Areal Masjid Agung Sumenep Terlarang Untuk Segala Jenis Mahluk Halus

0
856

Masjid Agung Sumenep ini tercatat sebagai salah satu masjid tertua yang ada di Indonesia, yang pembangunannya dirintis sejak masa Pangeran Natasukuma I atau Panembahan Somala yang berkuasa pada abad ke-18. Masjid yang dibangun pada tahun 1779 oleh Adipati Sumenep ke-31 tersebut kurang lebih memiliki usia hingga kini telah mencapai 300 tahun.

Awalnya masjid ini hanya berukuran musholla kecil dengan nama Musholla ‘Laju’ dan dibangun oleh adipati ke-21 Sumenep, yakni Pangeran Anggadipa. Seiring berkembangnya waktu, kapasitas masjid tidak mampu lagi menampung jama’ah umat Muslim yang hendak beribadah.

Sekitar 1779 Masehi, Pangeran Natakusuma menitahkan untuk membangun masjid yang lebih besar. Untuk menghadirkan masjid yang diinginkan, sang penguasa kala itu, menunjuk seorang arsitek Cina, Lauw Piango. Proses pembangunan masjid dimulai pada tahun 1198 Hijriah atau 1779 Masehi. Sementara proses pembangunan masjid ini baru usai pada 1206 H atau 1787 M. Dengan hitungan lain, renovasi masjid tersebut selesai digarap selama 8 tahun.

Sementara itu, hal yang cukup unik dari masjid ini adalah adanya peninggalan pedang yang letaknya berada di atas kubah. Selain itu, terdapat juga sebuah batu giok murni yang kabarnya memiliki berat mencapai 20 kilogram. Sayangnya, keberadaan batu giok tersebut kurang terawat dan tidak begitu jelas sejak kapan batu giok itu berada, apakah bersamaan dengan proses pembangunan masjid atau hadir setelah masjid tersebut dibangun.

Walau batu giok itu, tidak pernah dibersihkan oleh pengurus masjid namun, kilau dari batu giok tersebut masih terlihat hingga kini bahkan, tetap terlihat mengkilat. Konon menurut cerita, harga batu giok itu dapat mencapai miliaran rupiah.

Selain mahal ternyata, keberadaan batu tersebut bukan hanya sebagai hiasan belaka. Namun, menurut ahli fheng shui afrika Smith Holliy yang sempat meneliti masjid tersebut di tahun 2014 lalu mengatakan, “sirkulasi udara dari atas yang membentur ke batu giok tersebut, akan dapat tembus dibantu cahaya matahari ke bagian bawah (ruangan masjid). Hal ini tentu akan berdampak selalu terserapnya energi positif setiap siang hari dan mengendap di malam hari.” Tidak heran sampai saat ini, masjid tersebut belum terdengar ada kejadian aneh yang disebabkan oleh mahluk tak kasat mata. Sebab, dengan adanya batu giok tersebut Smith Holliy juga mengatakan cukup sulit bagi mahluk astral untuk dapat menebus bias energi di dalam masjid. Tentu hal ini bukan merupakan suatu alasan supranatural melainkan logika alam yang ditemukan manusia sehingga bermanfaat bagi sesama.

Baca Juga:  Sejarah Saksi Bisu Kejayaan Bondowoso Dimasa Lalu

Selain itu, juga ada sebuah cerita dari pengurus masjid bahwa, sekitar pertengahan tahun 1987 ada rombongan sosok pejabat tinggi negara yang pada saat itu, usai melakukan perjalanan spiritual bersama segenap ahli supranaturalnya. Salah satu dari ahli supranatural itu mengaku memiliki murid dari bangsa jin, hingga majikannya usai solat khodam itu tetap berupaya masuk ke dalam masjid. Segala daya upaya telah dilakukan akan tetapi khadam jin itu tetap tidak dapat masuk ke areal dalam masjid.

Setelah majikan khadam jin itu keluar masjid barulah sang jin sadar bahwa di dalam areal masjid tidak terlihat dari luar satupun sosok halus, dengan kata lain masjid tersebut terlarang untuk mahluk halus.

Sebelum memasuki bagian dalam Masjid Agung Sumenep, setiap pengunjung yang hendak melewati pintu masjid ini akan bisa melihat jam antik berukuran besar bermerek Junghans. Hadirnya jam ini secara tidak langsung kian memperkuat usia masjid ini yang telah lanjut usia.

Suasana lampau begitu terasa saat memasuki bagian interior tengah. Maklum saja, di bagian ini berdiri tegak 13 tiang seukuran 1,5 tangan orang dewasa yang dilingkarkan. Konon, jumlah 13 tiang ini menyimpan makna, yang merujuk pada arti rukun shalat. Tiang besar ini juga bisa ditemukan pada bagian selasar masjid yang jumlahnya ada 20 pilar.

Pada bagian mihrab, terdapat hiasan pedang yang kabarnya, pedang tersebut berasal dari Irak. Mengutip informasi yang ada di laman Wikipedia, awalnya pedang tersebut terdapat dua buah, tetapi salah satunya sekarang ini telah hilang dan tidak pernah kembali.

Pengaruh Cina kembali menonjol pada bagian mihrab masjid. Ini tecermin dari pilihan warna yang mencolok. Paduan warna kuning emas, biru, dan putih memberikan kesan yang begitu ‘ramai’ pada bagian mihrab ini. Pada bagian ini mihrab masjid memiliki bagian yang agak menjorok ke dalam. Ukurannya tak terlalu besar. Fungsinya sebagai tempat imam memimpin shalat.

Baca Juga:  Karomah Kyai Ali Brangbang Melatih Kera Hingga Fasih Mengaji

Sementara itu, pada bagian langit-langitnya, juga tidak banyak ornamen hias yang ditampilkan. Pada bagian ini hanya terlihat dominasi kayu yang dijadikan penopang atap masjid. Walau terkesan sederhana, pesona interior masjid ini tidaklah menjadi hilang dan Masjid Agung Sumenep ini menjadi kebanggaan bagi seluruh penduduk di Pulau garam Madura. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here