Kilas Bujuk Melas di Jember dan Energi Power Kinasih Jodoh

0
1348

Makam Bujuk Melas yang berada di Dusun Manggung, Desa Sumberjati, Kecamatan Silo, Kabupaten Jember ini, adalah makam tanpa batu nisan yang diperkirakan hingga saat ini telah berusia diatas 200 tahun.
Konon, makam tersebut adalah makam seorang ulama’ wanita asal Pulau garam Madura.

Kata Bujuk sendiri dalam bahasa madura umumnya berarti orang yang sangat tua atau dituakan. Sedangkan Melas, berarti kasihan atau mengenaskan. Dinamakan demikian lantaran makam tua tersebut berada sendirian di tengah-tengah hutan yang dikelilingi ribuan pohon pinus.

Identitas makam ini mulai terkuak setelah 19 orang yang mengaku keturunan Bujuk Melas melakukan istikharah, yakni sebuah ritual memohon petunjuk kepada Tuhan, guna mencari informasi terkait silsilah makam tersebut.

Sebelumnya (saat proses istikharah) 19 orang keturunan Bujuk Melas itu masih belum yakin bahwa makam tersebut dihuni pria atau wanita. Akan tetapi, tidak berselang lama ada seorang anak kecil di dekat makam yang tiba-tiba ketakutan dan mengadu pada bapaknya (peziarah). Dalam pengaduannya, dari dalam makam tersebut tampak perempuan berambut panjang. Hingga hal inilah keyakinan mulai muncul bahwa, yang terkubur di situ adalah sosok wanita.

Barulah pada awal Bulan September 2016 lalu, ke 19 Pejuang Silsilah Bujuk Melas yang dipimpin KH Abdullah Kholiq melakukan pendalam untuk menggali informasi sesuai petunjuk dari Barmawi bin Ma’lum yang merupakan penjaga makam Sayyid Abdul Akhir hingga belakangan diketahui sebagai suami dari Bujuk Melas yang makamnya berada di Arongan Ganding Sumenep.

Hingga usaha dari 19 orang ini membuahkan hasil pada April 2017. Berdasarkan penelusuran dan pengumpulan informasi dari masyarakat, terungkaplah sejatinya makam Bujuk Melas adalah makam dari Syarifah Fathimah yang diperkirakan wafat sekitar 210-270 tahun lampau. Perkiraan ini merujuk tahun wafat suaminya di Sumenep.

Benarkah Bujuk Melas putri dari Bujuk Korseh Parebbaan Ganding Sumenep ?

Riwayat Bujuk Melas sesuai yang tercantum di samping makam bernama Fathimah binti Abdullah bin Yusuf Al Anggawi, disebutkan sampai bersambung pada Sayyidina Hasan bin Fathimah binti Muhammad SAW. Versi lain menyebutkan bahwa Bujuk Melas adalah putri dari Bujuk Korseh Parebbaan Ganding Sumenep.

Sedangkan suami Syarifah Fathimah adalah Sayyid Abdul Akhir bin Dzu Shidqi bin Abdul Karim bin Syits bin Zainal Abidin, bin Khotib bin Qosim (Sunan Drajat) bin Ahmad Rahmatullah (Sunan Ampel) sampai bersambung pada Sayyidina Hussain bin Fathimah binti Muhammad SAW.

Kisah nestapa Bujuk Melas

Dalam sejarahnya, Bujuk Melas atau Syarifah Fathimah yang juga dikenal dengan sebutan Nyai Bajem ini, diklaim sebagai keturunan Nabi Muhammad SAW.
Diceritakan sebagai wanita yang solehah dan berparas cantik, hingga membuat seorang pangeran dari Keraton Sumenep terpikat dan ingin merebut dia dari tangan suaminya.

<<< baca juga eyang kemiri jember >>>

Takut mengganggu akan usaha suaminya yang kala itu berjuang membumikan Islam di pulau garam akhirnya, Syarifahpun memohon restu dari suaminya, akan meninggalkan kampung halamannya menuju ke Pulau Jawa. Hal ini bertujuan untuk menghindari cinta buta dari seorang pangeran kraton Sumenep. Pintas cerita dengan perasaan iba, berangkatlah Syarifah Fathimah ditemani tujuh orang santrinya ke Jawa. Pada masa pelarian itulah diriwayatkan, Nyai Bajem bermukim di tengah hutan yang jauh dari perkampungan dan hingga pada akhir hayatnya iapun meninggal dan dimakamkan ditempat tersebut. Diyakini, tempat tersebut saat ini berada di kawasan Kecamatan Silo.

Selain itu, keberadaan makam ini juga tersiar ada cerita mistis, seperti yang diceritakan Lehan pemuda setempat yang kediamannya berada dekat di areal makam.

<<<baca juga wirid aneh mbah lanceng jember >>>

Diceritakan, “Pernah ada beberapa kali sekelompok pemuda berburu rusa disini, saat ditembak dan kelihatan jelas sudah tergeletak mati namun, pas di dekati rusa mati tersebut malah tidak ada. Kejadian serupa ini bukan hanya 1 kali akan tetapi terjadi beberapa kali,” ujarnya.

Selain itu pula, kerap terlihat banyak peziarah yang meyakini kekeramatan dari makam Bujuk Melas. Mereka sering membawa sebotol air yang didekatkan di samping makam sembari berdoa, mereka meyakini air tersebut dapat membawa berkah berbagai hajat.

Tidak hanya itu, pernah ada beberapa peziarah komunitas supranatural dari Jogja yang mengatakan bahwa energi Cosmos di sekitar makam bujuk Melas, memiliki kekuatan “Nur Kinasih”. Dimana kekuatan tersebut biasanya dimanfaatkan sebagai sarana barokah mencapai daya pengasihan yang tinggi. Hal ini beberapa kali terbukti atas banyaknya peziarah yang memohon pada sang pencipta untuk segera dipertemukan pada jodohnya. Walhasil tidak beberapa lama dari bermunajat di makam bujuk Melas peziarah tersebut dipertemukan dengan jodohnya.

Masih kata Solehan, “Bahkan pernah ada juga seorang pejabat penting negara dari jakarta yang ngalap berkah, agar dirinya dapat beristri dua,”. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here