Beranda Sejarah Selamatkan Aset Negara, Benarkah Supriyadi Lari ke Bondowoso..?

Selamatkan Aset Negara, Benarkah Supriyadi Lari ke Bondowoso..?

0
1544

Peranan dan menghilangnya Raden Supriyadi sebagai salah satu pahlawan muda kepercayaan Bung Karno dalam perang Peta cukup menjadi polemik pro kontra di sebagian besar rakyat Indonesia.
Supriyadi yang menyulut perjuangan segenap pemuda di seluruh Indonesia ini, adalah figur pemimpin yang dikenal cukup piawai meski kala itu usianya baru 20-an tahun.

Gelar “shodancho” atau pimpinan peleton diberikan Jepang kepadanya. Ia diembani tugas untuk memimpin sebuah gerakan milisi bernama PETA atau pasukan Pembela Tanah Air. Pasukan ini dibentuk Jepang untuk mempersiapkan perlawanan terhadap sekutu. Mereka semua dilatih berperang di kamp militer hingga dinyatakan siap bertarung untuk membela Jepang yang kala itu sudah berhasil menyingkirkan kekuasaan Belanda di bumi Nusantara.

Supriyadi, yang lahir pada 13 April 1923 di Trenggalek, Jawa Timur ini, menghabiskan masa mudanya dengan bersekolah di ELS setingkat SD saat itu milik pemerintah Belanda. Setelah lulus ia melanjutkan ke MULO yang setingkat SMP. Beberapa tahun berselang Supriyadi melanjutkan ke Sekolah Pamong Praja di Magelang. Namun sayang, ia tak sempat lulus karena Jepang mulai menyerang negeri. Akhirnya ia dipaksa Jepang untuk mengikuti pelatihan Seimendoyo di Tangerang, Jawa Barat.

Sekitar bulan Oktober 1943, Jepang yang kala itu menggebrak Belanda mulai mengatur strategi perang. Mereka membuat sebuah organisasi milisi yang terdiri dari warga lokal. Mereka mendirikan PETA dan mempekerjakan warga lokal untuk berperang. Dengan harapan kelak saat sekutu yang dipimpin Amerika mendekat, anggota PETA ini bisa dikirim ke garda depan.

Supriyadi akhirnya bergabung dengan organisasi PETA dan diberi jabatan shondancho atau pemimpin pleton. Ia bertugas menjadi pemimpin gerakan ini di daerah kelahiran Bung Karno Blitar. Selain jadi pentolan gerakan PETA, ia juga bertugas menjadi pengawas romusha atau pekerja yang dipaksa membangun jalan, dan benteng di Blitar. Melihat saudara sendiri yang selalu dipaksa, bahkan kadang tak diberi makan dengan layak hingga banyak yang mati, Supriyadi jadi geram. Akhirnya ia memutuskan untuk merencanakan sebuah gerakan pemberontakan.

Baca Juga:  Biografi Borobudur, Gambaran Alur Manusia Capai Ketuhanan

Saat Bung Karno datang ke Blitar, Supriyadi dan pasukannya langsung menghadap. Mereka menceritakan semua rencana yang telah disusun dengan matang. Saat itu Bung Karno yang kurang setuju atas inisiatif tersebut, memperingatkan Supriyadi tentang dampak pemberontakannya. Namun Supriyadi tetap bersikeras jika pemberontakan ini akan berhasil.

Tepatnya pada 14 Februari 1945, tentara PETA di Blitar mulai melancarkan pemberontakan terhadap jepang. Namun sayang, Jepang terlalu hebat dan pandai untuk dikelabuhi. Akhirnya banyak dari mereka yang ditangkap dan diadili. Beberapa dihukum mati dan yang lain di penjara. Saat persidangan berlangsung, Supriyadi tidak nampak. Ia hilang bagai ditelan bumi dan tidak ditemukan hingga saat ini.

