Beranda legenda Kyai Wirobandar Besuki, Kedarai Daun Jati Sebrangi Lautan

Kyai Wirobandar Besuki, Kedarai Daun Jati Sebrangi Lautan

0
1218

Diceritakan, pada masa sebelum kolonial penjajah masuk nusantara, ada seorang ulamak dari banten bernama Wirobandar yang berdakwah sekaligus berdagang ke daerah Besuki Situbondo. Selain seorang ulamak Wirobandar juga dikenal sebagai ahli perniagaan terutama di pesisir laut utara.

Kiprah kearifannya dalam menyebarkan agama Islam di pulau jawa, tersiar santer penuh dengan karomah yang menakjubkan setiap mata yang memandang. Terkait dengan keterangan kapan dan asal-usul beliau, memang minim sekali timbul dipermukaan.

Namun, kali ini sejarah-budaya.com akan menyajikan kisah karomah beliau dari sumber-sumber terdekat, yang leluhurnya pernah berguru kepada Kyai kgarismatik ini.

Suatu ketika pada jaman dahulu, datanglah seorang ulamak beserta rombongannya ke pesisir Besuki. Ualamak tersebut lambat laun dikenal masyarakat sebagai Kyai Wirobandar atau dengan julukan Buju’ Taker (buju’ berarti sesepuh, Taker berarti Tempat nasi dari daun jati).

<<<baca juga Eyang Kemiri babat Alas di Jember >>>

Bukan tanpa alasan beliau diberi julukan Buju’ Taker terutama oleh penduduk pesisir Besuki. Selain dalam setiap kedatangannya selalu membagi-bagikan makanan yang dibungkus taker, beliau kerap kali dijumpai menyebrang laut dengan kendaraan Taker pula. Karomah yang demikian, mengakibatkan kedatangan Wirobandar selalu menjadi tontonan penduduk sekitar kala itu.

Pintas cerita sebelum Wirobandar berdakwah, dengan karomahnya tersebut beliau sudah mampu menyedot simpati ratusan masyarakat yang kala itu masih menganut agama kepercayaan. Dengan kata lain, beliau sudah menang sebelum berperang.

Kiprah dakwah yang halus dan penuh welas asih dalam mengajarkan syariat Islam pada penduduk kala itu, memang menjadi senjata andalan Wirobandar. Setelah sekian lama, singgah di pesisir Besuki, hampir seluruh penduduk berhasil di Islamkan dan menjadi murid sang kyai.

Baca Juga:  Karomah Kyai Ali Brangbang Melatih Kera Hingga Fasih Mengaji

Bahkan tidak sedikit santri beliau dari kalangan jelata yang dikemudian hari bermunculan menjadi seorang pimpinan seperti adipati, demang, maupun pejabat besar, kecil lainnya.

<<<baca juga makam sayyid yusuf tlango >>>

Hal ini menunjukkan bahwa selain berniaga beliaupun juga ahli dalam ketata negaraan. Hingga pada suatu saat saat beliau sakit, dalam dakwahnya beliau menuliskan sesuatu pada selembar daun jati. Adapun kala itu, terkait apa yang dituliskannya tidak seorang pengikutnya yang tau apa isi tulisan sang kyai.

Hanya saja terdengar pesan lirih dari wirobandar usai menulis di daun jati yang mengatakan, “Wahai santri-santriku, sepertinya tidak lama lagi aku akan kembali namun, sebelum aku kembali, aku akan meninggalkan sebuah pesan di taker daun jati ini. Tidak boleh ada yang membuka dan membaca isi pesan dalam lipatan taker ini sebelum aku meninggal,” pesan wirobandar seraya menaruh lipatan daun jati diatas kusen pintu surau.

Tidak berselang lama sejak dibuatnya pesan tadi, Wirobandar akhirnya menghembuskan nafas terakhir dan segera dimakamkan di sekitar pesisir Besuki Kabupaten Situbondo.

Makam Kyai Wirobandar di Pesisir Besuki

Usai 41 hari dari wafatnya beliau, segenap santripun berinisiatif membuka dan mebaca isi pesan dari sang ulamak. Setelah dibuka, alangkah terkejutnya melihat isi tulisan itu bertulis Tahun, Bulan, Tanggal, bahkan Jam tepat waktu meninggalnya Kyai Wirobandar, dan dibawah keterangan waktu tadi ada tulisan arab “Lahawlawala Kuwwata Illa Billah”.

Disanalah segenap santri menangis dan minyimpulkan bahwa sang kyai termasuk golongan dzuhud yang sebelumnya dapat mengetahui akan waktu berpulangnya diri keharibaan sang pencipta. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here