Beranda legenda Dengan Wirid Aneh, Mbah Lanceng Jember Mengantar Muridnya Menuju Kewalian

Dengan Wirid Aneh, Mbah Lanceng Jember Mengantar Muridnya Menuju Kewalian

1
1311

Menggali kebenaran akan asal – usul dan kiprah Mbah Lanceng yang makamnya terletak di areal Bandara Notohadinegoro Jl. Bandara Notohadi Negoro, Gayasan, Wirowongso, Ajung, Kabupaten Jember, Jawa Timur ini, memang sangat minim informasi. Hal ini dikarenakan, beliau merupakan salah seorang musafir yang selalu menutupi identitas aslinya kepada setiap orang. Bukan tanpa alasan beliau menutupi identitas sebab, bagi sebagian kaum sufi terutama yang sudah mencapai lefel jadab, mereka menganggap sebuah nama sudah pudar mana kala cinta Tuhan benar – benar merasuk ke dalam jiwa.

Namun kali ini, sejarah-budaya.com akan mengangkat sebuah cerita mbah. Lanceng yang rela melajang demi mengejar ilmu sang murid, dari sumber yang mengaku masih cucu dari murid mbah Lanceng.

Mbah lanceng muda, dikenal dengan nama Marsa’i seorang pengembara dari pulau garam Madura. Kebiasaan kaum pemuda utamanya Madura kala itu yang rata-rata gemar tirakat demi mencapai kadigjayaan yang mempuni, ternyata juga di gemari Marsa’i.

Marsa’i muda, yang kala itu senang mengembara sudah melakukan perjalanan hampir ke seluruh pelosok negeri. Berbagai pengalaman dan ilmu yang didapatnya, dari mulai ketata negaraan, pengobatan, fiqih, nahu keislaman, bahkan nujum sudah dianggap mempuni untuk kembali ke masyarakat agar dapat digunakan ilmunya sebagai sarana menolong sesama kaum.

<<< baca juga cerita kyai Wirobandar besuki >>>

Hingga dimasa-masa hampir mendekati akhir pengembaraannya, beliau menginjakkan kaki di satu lembah di bawah kaki gunung Raung (kini Daerah Jember) untuk beristirahat. Sebelum istirahat, beliau menyempatkan diri membuat gubuk dari bahan alam seadanya. Dimana gubuk tersebut, rencananya akan dibuat berteduh barang beberapa hari sebelum dirinya kembali ke Madura.

Singkat cerita, belum usai Marsa’i membuat gubuk, tiba-tiba saja ada sosok pemuda bernama Joko Sadeng (nama disamarka red-). Pemuda itu tampak ringkih meminta air minum kepada Marsa’i. “Wahai kisanak, sudikah kiranya memberi saya air barang seteguk,,,? saya sangat haus,” pinta pemuda tadi.

Dengan hati gembira karena dapat membantu sesama, Marsa’i pun memberikan air minumnya kepada anak muda tadi. Setelah diminum berkali-kali, bahkan dari saking panas dan hausnya pemuda tadi sampai madi. Jika diukur dengan takaran, air tadi mungkin sudah habis beberapa puluh liter. Namun aneh, air yang hanya ditempatkan dalam bilah bambu dan jika diukur logika tidak kurang dari 1 liter saja tadi, tidak kunjung habis digunakan sang pemuda.

Semakin terheran Joko Sadeng melihat keanehan yang dialaminya, hingga dia bergumam dalam hati, “mungkin orang ini seorang wali“. Tidak menunggu lama joko pun meminta Marsa’i untuk rela menjadi gurunya dan niat itupun diterimanya.

Setelah sekian lama berguru Joko Sadeng ternyata merupakan sosok murid yang memiliki jiwa pengapdi setia dan ta’at. Hampir seluruh saran, perintah dan wejangan gurunya ia lakukan dengan sempurna. Namun sayang, walau taat, Joko Sadeng ternyata sosok pemuda yang fikirannya sulit menerima materi pelajaran. Sehingga sangat minim sekali pengetahuan yang ia serap dari gurunya.

