Sunan Gunung Jati Dalam Babat Kesultanan Pakungwati Cirebon

0
1278

Waliullah Sunan Gunung Jati yang bernama asli Syarif Hidayatullah, merupakan putra dari ayahhandanya Syarif Abdullah seorang bangsawan Mesir dan ibunya nyai Lara Santang yang seorang Putri dari raja Prabu Siliwangi. Dimana, Ibunda beliau, Nyai Lara Santang namanya dirubah menjadi Syarifah Mudaim sejak menikah dengan Syarif Abdullah. Ada dua keterangan tentang tahun kelahiran beliau yaitu tahun 1448M dan pendapat lain yang lebih dipercaya adalah tahun 1450M.

Raden Syarif Hidayatullah sejak kecil banyak belajar ilmu agama di negri Mesir, namun sepeninggal ayahnya sekitar usia 20 tahun beliau pulang ka tanah leluhurnya yaitu pulau jawa. Sejak itulah beliau berhasil menyebarkan agama islam di Jawa Barat dengan diperkuat mendirikan kesultanan Cirebon.

Dikisahkan dari beberapa sumber bahwa 3 orang putra prabu siliwangi dari permai suri Subang Larang yaitu, Pangeran Walangsungang beserta saudarinya nyai Lara Santang dan Kian Santang, sempat berguru agama kepada syekh Kahfi pendiri padepokan islam pertama dicirebon. Karena kecerdasan ke tiga putra-putri Siliwangi banyak ilmu agama yang berhasil didapat dari sang guru. Seiring banyaknya para pendatang yang bermukim disana dan menjadi muridnya maka pangeran Walangsungsang diangkat menjadi kepala dusun dan diberi gelar pangeran Cakrabuana. Suatu saat Syekh Kahfi menyuruh ketiga muridnya tersebut untuk pergi kemekah melaksanakan ibadah haji, saat pelaksanaan haji mereka bertemu dengan raja Mesir Syarif Abdullah. Raja Mesir tersebut jatuh hati saat pandangan pertama kali kepada nyai Lara Santang dan berniat memperistrinya. Singkat cerita lamaran Syarif Abdullah diterima dan mereka dinikahkan oleh ulama besar Mekah Syekh Bayanillah. Dari pernikahan itu lahirlah Raden Syarif Hidayatullah atau sunan gunung jati dan Syarif Nurullah (adik sunan gunung jati).

Syarif Hidayatullah besar dimesir, beliau belajar banyak agama pada ulama-ulama besar Mesir, namun setelah ayahnya meninggal pada saat usia beliau 20 tahun, beliau bersama ibundanya tercinta pulang ke pulau jawa tanah leluhurnya tatar pasundan Pajajaran dan beliau mulai berdakwah menyebarkan islam di Jawa Barat, sedangkan adiknya meneruskan tahta ayahnya menjadi raja Mesir.

Sekitar tahun 1475 Raden Syarif beserta ibunya Syarifah Mudaim pergi ke Cirebon, sampai di Cirebon mereka di sambut oleh keluarga pangeran Cakra Buana, tetapi sayangnya sang guru Syekh Kahfi telah wafat sehingga mereka bertekad melanjutkan perjuangan gurunya dengan mendirikan pesantren Pasambangan di daerah Gunung jati. Pangeran Cakrabuana memiliki putri bernama Nyi Pakungwati yang kemudian dinikahkan dengan Syarif Hidayatullah pada tahun 1479, dan karena merasa sudah tua pangeran Cakrabuana menurunkan jabatannya kepada Syarif Hidayatullah.

Baca Juga:  Mayat Ini Terhimpit Dalam Kubur Meski 70 Ribu Malaikat Hadir Di Pemakamannya

Suatu ketika, Syarif Hidayatullah berniat melakukan perjalanan dakwah untuk menyiarkan agama islam lebih luas di pulau jawa. Perjalanan pertamanya beliau menemui kakeknya yaitu prabu Siliwangi raja pajajaran untuk mengajak memeluk islam, tetapi sayangnya sang prabu menolak ajakan tersebut. Kemudian Syarif Hidayatullah melanjutkan perjalanan dakwahnya sampai ke Banten, di Banten beliau disambut oleh Adipati Banten, sang Adipati terkesan pada Syarif Hidayatullah yang akhirnya menjodohkan dengan adiknya Nyi Kawungten. Hasil pernikahan mereka dikaruniai 2 orang anak yaitu Nyi Rabu Winaon dan pangeran Sebakingking (Pangeran Maulana Hasanuddin).

