Beranda Sejarah Kepemimpinan Siliwangi dan Liku Keislaman Pajajaran

Kepemimpinan Siliwangi dan Liku Keislaman Pajajaran

0
2484

Dalam naskah kuno kitab Suwasit, Maharaja Prabu Siliwangi dikenal dalam sejarah Sunda sebagai Raja dari kerajaan Pajajaran. Kitab yang ditulis dengan menggunakan bahasa sunda kuno ini, terbuat dari selembar kulit Macan putih yang di temukan di desa pajajaran Rajagaluh Jawa Barat.

Prabu Siliwangi termasuk seorang raja besar pilih tanding sakti Mandraguna, Arif & Bijaksana dalam memerintah Rakyatnya di kerajaan Pakuan Pajajaran. Beliau adalah seorang putra dari Prabu Anggalarang atau Prabu dewa Niskala Raja dari kerajaan Gajah dari dinasti Galuh yang berkuasa di Surawisesa atau Kraton Galuh di Ciamis Jawa barat.

Pada masa mudanya beliau dikenal dengan nama Raden Pamanah Rasa. Sejak kecil beliau Diasuh oleh Ki Gedeng Sindangkasih, seorang juru pelabuhan Muara Jati di kerajaan singapura
(seblum bernama kota cirebon).

Setelah Raden pemanah Rasa Dewasa & sudah cukup ilmu yang diajarkan oleh ki gedeng sindangkasih. Beliau kembali ke kerajaan Gajah untuk Mengabdi kepada ayahandanya prabu Angga Larang/dewa Niskala. Setelah itu, Raden pemanah Rasa Menikahi Putri ki gedeng sindangkasih yang bernama nyi Ambet kasih.

Ketika itu Kerajaan gajah dalam pemerintahan Prabu dewa Niskala atau prabu Angga Larang sedang dalam masa keemasanya. Wilayahny terbentang Luas dari Sungai Citarum di Karawang yang berbatasan Langsung dengan kerajaan Sunda smpai sungai ci-pamali berbatasan Dengan Majapahit.

Adapun silsilah dari Prabu Siliwangi sebagai keturunan ke-12 dari Maharaja Adimulia adalah sebagai berikut.

MAHA RAJA ADI MULYA / RATU GALUH AJAR SUKARESI Menikahi Dewi Naganingrum / Nyai Ujung Sekarjingga berputra :
PRABU CIUNG WANARA berputra :
SRI RATU PURBA SARI berputra :
PRABU LINGGA HIANG berputra :
PRABU LINGGA WESI berputra :
PRABU SUSUK TUNGGAL berputra :
PRABU BANYAK LARANG berputra :
PRABU BANYAK WANGI berputra :
PRABU MUNDING KAWATI / PRABU LINGGA BUANA berputra :
PRABU WASTU KENCANA ( PRABU NISKALA WASTU KANCANA )berputra :
PRABU ANGGALARANG ( PRABU
DEWATA NISKALA ) menikahi Dewi Siti Samboja / Dewi Rengganis berputra :

SRI BADUGA MAHA RAJA PRABU SILIHWANGI/PRABU PEMANAH RASA (1459-1521M)

Pada suatu Hari Prabu AnggaLarang Geram karna Banyak dari penduduknya di muara jati yang beragama Hindu Pindah keagama Baru yang dibawa oleh Alim Ulama dari Campa kamboja bernama Syekh Quro.

Agama tersebut bernama Islam maka, di utuslah beberapa orang kepercayaannya untuk mengusir ulama itu dari tanah jawa.

Konon kabarnya, ulama besar yang
bergelar Syekh Qurotul’ain dengan nama aslinya Syekh Mursyahadatillah atau Syekh Hasanudin adalah seorang yang arif dan bijaksana dan termasuk seorang ulamak yang hafidz Al-qur’an serta ahli Qiro’at yang sangat merdu suaranya.

Syekh Quro adalah putra ulama besar
Mekkah, penyebar agama Islam di negeri Campa (Kamboja) yang bernama Syekh Yusuf Siddik yang masih keturunan dari Sayidina Hussen Bin Sayidina Ali RA dan
Siti Fatimah putri Rosulullah SAW.

Sebelum Beliau datang ke tanah jawa sekitar tahun 1409 Masehi, Syekh Quro pertama kali menyebarkan Agama islam di negeri Campa Kamboja, lalu ke daerah Malaka dan dilanjutkan ke daerah Martasinga Pasambangan dan Japura hingga akhirnya sampailah ke Pelabuhan Muara Jati yang saat itu syahbandar di gantikan oleh ki gedeng Tapa karna Ki gedeng sindangkasih telah Wafat.

Disini beliau disambut dengan baik oleh Ki Gedeng Tapa atau Ki Gedeng Jumajan Jati yang masih keturunan Prabu Wastu Kencana Ayah dari Prabu Anggalarang.

Oleh masyarakat sekitar, mereka sangat tertarik dengan ajaran yang disampaikan oleh Syekh Quro yang di sebut ajaran agama Islam.

Sampailah para utusan itu di depan pondokan syech Quro, utusan itu menyampaikan perintah dari rajanya agar penyebaran agama Islam di muara jati Harus segera dihentikan.

Perintah dari Raja Gajah tersebut
dipatuhi oleh Syeh Quro namun, kepada utusan prabu Anggalarang yang mendatangi Syekh Quro, beliau
mengingatkan meskipun ajaran agama Islam dihentikan penyebarannya.

Namun kelak, dari keturunan Prabu Anggalarang akan ada yang menjadi seorang Wali Allah. Beberapa saat kemudian beliau pamit pada Ki Gedeng Tapa untuk kembali ke negeri Campa.

Diwaktu itu pula Ki Gedeng Tapa menitipkan putrinya yang bernama Nyi Mas Subang Larang, untuk ikut dan berguru pada Syekh Quro. BerangkatLah Syeh Quro bersama Nyi subang Larang dengan menggunakan Perahu kembali ke negri campa kamboja.

Sebagai Seorang putra Raja Beliau tidak Betah tinggal diam di istana, Raden Pamanah Rasa kerap mengembara Menyamar menjadi Rakyat Jelata dari daerah satu ke daerah Lainya guna menolong yang Lemah & Memberantas Keangkaramurkaan. Selain itu beliau juga gemar bertapa & mencari kesaktian.

Didalam salah satu pengembarannya, Ketika beliau hendak beristirhat di Curug atau air terjun Sawer di daerah Majalengka, Raden pemanah Rasa dihadang oleh siluman Harimau Putih Pertempuran pun tak terelakkan.

Baca Juga:  Sejarah Tujuan Berdirinya Nahdatul Ulama

Raden Pamanah Rasa dan Siluman Harimau Putih yang diketahui memiliki kesaktian tinggi itupun bertarung sengit hingga setengah hari. Namun kesaktian Prabu Pamanah Rasa berhasil
memenangi pertarungan dan membuat siluman Harimau Putih tunduk kepadanya.

Hingga Harimau Putih itu memberi sebuah pusaka yg terbuat dari kulit macan, dengan pusaka itu beliau bisa terbang laksana burung, menghilang tak terlihat oleh mata (ajian Halimun), berjalan secepat angin (Ajian saepi Angin)& bisa mendatangkan bala tentara jin.

Harimau itupun memutuskan untuk mengabdi kepada Raden Pamanah Rasa sebagai pendamping beliau. Dengan tunduknya Raja siluman Harimau Putih maka, meluaslah wilayah kerajaan Gajah.
Siluman Harimau Putih beserta pasukannya. Selanjutnya harimau itu dengan setia mendampingi dan membantu Raden Pamanah Rasa ketika dibutuhkan.

Salah satunya kala kerajaan Gajah
menundukkan kerajaan yang memeranginya, siluman Harimau Putih juga turut membantu Raden Pamanah rasa saat kerajaan Pajajaran diserang oleh pasukan Mongol pada Masa kekaisaran Kubilai khan.

Karena jasa-jasa anaknya yang begitu besar dalam Kejayaan kerajaan gajah maka, diangkatlah Raden pemanah Rasa sebagai Raja kedua di kerajaan tersebut.
Prabu Pamanah Rasa pun selanjutnya
mengubah nama kerajannya menjadi
kerajaan Pajajaran yang berarti menjajarkan atau menggabungkan kerajaan Gajah dengan kerajaan Harimau Putih.

Seiring meluasnya wilayah kerajaan Pajajaran, Prabu Pamanah Rasa kemudian membuat senjata sakti yang pilih tanding. Beliau menyuruh Eyang Jaya Perkasa untuk membuat senjata kujang berbentuk harimau sebanyak tiga Buah, dan tiga warna yaitu, Kuning, Hitam dan Putih. Senjata pertama yang berwarna hitam, dibuat dari batu meteor yang jatuh dari langit dan dibakar dengan kesaktian Prabu Pamanah Rasa Dalam membentuk besi yang diperuntukkan untuk membuat senjata tersebut.

Senjata Kedua dibuat dari air, api yang dingin, yang warnanya kuning dibekukan menjadi besi kuning, Senjata ketiga dari besi biasa yang direndam dalam air hujan menjadi putih berkilau hingga senjata itu selesai dalam waktu tujuh hari.

Semalam penuh Pengeran Pamanah
Rasa memikirkan nama untuk senjata sakti tersebut, tepat ayam berkokok ditemukan nama untuk ketiga barang tersebut, diberi nama KUJANG (Senjata Berbentuk Harimau), dikarenakan
Pusaka itu ada tiga,Maka kujang tersebut di beri nama KUJANG TIGA SERANGKAI, yang memiliki arti beda antar ketiganya.

Senjata itu berbentuk melengkung dengan ukiran harimau di gagangnya, ukiran harimau di gagang Kujang konon sebagai pengingat terhadap pendamping setianya, siluman Harimau Putih. Dan pusaka itu yang kini menjadi lambang dari propinsi Jawa Barat.

Beberapa Tahun kemudian Syekh Quro datang kembali ke negeri Pajajaran beserta Rombongan para santrinya, dengan menggunakan Perahu dagang dan serta didalam rombongan adalah, Nyi Mas Subang Larang, Syekh Abdul Rahman, Syekh Maulana Madzkur dan Syekh Abdilah Dargom.

Setelah Rombongan Syekh Quro melewati Laut Jawa dan Sunda Kelapa dan masuk sungai Citarum yang waktu itu di sungai tersebut ramai dipakai Keluar masuk para
pedagang ke Pajajaran akhirnya,
rombongan beliau singgah di Pelabuhan Karawang. Hal ini diterangkan dalam buku sejarah masa silam Jawa Barat terbitan tahun 1983.

Mereka masuk Karawang sekitar 1416 M yang mungkin dimaksud Tangjung Pura dimana, kegiatan Pemerintaahan dibawah kewenangan Jabatan Dalem. Karena rombongan tersebut, sangat menjunjung tinggi peraturan kota Pelabuhan sehingga, aparat setempat sangat menghormati dan, memberikan izin untuk mendirikan Mushola pada 1418 Masehi sebagai sarana Ibadah sekaligus tempat tinggal mereka.

Setelah beberapa waktu berada di
pelabuhan Karawang, Syekh Quro
menyampaikan Dakwah-dakwahnya di Mushola yang dibangunya (sekarang Mesjid Agung Karawang ). Uraian dakwahnya dikenal mudah dipahami dan mudah diamalkan. Ia beserta santrinya juga memberikan contoh pengajian Al-Qur’an menjadi yang dapat menjadi daya tarik tersendiri di sekitar karawang.

Ulama besar ini sering mengumandangkan suara Qorinya yang merdu bersama murid-muridnya, Nyi Subang Larang, Syekh Abdul Rohman, Syekh Maulana Madzkur dan santri lainnya seperti, Syekh Abdiulah Dargom alias Darugem alias Bentong bin Jabir Modafah alias Ayekh Maghribi keturunan dari sahabat nabi (sayidina Usman bin Affan).

Berita kedatangan kembali Syekh
Quro, rupanya terdengar oleh Prabu
Anggalarang yang pernah melarang
penyebaran agama islam di muara jati sehingga, Prabu Anggalarang
mengirim utusannya untuk menutup
pesantren Syekh Quro dengan paksa.
Utusan yang datang itu adalah Putra Mahkota yang bernama Raden Pamanah Rasa. Sesampainya di depan pesantren Raden pemanah Rasa tertambat hatinya oleh alunan suara merdu yang dikumandangkan oleh Nyi Subang Larang,” saat menlantunkan Ayat-ayat Al-Qur’an,”.

Prabu Pamanah Rasa akhirnya
mengurungkan niatnya untuk menutup pesantren tersebut. Atas kehendak yang Maha Kuasa Prabu Pamanah Rasa, menaruh perhatian khususnya pada Nyi Subang Larang yang cantik dan merdu suaranya. Beliaupun menyampaikan keinginanya untuk mempersunting Nyi Subang Larang sebagai permaisurinya.
Pinangan tersebut diterima dengan syarat mas kawinnya yaitu Lintang Kerti Jejer Seratus, yang di maksud itu adalah simbol dari Tasbeh yang merupakan alat untuk berdzikir.

Baca Juga:  Trik Nasi Hangat Ala Leluhur Kerajaan Bumi Pertiwi

Selain itu, Nyi Subang Larang mengajukan syarat lain agar kelak anak-anak yang lahir dari mereka harus menjadi Raja. Seterusnya menurut cerita, semua permohonan Nyi Subang Larang disanggupi oleh Raden Pamanah Rasa, atas petunjuk Syekh Quro, Prabu Pamanah Rasa segera pergi ke Mekkah.
Di tanah suci Mekkah, Prabu Pamanah Rasa disambut oleh seorang kakek penyamaran dari Syekh Maulana Jafar Sidik.

Prabu Pamanah Rasa merasa keget, ketika namanya di ketahui oleh seorang kakek dan Kekek itu, bersedia
membantu untuk mencarikan Lintang Kerti Jejer Seratus dengan syarat harus mengucapkan Dua Kalimah Syahadat. Sang Prabu Pamanah Rasa denga tulus dan ikhlas mengucapkan dua Kalimah Syahadat.

Semenjak itulah, Prabu Pamanah Rasa atau prabu silihwangi masuk agama slam dan menerima Lintang Kerti Jejer Seratus atau Tasbeh, mulai dari itu pula Prabu Pamanah Rasa diberi ajaran tentang agama islam yang sebenarnya.
Setelah itu Prabu Pamanah Rasa segera kembali ke Kraton Pajajaran, untuk melangsungkan pernikahannya denga Nyi Subang Larang waktu terus berjalan maka pada tahun 1422 M, pernikahan di langsungkan di Pesantren Syekh Quro dan dipimpin oleh Syekh Quro sendiri.

Hasil dari pernikahan tersebut mereka dikarunai 3 anak yaitu,
1.Raden Walangsungsang/kian santang (1423 Masehi)

2.Nyi Mas Rara Santang (1426 Masehi)

3.Raja Sangara (1428 Masehi).

Nama Silihwangi pun & dikenal sebagai raja yang mencintai rakyatnya, beliau meminta agar pajak hasil bumi tidak memberatkan rakyat dan juga mengatur pemerintahan dengan cukup baik sehingga Pajajaran disegani.

Kemudian Prabu Silihwangi Menikahi putri Prabu Susuk tunggal Raja dari kerajaan Sunda, yang bernama KENTRING MANIK MAYANG SUNDA. Jadilah antara Raja Sunda dan Raja Galuh yang seayah ini menjadi besan. Pada tahun 1482, Prabu Dewa Niskala menyerahkan Tahta Kerajaan Galuh kepada puteranya Raden pemanah Rasa atau Jaya Dewata.

Demikian pula dengan Prabu
Susuktunggal yang menyerahkan Tahta Kerajaan Sunda kepada menantunya ini(Jayadewata). Atas peristiwa yang terjadi pada tahun 1482 itu, kerajaan
warisan Wastu Kencana berada kembali dalam satu tangan.

Beliau memutuskan untuk berkedudukan di Pakuan sebagai “Susuhunan” karena ia telah lama tinggal di sina menjalankan pemerintahan sehari-hari mewakili mertuanya. Sekali lagi Pakuan menjadi pusat pemerintahan di zaman Pajajaran diawali oleh pemerintahan Prabu Jayadewata yang bergelar Sri Baduga Maharaja prabu silihwangi yang memerintah selama 39 tahun (1482 – 1521).

Pada masa inilah Pakuan Pajajaran mencapai puncak perkembanganya.
Gemah Ripah Loh Jinawi, daerah kekuasaanya sepertiga pulau Jawa yang terbentang Luas dari ujung kulon sampai ke dataran tinggi Dieng jawa tengah, wilayah ini kala itu di sebut tataran Sunda.

Singkat Cerita Setelah Prabu Silihwangi di tinggal nyi Subang Larang ke Rahmat Allah, istri yang paling di cintainya.
Beliau mulai Melupakan islam yang pernah di ikrarkanya, beliau lebih memilih Kembali Memeluk Agama yang di anut leluhurnya (sunda wiwitan).

Sedangkan Raden Walangsungsang yang juga putra mahkota Kerajaan Pajajaran berkeinginan untuk berguru agama Nabi Muhammad saw. Lalu, ia mengutarakan maksudnya kepada ayahandanya, Prabu Siliwngi. Namun, Prabu Siliwangi melarang bahkan mengusir Walangsungsang dari istana.
Pangeran walangsungsang lahir dikeraton Pajajaran bertepatan dengan Tahun 1423 Masehi. Pada masa mudanya ia memperoleh pendidikan yang berlatar belakang kebangsawanan dan politik,
kurang lebih 17 tahun lamanya ia hidup di Istana Pajajaran.

Pada suatu malam, Walangsungsang melarikan diri meninggalkan istana Pakuan Pajajaran menuruti panggilan mimpi untuk berguru agama nabi kepada Syekh Nurjati, seorang pertapa asal Mekah di bukit Amparan Jati cirebon. Dalam perjalanan mencari Syekh Nurjati, Walangsungsang bertemu dengan seorang pendeta Budha bernama Resi Danuwarsi yang kemudian beliau menyarankan pergi menuju Gunung Dihyang di Padepokan Resi Danuwarsih, masuk wilayah Parahiyangan Bang Wetan.

Resi Danuwarsih adalah seorang Pendeta Budha yang menjadi penasehat Keraton Galuh, ketika Ibukota Kerajaan masih di Karang Kamulyan Ciamis. Sulit dibayangkan bagaimana keteguhan Sang Pangeran yang muslim, berguru kepada seorang Pendeta yang secara lahiriah masih beragama Budha. Namun, mungkin saja secara hakiki sang Danuwarsih sudah Islam meskipun tingkah lakunya masih Hindu-Budha. Akan tetapi yang jelas kedatangan Putra Sulung Prabu Siliwangi di Padepokan Gunung Dihyang disambut suka cita oleh pendeta Danuwarsih, dan untuk menyempurnakan kegembiraan tersebut, sang Guru menikahkan putri satu-satunya yang bernama Endang Geulis dengan Raden Walangsungsang.

Darinyalah lahir seorang putri yang bernama Nyai Mas Pakungwati yang kelak kemudian hari menjadi permaisuri Kanjeng Sunan Gunung jati. Begitupun Rara santang adik Walangsungsang yang juga berkeinginan untuk mempelajari agama nabi. Rarasantang amat bersedih hati ditinggalkan pergi oleh kakaknya, Ia terus menerus menangis, jerit hatinya tak tertahankan lagi hingga akhirnya ia
pun pergi meninggalkan istana Pakuan Pajajaran. Hingga Prabu Siliwangi mengutus Patih Arga untuk mencari sang putri. Ia tidak diperkenankan pulang jika tidak berhasil menemukan Rarasantang. Namun, usaha Patih Arga sia-sia belaka karenanya ia tidak berani pulang.

Baca Juga:  Keunikan Puncak Hargo Dalem Gunung Lawu

Akhirnya, ia mengambil keputusan mengabdi di negeri Tajimalela.
Sementara itu, perjalanan Rarasantang telah sampai ke Gunung Tangkuban perahu dan bertemu dengan Nyai Ajar Sekati.

Rarasantang diberi pakaian sakti
oleh Nyai ajar Sekati sehingga ia bisa
berjalan dengan cepat. Nyai Sekati
memberi petunjuk agar Rarasantang
pergi ke gunung Cilawung menemui
seorang pertapa. Di gunung Cilawung,
oleh ajar Cilawung nama Rarasantang
diganti menjadi Nyai Eling dan diramal akan melahirkan seorang anak yang akan menaklukkan seluruh isi bumi dan langit, dikasihi Tuhan, dan menjabat sebagai pimpinan para wali.

Selanjutnya, Nyai Eling diberi petunjuk agar meneruskan perjalanan ke Gunung Merapi. Cerita beralih dengan menceritakan Resi Danuwarsi yang juga dikenal dengan nama Ajar Sasmita, yang tengah mengajar Walangsungsang. Sang Danuwarsi mengganti nama
Walangsungsang menjadi Samadullah
dan menghadiahi sebuah cincin bernama Ampal yang berkesaktian dapat dimuati segala macam benda. Ketika keduanya tengah asyik berbincang-bincang tiba-tiba datanglah Rarasantang yang serta
merta memeluk kakaknya. Di Gunung
Merapi, Walangsungsang di nikahkan
dengan indang geulis putri dari Resi Danuwarsi.

Sesuai dengan petunjuk Resi Danuwarsi, Samadullah beserta istri dan adiknya meninggalkan Gunung Merapi menuju bukit Ciangkup. Indang Geulis dan Rarasantang “dimasukkan” ke dalam cincin Ampal.

Di bukit Ciangkup tempat bertapa seorang pendeta Budha bernama Sanghyang Naga, Samadullah diberi pusaka berupa sebilah golok bernama golok Cabang yang dapat
berbicara seperti manusia dan bisa
terbang. Setelah mengganti nama
Samadullah, Sanghyang Naga memberi petunjuk agar Samadullah melanjutkan perjalanan ke Gunung Kumbang menenemui seorang pertapa yang bergelar Naga gini yang sudah teramat tua. Nagagini adalah seorang pendeta yang mendapat tugas dewata untuk menjaga beberapa jenis pusaka kopiah waring, badong bathok (hiasan dada dari tempurung), serta umbul-umbul yang harus diserahkan kepada putera Pajajaran. Atas petunjuk Nagagini, Walangsungsang kemudian berangkat ke Gunung Cangak. Nagagini memberi
nama baru bagi Walangsungsang, yakni Karmadullah. Ketika tiba di Gunung Cangak, Walangsungsang melihat pohon kiara yang setiap cabangnya dihinggapi burung bangau. Walangsungsang bermaksud menangkap salah seekor burung bangau itu, tetapi khawatir semuanya akan terbang jauh.
Ia teringat akan pusakanya kopiah waring yang khasiatnya menyebabkan ia tidak akan terlihat oleh siapapun termasuk jin dan setan. Kopiah Waring segera ia pakai,
lalu ia mengambil sebatang bambu
untuk membuat bubu yang dipasang
disalah satu cabang kiara. Dalam bubu itu diletakkan seekor ikan. Burung-burung bangau tertarik melihat ikan dalam bubu hingga membuat suara berisik dan menarik perhatian raja bangau (Sanghyang Bango) yang segera mendekati “rakyatnya”. Raja Bango berusaha mengambil ikan dalam bubu namun, ia terjebak masuk ke dalam perangkap dan tak dapat keluar, dan akhirnya ditangkap oleh
Walangsungsang. Raja Bango
mengajukan permohonan agar tidak
disembelih dan ia menyatakan takluk
kepada Walangsunsang serta
mengundangnya untuk singgah di
istananya guna diberi pusaka. Di dalam istana, Raja Bango berubah menjadi seorang pemuda tampan dan
menyerahkan benda pusaka berupa:
periuk besi kuning yang dapat dimintai nasi beserta lauk pauknya dalam jumlah yang tidak terbatas, sebuah piring yang dapat mengeluarkan nasi kebuli, serta bareng yang dapat mengeluarkan 100.000 bala tentara.

Sanghyang Bango memberi nama Raden Kuncung kepada Walangsungsang yang kemudian melanjutkan perjalanan ke Gunung Jati. Setibanya di gunung Jati, Walangsungsang menghadap Syekh
Nurjati yang juga bernama Syekh Datuk Kahfi yang masih keturunan Nabi Muhammad dari Zaenal Abidin. Lalu, Walangsungsang berguru kepada Syekh Nurjati dan menjadi seorang muslim dengan mengucapkan syahadat. Setelah ilmunya dianggap cukup, Syekh Datuk Kafi menyuruh Walangsungsang untuk mendirikan perkampungan di tepi pantai.

Walangsungsang memenuhi
perintah gurunya, Ia pun berangkat
menuju Kebon Pesisir, berikut istri dan adiknya, yang di “masukkan” ke dalam cincin Ampal. Perkampungan baru yang akan dibukanya kelak dikenal dengan nama Kebon Pesisir, sedangkan pesantrennya diberi nama Panjunan.

Selanjutnya, Cakrabumi membuka hutan dengan Golok Cabang sakti hingga hutan lebat dapat dibabat dalam waktu singkat.

Hutan yang dirambah cukup luas
sehingga pendatang-pendatang baru
tidak perlu bersusah payah membuka
hutan. Dalam waktu singkat, pedukuhan baru itu sudah banyak penduduknya dan mereka menamakan Cakrabuwana dengan sebutan Kuwu Sangkan. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here