Kepemimpinan Jaka Tingkir Dalam Merintis Kerajaan Pajang

0
2226

Raja Pajang Hadiwijaya atau Jaka Tingkir atau Raden Mas (RM) Karebet ini, memiliki kenangan nama mengagumkan bagi sebagian masyarakat Nusantara, Jawa pada khususnya. Bukan hanya dikenal sebagai pemimpin yang memiliki pengaruh istimewa dimata rakyatnya kala itu. Namun, Jaka tingkir juga di kenal sebagai raja yang sakti mandraguna.

Jaka Tingkir adalah seorang putera dari Kebo Kenanga dan cucu Adipati Andayaningrat atau juga dikenal sebagai ‘Syarief Muhammad Kebungsuan’. Adapun silsilah beliau yang tersambung pada Rosulullah sebagai berikut,

Hadiwijaya / Karebet / Jaka Tingkir – Ki Ageng Pengging – Syarief Muhammad Kebungsuan /ADIPATI ANDAYANINGRAT / Ki Ageng Wuking – As-Sayyid Asy-Syaikh Jumadil Kubro al-Husaini/ Syekh Jamaluddin Akbar al-Husaini – As-Sayyid Ahmad Shah Jalal – Sayyid Abdullah Azmatkhan – Al-Imam Abdul Malik Azmatkhan – Al-Imam ‘Alawi Ammil Faqih – Al-Imam Muhammad Sohib Mirbath – Al-Imam Ali Kholi’ Qosim – Al-Imam Alawi Ats-Tsani – Al-Imam Muhammad Sohibus Saumi’ah – Al-Imam Alawi Awwal – Al-Imam ‘Ubaidillah – Al-Imam Ahmad al-Muhajir – Al-Imam ‘Isa Naqib Ar-Rumi – Al-Imam Muhammad An-Naqib – Al-Imam Al-Imam Ali Uradhi – Al-Imam Ja’far As-Sodiq – Al-Imam Muhammad Al Baqir – Al-Imam ‘Ali Zainal ‘Abidin – Al-Imam Sayyidina Hussain – Sayyidah Fathimah Az-Zahra – Rosulullah Muhammad SAW.

Dari nasab diatas dketahui bahwa Joko Tingkir adalah keturunan ke – 23 dari Nabi Muhammad SAW.

Tidak heran jika Radenmas Karebet, memang dikenal sejak kecil memiliki jiwa Ksatria. Dimana hal ini tampak dari beberapa lelaku beliau yang senang sekali dengan tirakat bertapa ataupun laku prihatin / kholwakh.

Konon, niat beliau melakukan hal tersebut hanyalah bertujuan untuk menjaga fitalitas diri dari berbagai penyakit dan memperkokoh kejiwaannya untuk menjadi lebih baik. Selain itu tujuannya yang gemar sekali bertapa, agar dapat menyelaraskan tubuh dan jiwanya dengan alam semesta. Dengan demikian kelak Joko Tingkir berharap mampu beradaptasi dengan keadaan alam terutama dalam memimpin rakyat di berbagai situasi dan kondisi apapaun dengan bijak.

Jaka Tingkir yang begitu terkenal sepak terjangnya dalam dunia kepemimpinan yang bijak, membawa negerinya pada masa itu menuju kemakmuran.

Kiprahnya dalam merintis kepemimpinan dimulai dari pengabdiannya terhadap wilayah demak, hingga menjadi Raja di kerajaan Pajang. Pada akhirnya Joko Tingkir juga mampu menguasai wilayah Jawa Timur. Sampai akhir hayatnya Hadiwijaya alias Joko Tingkir yang meninggal dunia tahun 1582 tersebut, dimakamkan di desa Butuh, yaitu kampung halaman ibu kandungnya.

Semula berdirinya Kerajaan Pajang, dimulai oleh pertempuran antara Aryo Penangsang dengan Joko Tingkir (Adipati Pajang), yang disebut menantu Sultan Trenggono. Pertempuran tersebut dimenangkan oleh Joko Tingkir. Kemenangan ini diraih atas pertolongan dari Ki Ageng Pemanahan serta Ki Ageng Penjawi. Kemenangan ini pula yang mengantar Joko Tingkir menuju singga sana memimpin Demak dengan gelar Sultan Hadiwijaya, gelar itu didapat atas anugrah Sunan Giri serta memperoleh pernyataan dari kerajaan-kerajaan sebagai bawahan Demak.

Yang kemudian Sultan Hadiwijaya memindahkan pusat kerajaan dari Demak menuju Kerajaan Pajang. Atas jasa-jasa Ki Ageng Pemanahan serta Ki Ageng Penjawi, keduanya di beri hadiah berbentuk tanah diwilayah Mataram untuk Ki Ageng Pemanahan serta tanah didaerah Pati untuk Ki Ageng Penjawi. Serta beliau berdua diangkat menjadi adipati diwilayah itu.

Kepimpinan Sultan Hadiwijaya berjalan dengan baik. Jalinan dengan kerajaan bawahan juga baik. Kesenian serta sastra alami perubahan yang cepat. Dampak budaya Islampun makin menebar sampai ke pelosok daerah.

Walau demikian seluruhnya berjalan dengan cepat. Sepeninggal Ki Ageng Pemanahan pada 1575, jadi pemerintahan di Mataram, diteruskan ke putranya yang bernama Sutawijaya atau Ngabehi Loring Pasar. Dalam kepemimpinan Sutawijaya, Mataram berkembang dengan cepat. Hal semacam ini yang lalu bikin Sutawijaya malas untuk menghadap ke Pajang.

Pada th. 1582 meletus perang Pajang serta Mataram lantaran Sutawijaya membela adik iparnya, yakni Tumenggung Mayang, yang dihukum buang ke Semarang oleh Hadiwijaya. Perang itu dimenangkan pihak Mataram walau pasukan Pajang jumlahnya semakin besar. Sepulang dari perang, Hadiwijaya jatuh sakit serta meninggal dunia. Berlangsung persaingan pada putra serta menantunya, yakni Pangeran Benawa serta Arya Pangiri juga sebagai raja setelah itu. Arya Pangiri di dukung Panembahan Kudus sukses naik takhta pada tahun 1583.

Pemerintahan Arya Pangiri cuma disibukkan dengan usaha balas dendam pada Mataram. Kehidupan rakyat Pajang terlewatkan. Hal semacam itu membuat Pangeran Benawa tersingkir oleh Jepang. Pada tahun 1586 Pangeran Benawa bersekutu dengan Sutawijaya menyerbu Pajang. Walau pada tahun 1582 Sutawijaya memerangi Hadiwijaya, tetapi Pangeran Benawa terus menganggapnya juga sebagai saudara tua.

Perang pada Pajang melawan Mataram serta Jepang selesai dengan kekalahan Arya Pangiri. Ia dikembalikan ke negeri aslinya yakni Demak. Pangeran Benawa lalu jadi raja Pajang yang ketiga. Pemerintahan Pangeran Benawa selesai pada tahun 1587. Tak ada putra mahkota yang menggantikannya hingga Pajang dijadikan sebagai negeri bawahan Mataram, yaitu sebagai bupati disana adalah Pangeran Gagak Baning, adik Sutawijaya. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here