Syarif Hidayatullhh sering berkunjung ke Demak, beliau sempat membantu pendirian mesjid Demak. Di demak Syarif Hidayatulloh sering bertemu dengan para wali songo lainnya dan sering bermusyawarah dimesjid tersebut. Sampai akhirnya tanpa info yang jelas berdirilah kesultanan Demak pada tahun 1487 yang saat itu di pimpin oleh Raden Patah. Segenap wali memutuskan syarif Hidayatullah untuk menjadi pemimpin di wilayah Jawa Barat. Syarif Hidayatullah diangkat jadi sultan pada kesultanan pakungwati yang beliau dirikan di cirebon. Melihat silsilah Raden Patah dan Syarif Hidayatulloh ternyata berasal dari satu nasab yaitu dari satu kakek Syekh Maulana Akbar seorang saudagar muslim dari Guzarat, India. Sejak saat itu juga penyerahan upeti kepada kerajaan pajajaran dihentikan.

Berita tersebut terdengar oleh raja pajajaran prabu Siliwangi yang akhirnya marah besar menganggap cucunya telah berkhianat dan menyaingi kerajaan pajajaran. Akhirnya para prajurit terbaiknya disiapkan untuk menyerang kesultanan Cirebon dan menangkap cucunya, dibawah pimpinan Ki Jagabaya. Namun sayang bukan kemenangan yang didapat, kerajaan pajajaran malah kehilangan prajurit terbaiknya karena mereka semua masuk islam dan menjadi murid Syarif Hidayatullah. Dengan bergabungnya prajurit pajajaran wilayah kesultanan Cirebon menjadi lebih meluas, banyak daerah-daerah disekitar Cirebon yang bergabung pada kesultanan Pakungwati.

Selama kesultanan Syarif Hidayatullah banyak saudagar-saudagar dari negri luar yang datang, mereka datang untuk berdagang dan menjalin persahabaan dengan kesultanan Cirebon. Dikabarkan Syarif Hidayatullah bahkan pernah dinikahkan oleh kaisar cina kepada putrinya (Ong tien) yang berganti nama menjadi Nyi Ratu Lara Semanding, saat sang sunan berkunjung ke Cina atas undangan sang kaisar. Sejak saat itu hubungan kekeluargaan antara Cina dan Cirebon semakin baik. Ini dibuktikan dengan Pembangunan mesjid raya Cirebon pada tahun 1498M, dengan arsitektur bernuansa cina, konon mesjid ini hanya di bangun dalam satu malam saja, oleh para wali songo. Masjid ini dikenal dengan nama masjid kasepuhan atau masjid Sang Cipta Rasa.

Baca Juga:  Filosofi Blangkon, Jagad Alit Jagad Gedhe

Penyebaran Islam dibawah kesultanan Cirebon semakin pesat, sarana dan prasarana seperti jalan-jalan di bangun untuk mempermudah perluasan wilayah, sementara kerajaan pajajaran semakin menyempit sehingga membuat Prabu Siliwangi mencari jalan untuk merebut kembali daerahnya.

Selama masa penyebaran ajaran islam para wali mengalami perlawanan, ada 3 kekuatan yang berasal dari kerjaan hindu yang selalu menentang penyiaran ajaran islam saat itu yaitu kerajaan pakuan/pajajaran, kerajaan Galuh dan kerajaan Majapahit. Mereka bersekutu dengan Portugis untuk melawan pendukung islam.

Portugis masuk ke Malaka (Sumatra) sekitar tahun 1511, mereka melakukan agresi ke berbagai daerah untuk merebut kekuasaan termasuk ke pulau jawa, sekitar tahun 1513, duta besar portugis datang menemui raja pajajaran dan akhirnya portugis dan pajajaran bersekutu dan mnedirikan benteng pertahanan di hindia belanda (Jakarta).

Sultan Demak Raden Patah meninggal dunia pada tahun 1518 an dan kesultanan selanjutnya dipimpin oleh mantan Adipatinya yaitu Dipati unus atau dikenal dengan pangeran sebrang lor. Kesultanan Demak yang saat itu di pimpin oleh dipati unus bersama dengan pasukan kesultanan Cirebon melakukan agresi untuk melawan penjajahan protugis di malaka pada tahun 1521. Mereka mengalami kekalahan karena kekuatan persenjataan portugis lebih canggih, dan Adipati Unuspun syahid di malaka, serta kepeminpinan kesultanan Demak di gantikan oleh Raden Trenggano (putra ke3 raden Patah). Saat perjalanan pulang, para prajurit ke pulau jawa ada seorang ulama pasai yang ikut berlayar pulang ke pulau jawa, beliau adalah Fatahilah. Pasai sudah dikuasai portugis sehingga sudah tidak aman untuk Fatahilah berjuang disana. Fatahilah diangkat sebagai panglima perang kesultanan Demak.

Pada tahun 1527, Fahillah mendapat tugas untuk melakukan perlawanan pada portugis di sunda kelapa yang telah bersekutu dengan pajajaran, Fatahilah beserta pasukannya kemudian berangkat menuju Cirebon meminta bantuan pasukan dari kesultanan Cirebon, gabuangan pasukan dari kedua kesultanan ini berangkat untuk merebut kembali sunda kelapa. Berkat pengalaman Fatahillah berperang melawan portugis di Malaka, dia tahu kelemahan dan strategi Portugis, sehingga mereka berhasil mengalahkan portugis dan pajajaran, sunda kelapa berhasil direbut kembali dan akhirnya portugis mundur kembali ke malaka, dan pasukan pajajaran berlarian menyelamatkan diri, sisa dari mereka melakukan pemberontakan di Banten namun akhirnya dapat ditumpas oleh Fathillah dibantu oleh putra sunan gunung jati yaitu pangeran Sabakingking.

Baca Juga:  Pancasila Adalah Buah Pemekiran Ulama' Baiturrohmah Malang, Yuk Kenang Kembali

Sejak saat itu sunda kelapa dirubah namanya menjadi jayakarta dan Fatahillah diangkat menjadi Adipatinya, sementara kekuasaan Banten di pimpin oleh pangeran sabakingking yang bergelar Pangeran Hasanudin. Mereka terus berjuang memperluas wilayah penyiaran islam yang terus berkembang di pulau jawa. mereka berhasil menaklukan kerjaan galuh yang menewaskan rajanya Cakraningrat beserta senopatinya yang terkenal hebat yaitu Aria Kiban.

Suatu saat sunan gunung jadi memanggil Fatahillah ke Cirebon untuk menikahi putrinya ratu WUlung Ayu, setelah menikah raden Fatahillah menetap di Cirebon dan Jabatan Adipati Jayakarat di serahkan pada ki Bagus Angke, beliau dikenal di Cirebon dengan nama Kiai Bagus Pasai. Kemudian Sunan Gunung Jati menyerahkan kepeminpinan kesultanan Cirebon kepada putranya pangeran Muhammad Arifin dan Fatahillah diangkat sebagai penasehat Sultan. Sementara Sunan gunung jati lebih memusatkan syiar islamnya di pesantren pasambangan di gunung jati.

Baru lima tahun masa kepeminpinan Muhammad Arifin wafat, sejak itu kesultanan Cirebon diberikan pada hasanuddin dan sejak saat itu kesultanan Cirebon berada di bawah pemerintahan banten dan hanya di pimpin oleh seorang adipati yang pada waktu itu diduduki oleh menantu raden Fatahillah.

Pada tahun 1568 Raden Syarif Hidayatullah atau Sunan Gunung Jati wafat, beliau dimakamkan di sebuah bukit bernama gunung sembung, yang kemudian menjadi komplek pemakaman keluarga beliau.

Sampai sekarang makam tersebut menjadi pusat Ziarah bagi kaum muslimin sebagai rasa hormat atas segala pengorbanan dan perjuangan para wali dan mengingat akan kematian. (dats)

Referensi:
wikipedia dan jejak sejarah-budaya.com

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here