Beranda organisasi 53 Tahun Sejarah Baladhika Karya Melawan Komunis Anti PKI

53 Tahun Sejarah Baladhika Karya Melawan Komunis Anti PKI

0
996

Cikal bakal berdirinya Organisasi Baladhika Karya, diawali sejak tanggal 24 Oktober 1963. Dimana hari tersebut, ada sebuah Pyshical Battle Unit yang di bentuk oleh ajudan Menhankam Pangab Letjen A. Yani yaitu Mayor Suhardiman dan rekannya Adolf Rahman (dari sipil).

Hal tersebut diperuntukkan sebagai garda yang berada di garis depan dalam menghadapi Pemuda Rakyat (organisasi kepemudaan yang berhaluan Komunis dan merupakan underbow PKI (Partai Komunis Indonesia).

Selanjutnya pada 20 Juli 1960, mayor Suhardiman juga di mandatkan oleh Letjen A Yani, dengan sepersetujuan Presiden pertama Sukarno untuk membuat sebuah gerakan yang dapat menahan laju ideologi PKI. Karena dikhawatirkan PKI akan mengambil alih kekuasaan dan mengganti dasar negara serta ideologi bangsa yaitu Pancasila dengan ideologi Komunis.

Atas dasar itu maka, di bentuklah SOKSI (Sentral Organisasi karyawan Sosialis Indonesia) yang memiliki tekat dengan semangat nasionalisme dan dengan slogan strateginya “merah di lawan merah”. Karena hal ini identik pada brand komunis yang berwarna merah. Oleh karena itu, SOKSI juga mengambil warna merah sebagai warna perjuangan dan keberanian dalam menghadapi pembelotan kepada bangsa.

Dalam perjalanan SOKSI ini, Mayor Suhardiman membentuk lagi pecahan lembaga-lembaga konsentrasi yang juga di peruntukkan dapat menandingi pergerakan organisasi underbow PKI. Adapun dari pecahan lembaga-lembaga tersebut diantaranya,

  • SOBSI (PKI) VS SOKSI (nasionalis)
  • Gerwani ( PKI ) VS Gerwasi (Gerakan Wanita Sosialis Indonesia)
  • Pemuda Rakyat ( PKI ) VS Satuan Serba guna (SS adalah cikal bakal Baladhika Karya)

Melalui organisasi-organisasi tersebut, pergerakan melawan laju pesatnya politik PKI terhadap rakyat, sangat mujarab. Hal ini terbukti efektif dalam menanggulangi banyaknya rakyat yang akan masuk SOBSI namun akhirnya memilih SOKSI.

Tidak hanya itu, akibat adanya organisasi tandingan PKI tersebut, banyak rakyat yang cenderung malah menjadikan SOBSI sebagai musuh, serta banyak pula dari rakyat, yang mau masuk ke SOBSI namun, keliru masuk ke SOKSI.

Hingga pada akhirnya, gerakan SOKSI dapat menyelamatkan banyak generasi dan masyarakat dari kekeliruan memilih untuk tidak mengikuti ideology komunis yang di gembar gemborkan oleh PKI dengan bahasa khas PKI bahwa, mereka adalah “dewa” penolong dan penyelamat rakyat dari kemiskinan, keterbelakangan dan keterpurukan.

Selanjutnya, pergerakan melawan Komunis di berbagai daerah kala itu, sangat sengit, terutama di Sumatera Utara. Dimana daerah tersebut di kenal dengan peristiwa tanjung morawa atau bandar Betsi, yang ditandai dengan gugurnya penjaga areal kebun sawit PTPN Peltu Sudjono, akibat diserbu oleh Pemuda Rakyat. Kemudian di Sumatera Selatan, Sulawesi Selatan dan DKI Jakarta, dengan melihat kurangnya koordinasi dalam pergerakan dari pusat sampai ke daerah maka mayor Suhardiman membuat strategi militer dan di bentuklah “Brigade Satuan Serbaguna”. Hal ini agar pergerakan perlawanan dapat terkoordinasi dengan lebih baik dan terukur.