Menilik dari misteri hilangnya Supriyadi ini, sebenarnya kala itu pada tanggal 6 Oktober 1945 saat pemerintahan Indonesia didirikan, Supriyadi akan diberikan satu jabatan penting sebagai menteri Keamanan Rakyat oleh Bung Karno. Namun, ditunggu hingga beberapa hari berselang Supriyadi tak jua muncul hingga akhirnya jabatan tersebut diberikan kepada Imam Muhammad Suliyoadikusumo.

Banyak hal aneh dan misterius terkait hilangnya Supriyadi hingga sekarang. Beberapa orang lokal Blitar mengatakan jika ia hilang di Gunung Kelud dan tak pernah kembali. Ia menyatu dengan alam hingga tentara Jepang tak dapat menangkapnya kembali. Orang-orang di Blitar masih percaya jika Supriyadi saat ini mungkin masih hidup dan berbaur dengan masyarakat di lereng Gunung Kelud.

Hal senada juga pernah diungkap oleh beberapa kalangan Masyarakat di Bumi Shentong (kini BONDOWOSO). Bahwa, kala itu Supriyadi lari ke Timur lalu disembunyikan dan berguru kepada Raden Maskur (pejuang 45) yang kala itu sebagai salah satu pimpinan perang puputan bayu 1. <<< baca juga : tragedi tewasnya pahlawan Blambangan >>> Disini pemuda yang diduga Supriyadi ini ditempa berbagai ilmu kadigdayaan oleh Raden Maskur hingga dikemudian hari menggantikan gurunya ini untuk mengabdi pada masyarakat sekitar. Di bumi Shentong ini pulalah R. Supriyadi diceritakan menghilang karena menyelamatkan stempel aset negara di Bank Swish, yang kala itu diperebutkan oleh banyak kalangan.

Baca Juga:  Liku Ratu Ken Dedes Berawal Dari Kutukan Ayahhanda Mpu Purwa

Hal berlawanan justru diungkapkan oleh Ki Utomo Darmadi. Ia adalah adik tiri dari Supriyadi yang merupakan anak Raden Darmadi, Bupati Blitar zaman kemerdekaan. Utomo mengatakan jika Supriyadi mungkin sudah tewas dibantai tentara Jepang. Ia juga yakin jika Supriyadi tidak punya ajian atau ilmu untuk menghilang.

Kisah hilangnya Supriyadi masih berlanjut dari seorang kepala Desa Sumberagung, Blitar yang mengatakan jika ia pernah menyembunyikan Supriyadi selama beberapa hari. Lalu berlanjut ke persembunyian Supriyadi di gua dekat air terjun Sedudo Nganjuk.

Pada Maret 1945, seorang warga Jepang bernama Nakajima yang dulu guru sekolah Supriyadi juga mengakui didatangi Supriyadi untuk menyembunyikannya. Namun hal itu tak berselang lama hingga Supriyadi pamit dan pergi ke Banten Selatan untuk bersembunyi. (Tan Malaka juga bersembunyi di sini.)

Seorang tokoh di Bayah, Banten Selatan mengatakan pernah merawat pemuda yang kena disentri. Namun sayang ia meninggal. Diduga pemuda itu adalah Supriyadi. Tokoh Bayah bernama H Mukandar itu kaget saat ditunjukkan foto Supriyadi. Ia menyakini jika pemuda dalam foto adalah si pemberontak dari Blitar.

Wacana hidup dan matinya Supriyadi memang tak ada habisnya untuk dibahas dan digali. Namun, sebagai hamba yang berketuhanan, hendaknyalah kita berfikir bahwa benar dan salahnya itu semua, merupakan kuasa mutlak dari sang pemegang hidup dan mati.

Meski demikian R. Supriyadi telah dianugerahi sebagai Pahlawan Nasional pada tahun 1975. Jasanya yang besar hingga membuat banyak pasukan PETA memberontak terhadap Jepang, membuat ia patut dihargai dengan penghargaan yang tinggi. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here