Hingga tibalah pada suatu waktu sang guru hendak mengakhiri pengembaraannya dengan pamungkas laku, melaksanakan ibadah haji sebelum kembali ke madura. Disinilah Marsa’i mengutarakan hajatnya sekaligus akan berpamit pada sang murid. “Wahai muridku, walau sedikit ilmu yang kau miliki aku harap hal itu dapat berguna bagimu, kini saatnya kau kembali ke masyarakat untuk mengamalkan apa yang kau peroleh dariku. Aku akan melanjutkan akhir pengembaraan ini dengan pergi ke tanah suci,” ungkap Marsa’i.

Sedikit canggung Joko Sadeng menjawab, “Izinkan aku ikut bersamamu guru, agar ilmu yang kudapat ini lebih bermanfaat jika mengikutimu ke tanah suci,” pintanya.

Entah apa alasan sang guru sehingga tidak berkenan mengajak muridnya itu. Hingga berbagai alasanpun diutarakan namun, sayang murid tidak menerima semua alasan sang guru dan bersikukuh untuk ikut.

Melihat tekad Joko Sadeng yang menggebu, akhirnya sang guru berinisiatif memberi tugas berat dengan menyuruh muridnya memotong serumpun besar bambu, hanya dengan sebilah clurit kecil dan setiap memotong dia wajib mengamalkan 100 kali wirid. Adapun bunyi wiritan ber bahasa madura itu agak sedikit nyleneh yaitu, “Ngontal Jegung Sapolo Egelunok Settong” artinya, memakan jagung sepuluh ditalan satu. Selain itu, gurunya juga berpesan, agar sebelum tugas itu selesai dengan sempurna, si murid tidak boleh kembali ke gubuk tempat ia tinggal bersama sang guru.

Dengan prediksi sang guru, jika dikerjakan orang biasa, paling cepat tugas itu selesai dalam kurun waktu satu bulan. Sehingga saat murid melaksanakan tugas Marsa’i dapat dengan diam-diam berangkat ke mekah tanpa diketahui muridnya.

Sampailah pada hari H tugas itu dilaksanakan, saat murid berangkat memotong bambu, gurupun juga berangkat melanjutkan pengembaraan akhir ke tanah suci.

Ketika sedang memotong bilah demi bilah bambu tadi, murid selalu mengingat pesan guru agar lebih mudah mengerjakan, dia harus berwirit. Hingga dengan taat dan tawaduk Joko Sadeng pun menjalankan perintah itu. Tidak disangka dan juga aneh tugas berat dari guru kepada murid nya itu berhasil dirampungkan dalam waktu 1 hari saja.

<<<baca juga eyang kemiri babat alas di jember >>>

Setelah usai dipotong, Joko bingung hendak diapakan bilah – bilah bambu tadi,?. Akhirnya dia memberanikan diri kembali ke gubuk bermaksud menanyakan pada sang guru. Namun sesampainya di gubuk, gurunya sudah tidak ada, ia panggil-panggil tak satupun ada jawaban yang terdengar. Joko Sadeng sedikit khawatir mana kala melihat barang-barang gurunya juga sudah tiada. Hingga rasa kecewanya mumancak mana kala ia menemukan secarik surat dari gurunya. Isi surat itu menerangkan kepergian guru ke tanah suci dan berpesan agar sang murid tetap tabah menjalani hidup. Selain itu, juga ada pesan akhir yang bertulis “Jika apa yang kau hajatkan ingin segera terkabul maka berfikir keras, ikhtiar dan berpasrahlah”.

Dengan hati gundah Joko Sadeng, terduduk di serambi gubuk mengikuti pesan terakhir sang guru untuk berfikir, agar hajatnya menyertai guru ke tanah suci terkabul.

Diketahui, meski dalam masa pengabdiannya murid ini patuh dan taat namun, dia memiliki kekurangan agak sedikit susah mengenyam pengetahuan (lambat menalar perkataan). Berjam – jam lamanya Joko berfikir, hingga timbul inisiatif bahwa, bambu yang ia potong tadi akan dibuat rakit untuk dia menyusul gurunya ke tanah suci. Bergegaslah dia merakit bambu dengan penuh harapan akan mengarungi samudra menuju ke Kakbaitullah. Tidak lama, rakit sederhanapun usai dibuatnya dan setelah merapikan segala bekal perjalanan iapun berangkat mengarungi sungai hingga menuju lautan.

Dalam perjalanan, ditengah -tengah laut tanpa tau arah, Joko tetap taat menjalankan ibadah disertai dengan wiritan nyleneh bahasa madura dari gurunya tadi. Tidak heran selama ia mengabdi selain ilmu dan bacaan sholat ternyata murid ini hanya berhasil mengingat satu wirid ajaran gurunya yang terakhir yaitu, “Ngontal Jegung Sapolo Egelunok Settong”. Amalan wirid tersebutlah yang selalu dibacanya dalam mengarungi lautan.

Tanpa ada yang menyangka, setelah sekian minggu berjibaku dengan ombak ditengah samudra ternyata murid ini, berhasil terdampar di pesisir arab dan tinggal melanjutkan perjalanan darat menuju kakbaitullah.

Setelah sampai di gerbang kakbah, betapa terkejutnya sang guru melihat muridnya bersamaan waktu sampai dengan Marsa’i ke Mekkah. Hampir tidak percaya, bagaimana tidak, sang guru yang berangkat dengan perahu besar saat itu, bisa bersamaan waktu dengan muridnya yang ia rasa masih bertugas memotong bambu. Guru yang terheran-heran menanyakan ikhwal muridnya tadi, bagaimana bisa sampai ke tanah suci. Jokopun menceritakan secara detail tentang segala perintah guru kepadanya yang ia kerjakan dengan sungguh-sungguh.

Usai mendengar cerita sang murid, Marsa’i memeluk Joko Sadeng seraya menangis tersedu-sedu. Berkali-kali sang guru mengucap Subhanallah seraya berucap, “Engkaulah Waliullah yang sesungguhnya wahai cah bagus, aku betul-betul mengharapkan maaf darimu atas segala sesuatu yang tidak pantas yang telah aku lakukan padamu” ucap Marsa’i seraya memeluk muridnya. Dan setelah itu merekapun bersama menjalankan ibadah haji dengan selalu berdua.

Usai berhaji, sang guru mengurungkan niatnya kembali ke Madura dan memilih kembali ke gubuk tempat semula mereka bersama. Guru Marsa’i bertekat dalam hati akan lebih fokus dan sepenuh hati untuk mengajari ilmu lebih banyak lagi kepada muridnya itu.

Sekembalinya dari mekah, Marsa’i benar – benar mengajarkan muridnya ini dengan perlahan, telaten dan sungguh-sungguh hingga sang murid berhasil memperoleh bekal ilmu yang lebih bermanfaat dari sebelumnya. Seiring berjalannya waktu Marsa’i jatuh sakit dan dirawat dengan sepenuh hati oleh Joko Sadeng hingga pada akhirnya Marsa’i pun meninggal dan minta dimakamkan di gubuk tempatnya tinggal selama ini.

Menjelang 7 hari sejak kematian Marsa’i, Joko Sadeng mendapatkan mimpi agar dirinya segera berbaur dengan masyarakat juga mengamalkan ilmu yang telah diperolehnya dan yang tak kalah penting Joko diwajibkan untuk mencari pasangan hidup dan berkeluarga.

Pintas cerita, Joko Sadengpun menikah dan berkeluarga serta membangun pesantren untuk lebih mudah mengamalkan ilmu yang didapat dari sang guru Marsa’i. Dan dari Joko Sadeng ini pulalah yang mengubah nama Marsa’i menjadi mbah. Lanceng. Mengingat sang guru yang rela mendidik dirinya sepenuh hati, fikiran dan tenaga itulah hingga menyebabkan Marsa’i lupa untuk berkeluarga dan sampai akhir hayatnya sang gurupun tetap membujang. Kata bujang ini yang jika dialihkan ke dalam bahasa madura sebagai Lanceng. (dats)

1 KOMENTAR

Tinggalkan Balasan