Pura Kawitan Alas Purwo Tempat Bersemayamnya Resi Baradah

0
3422

Kali ini sejarah-budaya.com akan mengupas tentang Pura Giri Selaka atau yang sering disebut sebagai Pura Kawitan di Alas Purwo. Situs ini, ditemukan secara tidak sengaja oleh masyarakat sekitar, pada tahun 1967. Pura yang berada di dusun Kaliagung, desa Kendalrejo, kecamatan Tegaldlimo, Kabupaten Banyuwangi, Jawa Timur ini, dikenal sebagai pura kawitan atau yang pertama.

Adapun jejak ditemukannya pura kawitan ini, saat masyarakat Kecamatan Tegaldlimo melakukan babat lahan untuk ditanami terhadap sejumlah kawasan hutan di Alas Purwo. Daerah di kawasan itu memang cukup makmur dengan hasil palawijanya. Ketika membersihkan lahan di tempat berdirinya Pura kawitan inilah, masyarakat menemukan sebuah gundukan tanah yang dipenuhi tanaman belukar.

<<< baca juga wajangan olah rohso sesepuh Alas purwo >>>

Dalam hal ini, masyarakat ingin meratakan gundukan tersebut hingga kelak dapat dijadikan lahan cocok tanam. Akan tetapi, setelah dibersihkan semak belukarnya terlihat ada bongkahan-bongkahan bata besar yang masih tertumpuk, persis seperti gapura kecil.

Melihat banyaknya bongkahan batu bata tadi, masyarakat sekitarpun berbondong-bondong membawa bongkahan bata-bata itu ke rumahnya. Setelah dibawa, mereka memanfaatkan bata tersebut sebagai bahan membuat tungku dapur, untuk membuat alas rumah dan lain sebagainya.

Ternyata, ketidak tahuan masyarakat itu, menyebabkan munculnya berbagai musibah bagi warga yang mengambil bata-bata tersebut. Ada yang terkena musibah ternaknya mati, kecelakaan kendaraan dan yang paling banyak musibah sakit. Hingga pada suatu malam, ada suara sebuah sabda yang menyuruh agar bongkahan batu bata tersebut dikembalikan ke tempatnya semula, karena bongkahan-bongkahan itu adalah tempat pertapaan maha resi suci Hindu zaman dulu yaitu Resi Bharadah .

Meski belum ada catatan resmi dalam prasasti, masyarakat mempercayai yang malinggih (bertahta) di situs Pura kawitan Alas Purwo adalah Empu Bharadah, sosok yang menurut legenda mampu membelah Sungai Brantas dengan kesaktiannya dan sosok yang berhasil mengalahkan raja kejam Calon Arang. Selanjutnya, pasca-penemuan batu bata yang sebenarnya pura tersebut, masyarakat setempat lalu menjadi sangat yakin dengan kekuatan dan kesucian situs Alas Purwo tersebut.

Baca Juga:  Kisah Sunan Kedu Awali Tanam Tembakau Dengan Prigen Sunan Kudus

Sampai ada keinginan seorang pemuka agama atau pemangku untuk memagari situs itu agar aman dari jangkauan orang jahil. Akan tetapi, belum sampai tuntas mewujudkan keinginannya, pemangku tersebut keburu meninggal. Dari kejadian itu didapatkan sabda dari sang pemangku bahwa, situs Alas Purwo pura kawitan ini wajib dipuja semua umat manusia diseluruh muka bumi ini tanpa dibatasi sekat-sekat golongan.

<<< baca juga alas purwo tempat lahirnya berbagai ilmu >>>

Pihak Dinas Purbakala pun akhirnya berniat menjadikan situs Alas Purwo sebagai benda peninggalan sejarah. Di sisi lain, umat Hindu yang ada di sekitar kawasan tersebut, yang secara turun-temurun mengaku sebagai penganut kebatinan/kejawen untuk alasan keselamatan mereka, sangat menghormati dan merawat dengan seksama situs tersebut.

Untuk menghindari hal-hal yang tak diinginkan, umat Hindu akhirnya membuatkan sebuah pura, sekitar 65 meter dari situs Alas Purwo saat ini. Ini dilakukan pada 1996, ketika agama Hindu sudah berkembang kembali di tanah air, dan warga setempat yang sebagian besar petani sudah banyak yang beralih menganut agama leluhur mereka, Hindu. Ini dilakukan dengan bantuan umat Hindu Bali. Situs yang ditemukan itu sendiri dibiarkan seperti semula, namun tetap menjadi tempat pemujaan untuk umum, tak terbatas bagi umat Hindu.

Untuk menuju Pura Alas Purwo yang disungsung umat Hindu Kecamatan Tegaldlimo, Banyuwangi, para pengunjug harus memasuki kawasan hutan Taman Nasional Alas Purwo. Dari pintu depan kawasan hutan Taman Nasional, diperlukan waktu satu jam menuju pura, melewati hutan jati yang rimbun, yang terkadang bercabang jalannya tanpa adanya petunjuk arah.

Bagi pengunjung yang tidak menggunakan kendaraan pribadi, masyarakat setempat sudah menyiapkan sebuah angkutan tradisional yang lazim disebut grandong. Angkutan ini mirip sebuah mobil truk, akan tetapi mesinnya menggunakan mesin genset. Harga sewanya menuju Pura Giri Selaka sekitar Rp 3.000 sekali angkut.

Baca Juga:  Mengeluarkan Aroma Harum, Makam Mbah Kuning di TMII Gagal Dibongkar

Pura Giri Selaka berada di tengah hutan Alas Purwo, sekitar tiga kilometer dari kawasan wisata Pantai Plengkung, ujung selatan Alas Purwo, yang juga ujung tenggara Pulau Jawa. Di kawasan ini, memang tidak ada satu pun rumah penduduk. Apabila ingin bermalam, pihak pengelola Taman Wisata menyediakan sejumlah penginapan sederhana, yang jaraknya sekitar satu kilometer dari Pura Giri Selaka. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here