Budaya Carok Ternyata, Hasil Adu Domba Penjajah Terhadap Rakyat Madura

0
2328

Mengungkap sejarah juang pria Madura memang tidak terlepas dari kesan keberanian dalam menumpahkan darah ke bumi. Hal yang demikian, dilakukan sebagian orang dalam mempertahankan kehormatan. Kali ini sejarah-budaya.com akan mengupas sedikit tentang sejarah dan asal usul CAROK, yang berarti berkelahi secara jantan satu lawan satu.

Kata Carok berasal dari bahasa Kawi yang artinya perkelahian. Dimana perkelahian umumnya melibatkan dua orang atau dua keluarga besar, umumnya carok banyak di temui di daerah Bangkalan, Sampang dan Pamekasan. Hal ini biasanya dipicu karena persoalan Kedudukan, perselingkuhan, rebutan harta, dendam turun-temurun dan lain sebagainya.

Secara anatomi Carok itu Ecacca ben Erok-rok atau dimutilasi dan dihancurkan. Menurut Saniman Barmawi, seorang Budayawan asal Madura yang juga berjuluk Hery Macan dari Sumenep menyatakan, Carok sudah merupakan suatu pembauran budaya yang tidak sepenuhnya dari Madura. Carok ini merupakan putusan akhir bila masalah tidak bisa diselesaikan yang di dalamnya terkandung makna pertaruhan harga diri.

<<< baca juga makam sayyid yusuf tlango >>>

Selain itu, carok mulai muncul sejak zaman penjajahan Belanda pada sekitar abad ke-18 masehi saat kemunculan legenda Pak Sakera. Dimana Pak Sakera dikenal seorang mandor tebu dari Pasuruan yang tak pernah meninggalkan celurit jika dia pergi ke kebun. Dimana sejak kala itu Celurit dijadikan simbol perlawanan rakyat kepada penjajah.

Sebelum era tersebut, tepatnya abad ke-12 saat Madura dipimpin Cakraningrat dan abad ke-14 saat Madura dipimpin Joko Tole, belum ada istilah Carok. Masa Panembahan Somala, putra Bindoro Saud, Putra Sunan Kudus sanad ke-17, juga belum ada istilah Carok. Saat itu, mereka hanya mengenal silat menggunakan senjata tombak, pedang, keris dan panah sebagaimana umumnya prajurit-prajurit kerajaan.

Baca Juga:  Masjid Tertua Dan Bersejarah

Hingga permulaan berdirinya Majapahit yang didukung oleh kerajaan Sumenep, maupun sebelumnya pada masa Tumapel hingga Singasari yang jatuh oleh kerajaan Gelang-Gelang Kediri yang dibantu pasukan Madura, senjata Clurit masih belum ada.

Bahkan pada masa penyerbuan ke Batavia oleh Fatahillah yang dibantu pasukan Madura, juga mereka masih bersenjatakan Keris atau yang lainnya selain Clurit. Bahkan pada peristiwa Branjang Kawat dan Jurang Penatas, sama sekali tidak ditemukan adanya senjata clurit.

Pada saat itu, hanya ada senjata Calok yang disebutkan dalam babat Songenep. Calok sendiri merupakan senjata Kek Lesap (1749) yang memberontak dan hampir menguasai semua dataran Madura. Senjata Calok juga pernah dipakai balatentara Ayothaya Siam dalam perang melawan kerajaan lain. Pada masa itu yang popular berbentuk Calok Selaben dan Lancor. Konon senjata Calok dibawa prajurit Madura ke Siam sebagai bagian dari bala bantuan kerajaan Madura dalam pengamanan di tanah Siam.

<<<baca juga karomah syekhona Kholil Bangkalan >>>

Baru setelah Pak Sakera berhasil dihukum gantung di Pasuruan, Jawa Timur oleh kompeni, rakyat mulai melakukan perlawanan menggunakan senjata celurit.

Walau demikian, Belanda mengantisipasi dengan strategi politik mengadu-domba pejuang madura. Golongan Blater (jagoan) yang menjadi mata-mata Belanda diadu domba dengan rakyat dan seringkali Blater inilah yang melakukan carok waktu itu. Clurit diberikan Belanda kepada Blter dengan tujuan merusak citra Pak Sakera sebagai pemilik senjata.

Kalau Clurit dianggap simbol perlawanan rakyat jelata oleh Sakera, Belanda mencitrakan Clurit sebagai senjata para jagoan dan penjahat. Sebagian masyarakat Madura terasuki hal itu. Bahwa jika ada persoalan diselesaikan dengan jalan carok demi menjunjung harga diri.

Mereka mengira budaya tersebut hasil ciptaan leluhurnya dan tidak sadar itu hasil rekayasa penjajah Belanda. Tapi tidak semua masyarakat Madura seperti itu. Mereka umumnya dari golongan priyayi, santri dan keturunan orang-orang yang memiliki watak dan budipekerti yang halus.

Baca Juga:  Wujud Pengabdian Tulus Mpu Prapanca Hingga Jati Dirinya Kabur

Tragedi Bere’ Temor

Tahun 1970-an terjadi peristiwa tragis yang oleh orang Madura disebut Tragedi Bere’ Temor (Barat Timur). Yakni gap antara blok Madura Barat yang diwakili Bangkalan dan Madura Timur diwakili Sampang. Hampir setiap hari konon terdapat pembunuhan baik di pasar, sawah dan kampung. Saat itu istilah Carok dan Clurit makin terkenal.

Sebagaimana diketahui pada masa Bere’ Temor tersebut, beberapa desa seperti Rabesen barat dan Rabesen Timur, Gelis, Baypajung, Sampang, Jeddih cukup mewarnai. Tragedi tersebut terjadi hingga keluar dari pulau Madura, yakni Surabaya, Situbondo, Bondowoso Jember dan beberapa daerah lainnya.

<<<baca juga keris karya joko tole >>>

Sementara menurut RB. Karim seorang tokoh Madura asal Luk guluk, Carok jaman dulu adalah perkelahian duel hidup mati antara kedua belah pihak yang bertikai. Carok pada masa itu selalu identik dengan duel maut yang berujung dendam pada keluarga berikutnya.

Selain pada masa itu setiap orang yang hendak carok akan melakukan satu ritual khusus dengan doa selamatan ala Islam kemudian tidak tidur beberapa hari dan mengasah Clurit mereka serta mengasapinya dengan dupa. Keesokan harinya, mereka menghiasi mukanya dengan arang hitam. Setiap orang yang bertemu meski tidak kenal akan langsung saling bunuh asal mereka dari dua kubu tersebut. Tidak perduli mereka bertikai atau tidak, ini semua dilakukan demi harga diri desanya atau yang lainnya.

Perkembangan disain clurit sendiri baru mulai betul-betul khusus untuk membunuh, diperkirakan masa revolosi 1945. Resimen 35 Joko Tole memberontak pada Belanda di pulau Madura. Belanda yang dibantu pasukan Cakra (pasukan pribumi madura) berhadapan dengan pasukan siluman tersebut. Meski tidak semua pasukan resimen 35 Joko Tole ini memiliki senjata Clurit namun, kerap terjadi pertarungan antara pasukan Cakra dengan resimen 35 Joko Tole ini kedua belah pihak sudah ada yang menggunakan senjata Clurit, meski hanya sebatas senjata ala kadarnya.

Baca Juga:  Khasiat Bunga Arah dan Syarat Utama Menuju Singgasana Raja

Desain clurit yang sekarang ini kita lihat merupakan disain dari peristiwa Bere’ Temor (barat-timur) yang menghebohkan ditahun 1968 hingga 80-an. Pada masa ini disain clurit mulai dikenal dengan berbagai bentuk. Mulai dari Bulu Ajem, Takabuan, Selaben, Lancor dan model yang lainnya. (dats )

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here