Dalam perjalanannya, SOKSI membutuhkan pasukan penggebrak yang berani, loyal dan mempunyai semangat nasionalisme untuk membela dan menyelamatkan bangsa dan negaranya dari cengkeraman paham komunis. Dengan ini lahirlah Brigade “Satuan Serbaguna” (SS) dengan seragam berwarna biru tua kehitaman yang kala itu mengambil corak lebih banyak dari angkatan bersenjata dan kepolisisan. Hal ini, diharapkan agar dalam pergerakannya lebih leluasa dalam melakukan penyusupan, penggalangan dan penindakan ataupun operasi di lapangan.

Dalam perjalannya SS mengalami beberapa kali pergantian atau penyempurnaan nama, menjadi Pemuda Pelopor Progresif ( P3I ), Baladhika Wirapati dan akhirnya menjadi Baladhika Karya”. Dimana sejarah mencatat bahwa para pendiri Baladhika Karya antara lain,

  • Kamaludin Djamin
  • Yaseanowas
  • Harlem Simandjuntak
  • Suhardiman dan
  • Adolf Rachman.

Dimana, meraka adalah sebagian pahlawan-pahlawan yang merintis pergerakan melawan komunis dibawah payung Baladhika Karya di daerah masing-masing, demi mempertahankan Kedaulatan bangsanya.

Pada sisi lain, dinamika perkembangan baik yang terjadi pada lingkungan strategis global, regional dan nasional telah mendorong perubahan yang signifikan terkait dengan kehidupan berbangsa, bernegara dan bermasyarakat. Secara perlahan namun pasti gelombang liberalisasi memasuki ruang batin dan lahir kehidupan berbangsa dan bernegara di Indonesia. Jika era tahun 1960-an Baladhika Karya harus berhadapan dengan musuh nyata yakni SOBSI dan Pemuda Rakyat yang berhaluan pada PKI maka, saat ini Baladhika Karya harus berhadapan dengan musuh laten yakni liberalisasi. Dimana hal tersebut yang telah nyata-nyata mereduksi sendiri-sendi mendasar dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagaimana yang tertuang dalam Pancasila dan UUD 1945.

Dampak lebih jaunya adalah Pancasila hingga lendasan negara UUD 1945, seolah menjadi “tumpul” dan tidak bisa di Implementasikan. Padahal, seudah jelas teruji dan terbukti bahwa Pancasila dan UUD 1945 telah mampu menjadi ideologi negara yang mampu membendung persebaran Ideologi komunis selama beberapa decade terakhir.

Dengan mengambil spirit perjuangan para pendiri Baladhika Karya dan elan perjuangan Baladhika Karya dalam menghadapi SOBSI dan Pemuda Rakyat dimana, Baladhika Karya mendasarkan perjuangannya pada Pancasila dan UUD 1945 maka, melalui forum Rapimnas II Baladhika Karya pada tanggal 26 hingga 28 Februari 2016, di Wisma Wiladatika Cibubur yang kemudian dengan keinginan 2 sampai 3 Dewan Pimpinan Daerah selaku pemilik suara yang sah, Rapimnas II di tingkatkan menjadi Musyawarah Besar Luarbiasa (Mubeslub). Dengan terselengaranya acara mubeslub terpilihlah dari hasil voting tersebut menghasilkan bakal calon diantaranya, Ferry Juan dan Hendryk L Karo.

Dimana, Sdr Ferry Juan terpilih sebagai Ketua Umum Baladhika Karya sekaligus penyelenggara Rapimnas II tahun 2016.

