Beranda Pariwisata Mengeluarkan Aroma Harum, Makam Mbah Kuning di TMII Gagal Dibongkar

Mengeluarkan Aroma Harum, Makam Mbah Kuning di TMII Gagal Dibongkar

0
2542

Anjungan Jawa Timur dibangun di Taman Mini Indonesia Indah (TMII) pada 20 April 1975 oleh Gubernur Jatim ke 7 Raden Panji Mohammad Noer yang masa bakti jabatannya dari tahun 1967 sampai tahun 1976.

Dengan memanfaatkan lahan seluas 1 hektar pemberian pemerintah, pemprov Jatim membangun berbagai macam bentuk bangunan rumah dan miniatur bangunan bersejarah yang ada di Jatim.

Miniatur bangunan bersejarah itu, dibagi menjadi tiga bagian atau halaman. Pada halaman pertama, menggambarkan sejarah dan kesenian Jatim. Pintu masuk anjungan halaman pertama “dijaga” dua buah patung, Kotbuto dan Angkobuto.

Menurut cerita, kedua patung itu merupakan gambaran dari patih kembar kerajaan Blambangan yang saat itu diperintah oleh Menak Jinggo.

Masih di halaman ini, juga dibangun kompleks percandian Penataran dari Blitar dalam ukuran yang sebenarnya dan lengkap dengan sebuah patung Ganesa yang bisa dilihat di dalam candi ini.

Disamping candi Penataran, dibangun dua patung kerapan sapi dengan latar belakang perbukitan kapur utara menggambarkan permainan dan tontonan dari pulau garam Madura.

Suasana beda dengan halaman ke dua (tengah). Pada halaman kedua anjungan Jatim, menggambarkan alam perjuangan. Di halaman ini berdiri tegak sebuah tiruan Tugu Pahlawan Surabaya, patung Patriot Bambu Runcing dan menara Masjid Ampel. Masing-masing bangunan tiruan ini memiliki sejarah sendiri-sendiri di masa lalunya.

Selanjutnya, halaman ketiga anjungan Jatim menggambarkan alam pedesaan. Diantaranya, beberapa bangunan rumah adat, rumah kepala desa, lengkap dengan pendopo dan kenthongannya yang merupakan bangunan induk dari anjungan ini. Seperti, rumah adat Pacitan, Ponorogo, Bondowoso dan Madura.

Dimana, bangunan rumah tersebut, menggambarkan bentuk arsitektur tradisionalnya secara asli dan utuh. Selain itu, pengunjung juga bisa melihat pentas berbagai kesenian daerah dari 38 kab/kota di provinsi Jatim setiap hari Minggu. Antara lain, kesenian tradisional seperti Ronteg Singo Ulung Bondowoso, Reog Ponorogo, Gandrung Banyuwangi, Tayub, Ludruk, Tari Remo dan Tari Topeng dari Malang.

Baca Juga:  Alas Purwo Tempat Lahirnya Berbagai Ilmu, Bukan Tempat Pengabdi Kekayaan

Namun kali ini sejarah-budaya.com akan sedikit lebih menggali dari keberadaan sebuah makam tua satu-satunya yang berada dianjungan Jawa Timur ini.

Sebuah bangunan makam yang konon telah ada jauh sebelum TMII ini dibangun. Makam tersebut dipercaya sebagai makam waliyullah, yang bernama Mbah kuning. Menurut sumber yang didapat dari keturunan langsung mbah kuning Almarhum bapak Bandung, mbah Kuning adalah seorang tokoh masyarakat di daerah Jakarta timur tepatnya di daerah cipayung jalan pintu dua TMII. Dulunya, beliau dikenal sebagai seorang waliullah yang arif dan berwibawa dalam menyebarkan agama Islam.

Kesaktian ilmu kanuragan baik jurus jurus silat terlebih tenaga dalam kerap kali beliau gunakan dalam memperjuangkan kemerdekaan NKRI. Adapun salah satunya, beliau pernah ikut menyerang sebuah gedung milik belanda yang ada di daerah pondok gede. Dinamakan pondok gede karena dahulu, di daerah tersebut lubang buaya yang berbatasan dengan bekasi ada sebuah gedung belanda yang amat besar. Orang betawi bilang kalau tempat tinggal atau asrama di sebut Pondok, dan besar di sebut GEDE.

Dalam penyerangan yang dilakukan ke markas penjajah kala itu konon, mbah Kuning memimpin seluruh warga dan para jawara baik dari daerah lubang buaya, karanggan, jati asih, jati waringin dan sekitarnya.

Selain mbah Kuning ada juga sahabatnya mbah Kasim dari Jati Kramat, mbah Celupuk dari Jati Makmur, mbah haji Nawi jati makmur dan masih banyak tokoh yang tidak kalah saktinya dengan mbah Kuning.

Dalam peyerangan tersebut, mbah Kuning dan pejuang yang lain tampak maju di garis depan dan begitu penjajah membrondong dengan senjata mesin dan melempari dengan geranat, atas lindungan Allah dan kesholehan para pejuang, peluru dan granat tidak bisa menembus dan melukai mbah Kuning dan kawan-kawan.

Baca Juga:  Tusuk Konde Ibu Tien Simbol Tegak dan Runtuhnya Masa Orba

Sedangkan saksi bisu pohon-pohon karet yang dulu banyak tumbuh di daerah pondok gede sekitar markas penjajah, hancur terkena peluru dan granat yang diserangkan.

Sampai mbah Kuning wafat, tidak banyak diketahui lagi tentang asal-usul dan perjuangan beliau karena, memang tidak ada satupun catatan resmi tentang beliau. Hingga pada waktu pembangunan TMII makam mbah Kuning sempat akan di pindah, akan tetapi setiap mau di gali, makam tersebut mengeluarkan aroma harum dan pekerja yang ditugas kan mengali makam tersebut semuanya kesurupan hingga ada juga yang pingsan. Namun tidak berhenti disitu, penggalian selanjutnya disiasati menggunakan alat-alat berat akan tetapi, itupun tidak membuahkan hasil karna alat-alat berat yang di gunakan selalu mengalami masalah mesinya mati saat hendak mendekati makam tersebut.

Maka atas ijin sang pencipta, makam mbah Kuning tidak jadi di pindahkan dan tetap ada di tempatnya semula. Hal ini banyak diyakini karena, mbah kuning adalah sosok hamba Allah yang sholeh sehingga Allah tetap menjaga keutuhan makam hambanya itu.

Sejak dahulu hingga sekarang makam Mbah kuning terkadang ramai di datangi para peziarah yang percaya bahwa, mbah Kuning juga salah satu waliullah yang keberadaan makamnya menjadi tempat mustajab begi segenap insan yang ingin memperoleh baarokah Tuhan Sang pencipta.

Hingga saat ini, anak cucu mbah kuning pun masih ada yang tinggal di daerah taman mini tepatnya di pintu dua TMII depan asrama haji, dekat MMC TV. Di sana ada sebuah jembatan yang bernama jembatan bandung, nama bandung di ambil dari nama keturunan mbah kuning yang sekarang pindah ke daerah bekasi, tepatnya di kec. Jatiasih kel. Jatikramat, sedangkan bpk Bandung sendiri telah meninggal dan di makamkan di TPU Jati Kramat.

Baca Juga:  Tumbal Syekh Subakir, Untuk Dapat Menyatukan Keyakinan, Bukan Mempertajam Perbedaan

Itulah sejarah singkat Eyang Kuning yang makamnya ada di dalam area TMII tepatnya, di sebelah danau peta Indonesia di samping rumah adat Madura, di balik sebuah gundukan tanah yang mirip bukit di bawah pohon kemuning yang rindang.

Semoga artikel ini dapat menjadi tambahan wawasan yang berguna bagi seluruh pembaca. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here