Beranda Artikel Keunikan Hidup Pangeran Diponegoro Dalam Perjuangan

Keunikan Hidup Pangeran Diponegoro Dalam Perjuangan

0
2555

Nama Pangeran Diponegoro sebenarnya berasal dari bahasa Sansekerta yang berarti Dipa atau ‘cahaya’ dan Nagara yang berarti ‘negara’. Secara keseluruhan namanya memiliki arti ‘cahaya negara’ yang merupakan gelar kebangsawanan di Keraton Jawa Tengah bagian selatan. Pangeran Diponegoro menjelaskan asal muasal namanya tersebut, kepada pendamping perwira Jerman, Justus Heinrich Knoerle, selama perjalanan pembuangannya ke Manado pada (3 Mei-12 Juni 1830).

Selain itu, beliau adalah panglima Perang tanah Jawa yang dianggap paling mumpuni. Kisah kepahlawanannya sudah sangat terkenal di seantero Tanah Air.

Perang Jawa yang terjadi selama lima tahun menjadi sejarah besar bukan hanya lantaran biayanya dan korbannya yang berjumlah fantastis. Ini adalah perang yang membuat Belanda hampir meruntuhkah kedaulatan Keraton Yogyakarta. Perang selama lima tahun (20 Juli 1825-28 Maret 1830) ini penuh dengan aspek sosial politik, termasuk kebencian Diponegoro terhadap korupsi dan keinginannya membentuk negara Islam.

Peter Carey, sejarawan Universitas Oxford, yang telah meneliti Diponegoro selama 30 tahun mengatakan banyak aspek dari sang pangeran yang, selain mistis dan misterius, ternyata lebih “aneh dibandingkan khayalan”. Di bawah ini sepuluh di antaranya:

Berdasarkan catatan sejarah, kehidupan Pangeran Diponegoro dengan ketujuh istri resmi selama hidupnya, memiliki paling tidak 17 anak. Tujuh dari anak-anaknya (enam laki-laki dan satu perempuan) lahir selama Diponegoro dalam pembuangan di Manado pada (1830-1833) dan di Makassar pada (1833-1855).

Diponegoro bukanlah sosok asli keturunan Jawa. Silsilahnya lebih mencerminkan keanekaragaman Nusantara. Sebab, neneknya yang perkasa, Ratu Ageng Tegalrejo (1734-1803) yang mengasuhnya selama masa muda di Tegalrejo (1793-1803) adalah keturunan pertama sultan dari Bima (Sumbawa), Abdulkadir I (memerintah 1621-1649).

Sementara neneknya dari pihak ayah, Ratu Kedaton (1752-1820) adalah putri Madura dari garis para penguasa Pamekasan. Kakeknya yang gagah adalah Pangeran Cakradiningrat II, seda Kamal, yang meninggal pada tahun 1707.

Baca Juga:  Predeksi Kembalinya Sabdo Palon di Bumi Nusantara

Tidak hanya itu, keistimewaan Diponegoro yang dilahirkan pada bulan Ramadan, tepat sebelum waktu sahur, yakni pukul 04.00 dinihari pada 11 November 1785 ini, wafat hampir bertepatan waktunya pada pagi yang sama ketika ia lahir hampir 70 tahun kemudian (8 Januari 1855) di Benteng Rotterdam, Makassar.

Salah satu barang pribadi yang ditinggalkannya, yang juga dilihat Peter Carey ketika mengunjungi keluarga Diponegoro di Makassar pada bulan September 1972, adalah sebuah syal bermotif Paisley. Syal ini biasa ia pakai untuk mengelap air sirih dari mulutnya.

Walau semasa hidupnya, tubuh Diponegoro terlihat kecil, tapi fisiknya sangat liat dan mampu mengelabui tidak kurang dari 500 pasukan gerak-cepat Belanda yang sangat kuat selama hampir tiga bulan. Selama waktu itu, sang pangeran, yang kaki kanannya sedang terluka karena melompat memasuki jurang untuk menghindari tentara Belanda, bertahan dengan cara tidur di dalam gua, di bawah pohon, dan dalam gubuk yang ditinggalkan belanda. Diponegoro mengikuti jejak badak Jawa ke dalam hutan dan bersembunyi di curamnya gunung-gunung di selatan Kadu, timur Bagelen, dan Banyumas. Selama waktu ini dia hanya ditemani oleh dua punakawannya, Joyo Suroto (Roto) dan Banteng Wareng, yang merupakan seorang pemuda kerdil yang cerdik.

Kesenangannya berangkat ziarah, yang sering dilakukan secara rutin dengan berjalan ke mana saja sambil bertelanjang kaki dan berpakaian seperti santri. Hal itu ia lakukan agar tidak ada seorang pun yang mengenalinya. Selama perjalanan ini ia kadang bisa menempuh jarak sampai 100 kilometer per hari.

Diponegoro adalah penunggang kuda yang hebat. Sebelum pecah Perang Jawa, ia memiliki istal yang sangat besar di Tegalrejo. Ia memiliki lebih dari 60 pengurus kuda hanya untuk memotong rumput dan merawat kuda-kudanya. Salah satu kuda favoritnya, Kyai Gentayu, adalah seekor kuda hitam dengan kaki putih. Kyai Gentayu menjadi pusaka hidup yang dibawanya ke peperangan.

Baca Juga:  Tragedi Tewasnya Pahlawan Blambangan Merebut Benteng Bayu

Diponegoro sangat suka berkebun. Sang pangeran mengambil peran aktif dalam perancangan dan pengembangan tanahnya di Tegalrejo, yang diwariskan oleh nenek buyutnya ketika meninggal (17 Oktober 1803). Dia mengatakan pada orang Belanda yang menangkapnya, “Apa saja bisa tumbuh subur di tanah Jawa”. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here