan Blambangan Merebut Benteng Bayu

Tragedi Tewasnya Pahlawan Blambangan Merebut Benteng Bayu

0
852

Mengenang kembali sejarah perjuangan segenap gabungan pahlawan dari Bumi Shentong Bondowoso, Jember, dan Banyuwangi yang tergabung dalam pasukan Blambangan dalam tragedi perebutan benteng bayu di bumi Blambangan.

Perang Bayu atau Perang Puputan Bayu (ada juga yang menyebut Pemberontakan Jagapati), merupakan salah satu perlawanan yang dilakukan oleh para pejuang Blambangan yang dipimpin Mas Rempeg atau Pangeran Jagapati dimana perang ini disebut sebagai Perang Bayu I.

Sementara Bapa Endha memimpin Perang Bayu II melawan Pasukan VOC yang dibantu oleh laskar-laskar pribumi dari Madura dan daerah Jawa Timur lainnya.

Sedang Perwira VOC yang terlibat di Blambangan dalam peperangan ini, adalah Residen Blambangan Cornelis van Biesheuvel dan penggantinya Hendrik van Schopoff. Selain itu, terdapat nama-nama lain seperti Sersan Mayor Van Schaar, Letnan Kornet Tine, Vandrig Ostrousley, Kapten Reygers di Perang Bayu I dan Kapten Heinrich, Vaandrig Guttenberg, Vaandrig Lenigen, Peltu Mirop, Peltu Djikman di Perang Bayu II.

Namun kali ini, sejarah-budaya.com akan mengupas pahlawan bangsa khususnya pasukan dari bumi Blambangan yang mendapat perlakuan kejam dan cukup memilukan dalam menumpas kompeni dari bumi pertiwi dalam perang bayu ll.

Sekitar pada tahun 1772 Masehi bulan Januari, Mas Surawijaya sebagai pimpinan, mengangkat pejabat-pejabat baru sebagai pemimpin perjuangan melawan penjajah kompeni usai perang bayu l.

Adapun diantara pejabat perjuangan tersebut diantaranya,
*Daeng Tokontu atau Mas Jagalara atau Jagapati II atau Wong Abang atau Ki Abang di Bayu,

*Mas Gagak Baning di Bondowoso bersama Senopati Hanggapati,

*Bagus Patrakusuma atau Mas Serandhil atau Mas Sekar di Pagambiran -Pesanggaran.

Selain itu ada juga pejuang bumi Blambangan Mas Ayu Wiwit atau Sayu Wiwit (The Queen Emperor of Mounth Raung) bersama Mas Ayu Prabu di Padang Alun-Gunung Bayu dan Mas Surawijaya di Puger bersama Senopati Sindhu Bromo, yang mendapat tugas merebut benteng Bayu di Desa Bayu, Kecamatan Songgon, Kabupaten Banyuwangi dari tangan kompeni.

Untuk pasukan ini, diketahui telah berhasil membebaskan Puger, Jember, dan Sentong (kini Bondowoso) dari tangan kompeni hingga mundur ke Besuki.

Usai benteng bayu dapat direbut oleh pasukan Mas Ayu Wiwit dan kawan-kawan, Kompeni tidak terima atas kekalahannya itu. Hingga Gubernur Johannes Robert van der Burgh segera memerintahkan Steenberger (Jember) dan Reigers (Panarukan) untuk merebut kembali benteng Bayu di Banyuwangi.

Hingga pada 1 Oktober 1772, Gezaghebber R. Fl. Van der Niepoort (1772-1784) memerintahkan Kapten Heinrich beserta pasukan Ekspedisi V untuk melakukan penyerangan kembali ke Benteng Bayu.

Pada masa penyerangan kompeni kala itu, Mas Jagalara atau Jagapati II bersama Bapa Endha atauvKeboundha memimpin Pasukan Blambangan di Bayu, dengan meneruskan perjuangan dan membuat sungai jebakan berisi bambu runcing guna menghalau pasukan kompeni.

Selain itu, Peltu Mirop dan Peltu Dijkman dengan membawa 900 pasukan bersenjata meriam, membantu mengepung Benteng Bayu bersama pasukan Kapten Heinrich dan Vaandrig Jenigen dengan 1.500 bala tentaranya.

Sedang pada waktu itu, tepatnya pada 5 Oktober 1772, di pagi hari pasukan kompeni yang dipimpin Vaandrig Guttenburger dan Koegel, telah memasuki wilayah Sentong atau Bondowoso dari arah Besuki.

Hingga pada 11 Oktober 1772, Letnan Imdeken dan Kapten Heinrich menggempur Bayu menggunakan meriam hingga luluh lanta rata dengan tanah. Pagi itu, Benteng Bayu akhirnya dapat direbut oleh kompeni yang disertai pembakaran Rumah-rumah penduduk di daerah sekitar benteng Bayu. Dalam penyerangan kompeni kali ini, Mas Jagalara gugur mengiringi berakhirnya perang Bayu II.

Dalam kemenangan kompeni kali ini, Kapten Heinrich mendapat rampasan beberapa jenis senjata berupa 10 buah meriam dan 30 mortir ukuran 4 dim milik pejuang Bayu. Para prajurit kompeni pribumi mendapat rampasan 100 pucuk senjata berlaras panjang dan 30 ekor kuda serta masih banyak lainnya.

Sedang Rombongan yang dipimpin Bapa Endha/Keboundha menyelamatkan pasukannya sebanyak 500 orang terpaksa meninggalkan benteng Bayu menuju pantai laut selatan. Rombongan ini kemudian meneruskan perjuangan mereka di Nusa Barong yang kala itu, telah dihuni 1.000 orang pengungsi di tujuh kampung dalam pulau tersebut.

Baru beberapa hari kemudian dari berakhirnya tragedi perang Bayu ll, tepatnya pada tanggal 24 Oktober 1772, Residen Schophoff, memerintahkan penarikan pasukan kompeni dari benteng Bayu. Untuk kemudian, Kapten Heinrich memerintahkan agar para pejuang Blambangan yang berhasil ditangkap untuk segera dibantai.

Disinilah tampak betapa sangat kejamnya kompeni terhadap pejuang pribumi kala itu. Kepala-kepala mereka dipenggal dan digantung di pohon-pohon. Sebagian yang masih hidup diangkut ke Teluk Pampang untuk dihukum mati dengan cara tubuhnya diikat pada batu besar dan ditenggelamkan ke laut.

Diceritakan bagaimana ratusan orang yang tertangkap dalam pengejaran, dibawa ke Benteng Teluk Pampang, delapan orang Wadwa agung dipisahkan dari lainnya dan dikumpulkan seperti kambing.

Dengan tangan terikat kebelakang, mereka dimasukkan ke dalam penjara dari bambu dan dijaga ketat tanpa diberi makan. Puluhan serdadu Kompeni melaksanakan eksekusi dengan pedang mereka yang tajam. Para tawanan dipenggal kepalanya kemudian tubuh mereka dibelah empat. Eksekusi ini sangat mengerikan untuk dilihat, semua tewas tanpa mengeluarkan suara apa pun.

Selain itu, kepala dan bagian-bagian tubuh pejuang Blambangan yang telah dipotong, ditancapkan di ujung bambu dan dipertontonkan sebagai peringatan bagi penduduk lainnya. Sampai tanggal 7 November 1772 sudah ada 1.000 orang yang tertangkap dan dihukum mati.

Sedang Schophoff kala itu, mengamankan kurang lebih 264 pejuang Blambangan yang sudah bersumpah setia kepada kompeni ke Surabaya. Sedang prajurit pribumi kompeni, merebut para wanita dan anak-anak Blambangan sebagai hasil rampasan perang.

Baru pada tahun 1773, pejuang-pejuang Blambangan di Nusa Barong kembali melakukan perlawanan pada kapal-kapal Belanda di Puger untuk membantu Sayu Wiwit dan Mas Surawijaya. Namun naas, saat Puger dikepung kala itu, Sayu Wiwit gugur di lereng Gunung Bayu, sedang Mas Surawijaya dan Sindhu Bromo berhasil melarikan diri dan bersembunyi ke pulau Nusa Barong. (dats)

Sumber : – Arsip BKX, Wikipedia, Budayawan

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan