Beranda legenda Eyang Kemiri Babat Alas di Jember Taklukkan Macan Gadungan

Eyang Kemiri Babat Alas di Jember Taklukkan Macan Gadungan

0
2068

Eyang Kemiri adalah seorang demung dari wilayah kerajaan Kediri dengan nama aslinya Raden Tarsan Mangkuningrat atau Kecruk Lodra. Sejak runtuhnya kerajaan Kediri yang digempur Raden Wijaya penguasa Majapahit, Tarsan Mangkuningrat melarikan diri ke arah timur, hendak menuju Gunung Agung Bali untuk menemui gurunya, mpu Nunggal murid dari Resi Markandea.

Ditengah perjalanan, Kecruk Lodra melintasi hutan belukar yang ditumbuhi pohon – pohon besar dan semak rotan. Konon kabarnya, hutan tersebut dihuni berbagai mahluk halus yang dipimpin oleh Siluman Macan Putih bernama Gadungan.

Pasukan demit yang bringasan dan kejam dalam memangsa manusia di alas tersebut, sudah tersohor hingga ke daerah Kediri. Dari saking bengis dan saktinya macan gadungan, konon berpuluh-puluh pendekar sakti yang melawannya kala itu, tidak satupun yang berhasil melukainya. Bahkan tidak jarang pertempuran dari segenap pendekar sakti itu, berahir dengan kematian.

Alasan inipulalah yang membuat Tarsan Mangkuningrat melintasi hutan tersebut. Dalam fikirnya, jika beruntung dapat mengalahkan macan Gadungan, itung-itung dia menebus karma di masa hidupnya.

Hampir seharian Mangkuningrat berjalan menyusuri hutan tersebut, akan tetapi belum satupun demit yang dijumpainya. Hingga hari menjelang malam tepat dibawah pohon kemiri, Tarsan hendak beristirahat dengan membentangkan secarik kain untuk alas berbaring.

Belum usai membentangkan kain tersebut, terdengar suara menggelegar auman macan gadungan dari atas bukit tepat sebelah timur dari pohon kemiri yang hendak dijadikan peristirahatan Mangkuningrat.

Singkat cerita, Tarsan pun menghadapi macan siluman itu, dengan terlebih dahulu disertai percakapan yang serius, adapun percakapan itu dimulai dari macan gadungan.

Macan: Wahai kau yang berada dibawah, kemarilah akan aku santap dagingmu untuk makan malamku.

Mangkuningrat: Jangan jumawa kau mahluk iblis, kemari turun..! Akan ku hujam dadamu dengan cundrikku. (Konon, cundrik bernama Kiyai Suro yang digunakan melawan macan gadungan hanya berukuran kecil tidak lebih dari satu cengkang).

Baca Juga:  Dengan Wirid Aneh, Mbah Lanceng Jember Mengantar Muridnya Menuju Kewalian

Macan: Ha ha ha ha…… Kau anggap aku ini trasi yang akan terbelah hanya dengan pisau kecil mainanmu itu…? (Tanpa basa-basi lagi macan gadungan langsung terbang hendak mencengkram Mangkuningrat).

Saat macan gadungan meloncatinya, Mangkuningrat merunduk sebentar dan menancapkan cundrik pusaka dengan ujungnya yang mengarah ke atas tepat dibawah pohon kemiri. Setelah itu, Mangkuningratpun mundur beberapa langkah menjauhi pusakanya tersebut. Sontak saja, saat macan gadungan mendarat di tanah, kakinya tertancap keris pusaka milik Mangkuningrat dan tidak dapat mencabutnya dari tanah. Segala daya upaya dan kesaktianpun dikerahkan macan gadungan untuk segera lolos dari jerat cundrik kyai Suro namun, sia – sia saja hasilnya tetap nihil. Hingga malam terlalui berganti pagi barulah Raden Tarsan menghampirinya seraya menyapa macan gadungan yang sudah lunglai tak berdaya. Tampak dikaki macan gadungan masih tertancap cundrik yang sudah berlumuran darah. Melihat Raden Tarsan berdiri gagah didepannya, macan gadunganpun menangis mohon ampun seraya berjanji akan mengabdikan hidupnya kepada Mangkuningrat tatkala ia diampuni dan dibebaskan dari jerat cundrik pusaka yang membelenggu kakinya.

Pintas cerita, randen Tarsan Mangkuningrat pun membebaskannya dengan syarat dapat membabat hutan tersebut untuk dijadikan pemukiman manusia dan terjadilah kesepakatan itu dengan dicabutnya cundrik suro yang menjerat kaki macan gadungan.

Entah apa alasannya, R Tarsan mengurungkan niatnya menemui gurunya di pulau Bali, hingga mengawali peradaban dengan menetap dan bermukim di alas tersebut. Atas dasar adanya macan gadungan di hutan tersebut, Mangkuningrat memberi nama hutan itu dengan nama padukuhan Gadungan. Hingga beberapa tahun berlalu, alas gadungan menjadi pemukiman yang padat penduduk. Diketahui kala itu, raden Tarsan Mangkuningrat yang sudah bermukim di padukuhan gadungan, menjadi sosok pemimpin sekaligus guru besar kadigjayaan dari segenap pahlawan nusantara. Dan kala Belanda mulai masuk merambah wilayah itu, Raden Tarsan jatuh sakit hingga akhirnya meninggal dan dimakamkan di tengah-tengah padukuhan gadungan.

Baca Juga:  Bidadari Sibungsu, Terjerat Cinta Awang Sukma

Dalam penelitian team sejarah-budaya.com tempat yang hampir mendekati kebenaran tersebut, saat ini diperkirakan berada di Desa Kemiri, Kecamatan Panti, Kabupaten Jember. Hal ini mengacu dari adanya makam tua yang berada di desa itu. Namun, dikarenakan adanya perubahan kulturisasi besar-besaran oleh penjajah terhadap rakyat hingga mengakibatkan makam Raden Tarsan Mangkuningrat berubah nama menjadi Makam Mbah atau Eyang Kemiri. Hal ini biasa di kaitkan dengan tokoh yang berjuluk persis dengan nama daerah. Selain itu, juga merujuk pada nama desa kemiri sendiri yang mulai ada sejak Belanda menjajah dan waktu itu bertepatan dengan wafatnya R. Tarsan Mangkuningrat.

Makam Eyang Kemiri Jember

Namun, cerita rakyat ini tidak akan pernah menjadi sebuah sejarah manakala tidak adanya perhatian dari pihak terkait untuk dapat lebih melakukan upaya penelitian ulang terhadap adanya bukti-bukti masa lampau.

Akhir kata, semoga artikel ini dapat menjadi manfaat ilmu, tuntunan bagi segenap pembaca, dan semoga dapat membantu lestarinya sejarah dan budaya asli nusantara. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here