Berdasarkan pada pandangan umum Depidar-Depidar dalam forum Rapimnas II, Depidar-Depidar mengamanatkan diselenggarakannya Mubeslub Baladhika Karya guna melakukan regenerasi, revitalisasi, reorganisasi dan rekaderisasi dalam tubuh Baladhika Karya secara komperhensif dan simultan. Karena, menurut pandangan dari para Depidar selaku pemilik suara yang sah, perjalanan Depipus Baladhika Karya kurang optimal dalam rangka menjalankan adart organisasi. Berangkat dari desakan diadakannya Mubeslub tersebut, terpilihlah Sdr. Hendryk L Karosekali sebagai Ketua Umum Baladhika Karya melalui mekanisme voting yang berlangsung secara demokratis, semangat kebersamaan, dan konstitusional, dengan perolehan suara; Ferry Juan : 4 suara, Hendryk L Karosekali : 11 suara dan 2 suara abstain.

Selain itu, dalam sejarah perjalanan Baladhika Karya baru kali ini pemilihan Ketua Umum terpilih di pilih melalui mekanisme pemilihan. Karena, sebagaimana di ketahui sejak pertama dan samapai periode kepemimpinan Sdr. Ferry Juan Ketua Umum Baladhika selalu di tunjuk oleh Pendiri Utama Baladhika Karya yaitu ; Mayjen (Purn ) TNI Suhardiman, dan setelah beliau tiada maka mekanisme organisasi di kembalikan pada mekanisme Demokrasi sebagai semangat kebersamaan Persaudaraan Baladhika Karya.

Semangat para pendiri dan perjuangan Baladhika Karya pada era tahun 1960-an ini, juga mengilhami peserta Mubeslub untuk mengembalikan kembali Baladhika Karya pada khithoh perjuangannya. Dimana secara sosiologi dan historis, kelahiran Baladhika Karya pada 24 Oktober 1963 tidak terlepas dari permasalahan bangsa hingga membuat pertaruhan jati diri bangsa yang terancam akan luluh lantak dalam rangka perang ideologi, dengan mulai mengakarnya ideologi komunis yang perlahan masuk dalam pori-pori kehidupan masyarakat, terutama kaum buruh dan petani. Kenyataan ini yang menimbulkan motivasi serta aspirasi kelahiran Baladhika Karya yang bernama pertama kali adalah Satuan Serbaguna ( SS ) sekaligus dituangkan dalam rumusan tujuan berdirinya, yaitu :

  • Mempertahankan Negara Kesatuan Republik Indonesia serta menjaga dan mengangkat derajat bangsa utamanya rakyat Indonesia.
  • Menjaga dan menimplementasika nilai -nilai keluhuran pancasila.

Ini menunjukkan bahwa Baladhika Karya bertanggung jawab terhadap permasalahan bangsa dan negara Indonesia serta bertekad mewujudkan nilai-nilai luhur Pancasila dalam kehidupan manusia Indonesia secara utuh.

Makna rumusan tujuan itu akhirnya membentuk wawasan dan langkah perjuangan Baladhika Karya kedepan yang terintegrasi dalam dua aspek persatuan dan aspek ke-sebangsaan. Aspek persatuan tercermin melalui komitmen Baladhika Karya untuk selalu mewujudkan nilai-nilai Pancasila secara utuh dalam kehidupan berbangsa dan bernegara sebagai pertanggung jawaban fungsi insan Pancasila. Sedangkan aspek kesebangsaan adalah komitmen Baladhika Karya untuk senantiasa bersama-sama seluruh rakyat Indonesia merealisasikan cita-cita proklamasi kemerdekaan Republik Indonesia demi terwujudnya cita-cita masyarakat yang demokratis, berkeadilan sosial dan berkeadaban.

Dalam sejarah perjalanan Baladhika Karya pelaksanaan komitmen persatuan dan kesebangsaan merupakan garis perjuangan dan misi Baladhika Karya yang pada akhirnya akan membentuk kepribadian Baladhika Karya sebagai Masyarakat Karya dalam totalitas perjuangan bangsa Indonesia kedepan.

Khitoh Baladhika Karya sebagaimana rumusan tujuan dan maknanya tersebutlah yang mengilhami para peserta Mubeslub untuk mengembalikan lambang Baladhika Karya sebagaimana lambang pertama Baladhika Karya pada saat didirikan. Hal ini dianggap sebagai salah satu representasi kembalinya Baladhika Karya kepada khitoh perjuangannya.

Dan pada rapat Pleno ke 7 di ajang Mubeslub tersebut di sepakati untuk Baladhika Karya kembali ke khitoh tentang penggunaan Lambang yang di kembalikan ke awal terbentuknya tanpa meninggalkan semboyan “Jaya Pasopati Pratiwi“.

Sementara untuk seragam loreng merah, hijau dan hitam bertuliskan Baladhika karya, yang pada awalnya alur loreng mengalir ke bawah dan pada tahun 80’an juga di rubah mengarah ke samping, maka di kembalikan lagi ke awal perjuangan menjadi mengalir ke bawah dan atas kembali.

Kondisi dan situasi bangsa ini sekiranya menuntut perjuangan dan pengorbanan yang tulus ikhlas dari anak-anak bangsanya untuk tetap dengan semangat persaudaraan bersama-sama mempertahankan dan bahu-membahu membangun bangsa dan negaranya dari rongrongan pihak luar, maupun pengkhianatan dari dalam.

Hal ini ditujukan pula sebagai pengalaman masa lalu yang membuat bangsa Indonesia harus mejadikan sebuah pembelajaran bagaimana menjadi bangsa yang Berdaulat secara Politik, Berdikari secara Ekonomi, Berkepribadian secara Sosial Budaya.

Sehingga, derajat dan martabat bangsa Indonesia sebagai bangsa yang besar bukan hanya slogan, sebagaimana kejayaan Sumpah Palapa dapat menjadi sejarah yang dapat terulang dan Indonesia bisa menjadi Mercusuar Dunia juga menjadi negara yang di perhitungkan dalam percaturan dunia.

Demikian sekilas gambaran perjalanan 53 tahun Baladhika Karya, dari hasil Rapimnas II dan Mubeslub tahun 2016.

Hingga diera saat ini, Baladhika Karya terus melakukan pengembangan dalam segala aspek terkait kesejahteraan Rakyat Indonesia. Salah satunya dengan terus menggalang kader disetiap daerah. Adapun salah satu dari wujud perkembangan tersebut diantaranya seperti adanya pelantikan Ketua Depicab dan stuktur keanggotaan di Bondowoso pada bulan September 2018. Dimana, dalam pengkaderan tersebut telah terpilih LUTFIAH HARIATI sebagai Ketua Depicab Baladhika Karya Kabuten Bondowoso. Dalam pelantikan tersebut, Lutfiah menyampaikan visi misi gerakan kedepan diantaranya,

  • Penguatan ekonomi dengan mengembangkan UMKM yang masih banyak tidak tersentuh oleh pemerintah kab Bondowoso umumnya dan kader BALADHIKA KARYA khususnya.
  • Membentuk koperasi yang menaungi umkm.
  • Investasi suara 5 tahu ke depan untuk jaringan akar rumput melalui karya-karya terbaik putra putri Bondowoso.

Tentu, penyampaian rencana visi misi tersebut disambut baik oleh segenap pengurus pusat BALADHIKA KARYA dan hal ini disertai dengan diserahkannya bendera kebesaran dari pengurus pusat ke Ketua Depicab.

Semoga Baladhika Karya semakin Jaya, dan semoga Tuhan Semesta Alam selalu melindungi perjuangan putra-putri bangsa dalam mempertahankan Pancasila, UUD ’45, NKRI dan Bhinneka Tunggal Ika sebagai amanah Ibu Pertiwi dalam membentuk masyarakat yang adil dan makmur, “gemah ripah lohjinawi tata tentrem kartoraharjo”, Sepi Ing Pamrih- Rame ing Gawe, Rawe-rawe rantas malang-malang putung, Maju Terus Pantang Mundur”.

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan