Beranda Artikel Sejatinya Ruang Hampa, Pencipta Kesengsaraan Hidup

Sejatinya Ruang Hampa, Pencipta Kesengsaraan Hidup

0
970

Setiap insan yang bernafas, pastinya tidak akan satupun yang luput dari berbagai macam masalah dan penderitaan. Baik itu, disebut sebagai “Ujian” maupun sebuah “Peringatan” yang datangnya dari sang pencipta.

Dimana jika kita sadari, sebuah dinamika ujian maupun peringatan, akan selamanya mengisi ruang hampa dalam setiap detak nafas. Ruang hampa inilah yang sebenarnya menjadi titik sumber bencana baik bencana bagi diri sendiri maupun alam semesta. Tidak hanya itu, ruang hampa yang tercipta secara terus menerus dapat menjadi kewas-wasan, bagai hidup ini terancam bom waktu yang setiap saat seolah dapat meletus hingga mengakhiri hidup.

Mungkin segenap pembaca bertanya, Ruang hampa yang bagaimana dimaksud ?…

Ruang hampa yang ditekankan disini, bukan ruang fikiran maupun hati yang kosong. Melainkan, sebuah ruang yang dimana kala hati dan fikiran terisi dengan berbagai hal selain mengingat sang MAHA dan juga dirinya sendiri.

Terkadang, kita selalu disibukkan dengan urusan dunia seperti, ekonomi, kehormatan, pencitraan, kesehatan dan lain sebagainya. Dimana, dalam memikirkan hal tersebut, agar meraih sebuah rencana gemilang, mayoritas kita lebih utama mencari cara atau hal yang pintas, sederhana dan bahkan jika mungkin dengan tanpa perjuangan juga pengorbanan.

Sehingga dengan demikian, urusan-urusan duniawi tersebut perlahan menjadi kebiasaan mutlak yang menggeser keberadaan diri dan sang pencipta dari dalam hati dan fikiran, dengan kata lain ruang hampa disini merupakan sebuah rencana.

Perlu kita renungkan bersama bahwa, selain hidup ini hanya membutuhkan kedekatan pada diri dan sang penciptanya, hidup yang sementara ini, juga memerlukan perjuangan dan pengorbanan yang benar-benar serius. Tentunya sebuah usaha tersebut dengan tanpa dilandasi sebuah ruang hampa atau rencana.

Bak pepatah mengatakan, “Jika kau cari Kesenangan, niscaya bertemu kesusahan. Namun, jika kau gapai dahulu susahmu dengan jalan ibadah, niscaya kau kan bertemu dengan Senangmu,”. Atau dengan persamaan pepatah lain “Berakit-rakit dahulu, berenang ketepian. Bersakit-sakit dahulu, bersenang kemudian”.

Dalam pepatah tersebut menjelaskan dimana, jika dalam hidup ini kita utamakan kesenangan / keuntungan terlebih dahulu, sebelum jirih berjuang niscaya pada akhirnya sengsara yang akan menimpa, begitu pula sebaliknya.

Jika demikian, “harus dengan bagaimana jika hidup ini tanpa ruang hampa atau rencana.?”

Tentulah kita ketahui didalam agama Islam utamanya, kita hanya disarankan untuk berniat bukan berencana. Seperti telah tertuang dalam firmannya, “Qul innamal a’malu binniyah” yang artinya: Sesungguhnya setiap amalan harus disertai dengan niat.

Jadikanlah setiap langkah yang bernafas sebagai tujuan ibadah dan landasilah ibadah tersebut hanya dengan niat yang ikhlas. Dengan demikian niscaya hidup tidak akan pernah sia-sia dan tidak akan diliputi beban cobaan maupun peringatan yang berat.

Semoga artikel yang penuh dengan ketidak sempurnaan ini dapat menjadi manfaat bagi segenap pembaca. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan