Beranda Pariwisata Pendakian Jalur Cemoro Kandang Gunung Lawu “Hidup Bagai Tiada Arti”

Pendakian Jalur Cemoro Kandang Gunung Lawu “Hidup Bagai Tiada Arti”

0
1439

Gunung Lawu memiliki ketinggian 3256 mdpl berada di wilayah perbatasan antara Jawa Timur (Magetan) dan Jawa Tengah (Karanganyar). Sebagian masyarakat Jawa meyakini Gunung Lawu merupakan tempat yang paling dikramatkan. Hal ini mengacu dari banyaknya petilasan dan makam makam peninggalan kerajaan Majapahit, utamanya petilasan kamoksan Raja Brawijaya V. Bahkan sampai saat ini, Gunung Lawu merupakan tempat yang tidak terpisahkan secara spiritual bagi penghuni Keratonan Solo dan Jogja.

Di sisi lain gunung ini terkenal akan suhu dinginnya yang dirasa lebih dingin diantara gunung gunung lain di jawa. Suhunya yang terkadang menjadi sangat ekstrime tersebut, banyak ditumbuhi bunga Edelweiss berwarna ungu jika kita beruntung menemukannya.

Nah, kali ini sejarah-budaya.com akan sedikit membahas menantangnya perjalanan menelusuri jalur Cemoro Kandang.

Sebelumnya, perlu kita ketahui untuk menuju kelokasi pendakian kita ambil jalan alternatif yang paling mudah dilalui yaitu, dari Surabaya menuju Madiun lanjut ke Maospati hingga Magetan, barulah selanjutnya menuju ke jalur Cemoro Kandang Gunung Lawu.

Setelah sampai di pos gerbang jalur Cemoro Kandang, tidak perlu perijinan khusus jika kita ingin mendaki Gunung Lawu. Para pendaki hanya perlu membayar biaya retribusi tiket masuk kawasan sebesar Rp. 5000. Untuk para pendaki ada beberapa pantangan dalam mendaki, informasi ini sudah tertera jelas di samping pintu masuk jalur pendakian. Diharapkan semua pendaki memperhatikan ini agar tidak terjadi hal hal yang tidak diinginkan.

Gerbang Pos Cemoro Kadang

Setelah membayar tiket masuk di pos awal pendakian, kita akan dihadapkan dengan jalur setapak tanah yang cukup landai ditengah lingkupan hutan yang cukup lebat. Pada awal pendakian ini suhu udara biasanya cukup dingin walaupun keadaan di siang hari. Berjalan kurang lebih 60 menit kita akan mencapai pos 1 yang bernama Taman Sari Bawah. Disini terdapat sebuah bangunan tertutup, jika keadaan sedang ramai akan ada penjual makanan ditempat yang dapat ditemui.

Jalur Cemoro Kandang

Beranjak dari Taman Sari Bawah, perjalanan akan mulai menanjak dengan tetap di dalam kawasan hutan lebat, bahkan sinar cahaya pun enggan masuk menerobos lebat lingkupan dedaunan pohon. Sekitar 60 hingga 90 menit kita akan sampai di pos 2 yang dinamakan Taman Sari Atas. Disini juga terdapat bangunan tertutup yang dapat digunakan pendaki untuk bermalam, sebelum melanjutkan pendakian menuju puncak.

Selepas Dari Tamansari Bawah

Setelah cukup beristirahat, kita berjalan kembali dari pos 2 kita akan tetap disambut jalan tanah dengan kontur yang menanjak. Sudah terbayang kalau kita melintas di musim penghujan pasti akan sangat licin. Kurang lebih 90 menit kita akan melewati pos bayangan. Pos ini sudah di dalam lingkupan hutan cemara.

Berjalan kembali para pendaki akan disambut jalur sempit, pada awalnya berbatu kemudian berubah kembali menjadi jalanan tanah dengan sisi kiri berupa jurang. Jurang yang dinamakan jurang pangarip-arip, kita harus sangat berhati-hati pada perjalanan saat kita melintas di jalur tipis dengan pembatas kawat di samping kiri. 120 menit berjalan dari pos 3 kita akan sampai di pos 3 Penggek.

Jalur Lepas Pos 3

Berjalan kembali sekitar 90 menit kita akan melintas di daerah ondo rante, disini berupa jalanan batu padas yang sangat terjal, tetapi ini terbantu dengan jalanan yang berbelok belok bagai labirin obat nyamuk yang gunanya mengurangi kecuraman. Namun jika perjalanan ingin lebih cepat, kita bisa potong kompas dengan sedikit melakukan panjatan di dinding batu. Tentu dengan demikian kita harus lebih berhati-hati dan sedikit menyiapkan tambahan tenaga ekstra.

Melepas Lelah Usai Melintas Ondo Rante

Selepas daerah ondo rante kita akan sampai di Pos 4 Cokro Suryo. Sebuah tanah luas yang cocok untuk mendirikan tenda dengan pemandangan lepas ke arah barat, Gunung Merapi dan Merbabu tampak gagah menyambut kita, sungguh indah. Di Pos 4 ini juga terdapat memoriam kenangan perjuangan sedih dari para pendaki yang pernah meninggal di daerah Cokro Suryo.

Meneruskan perjalanan ke puncak, jalanan akan lebih landai dengan jalur berbatu. Kiri kanan tampak edelweiss menemani setapak kaki kami. 60 menit berjalan kita akan bertemu pertigaan, jika lurus kita akan sampai di Hargo Dalem (petilasan kamoksan Brawijaya V) dan pasar setan, sedangkan berbelok ke kanan akan mengantarkan kita ke Puncak tertinggi Lawu “Hargo Dumilah”.

<<< baca juga perjalanan moksa brawijaya V >>>

Disarankan, sebelum melanjutkan pendakian ke Puncak Lawu, hendaknyalah kita beristirahat barang sebentar di Hargo Dalem. Hal ini dilakukan agar stamina kita kembali pulih untuk melanjutkan perjalanan. Di Hargo Dalem ini, selain petilasan Kamoksan Raja Majapahit, juga terdapat beberapa warung Makanan. Salah satu pemilik warung terkenal ditempat ini yaitu Mbok. Yem.

Selanjutnya, perjalanan ke puncak merupakan jalur yang sangat curam dengan batuan kerikil berserakan. Tentu hal ini akan menguras fisik dan tenaga jika tidak beristirahat terlebih dahulu.

Melepas Lelah Sebelum Menuju Hargo Dumilah

Setelah bersimbah peluh disekujur tubuh, akhirnya kita disambut dengan berdiri gagah tugu yang menunjukkan kita telah tiba di puncak Gunung Lawu / Hargo Dumilah. Selain pemandangan lepas memukau ke segala arah akan kita dapatkan di puncak ini, sebagian kita akan dapat merasakan betapa besarnya anugrah sang pencipta.

Bahkan, banyak diceritakan pengalaman dari segenap pendaki, yang merasakan betapa hidup ini bergelimang dosa dan menjadi sia-sia tiada arti setelah merasakan kecilnya diri dibanding alam semesta. Hal ini banyak dijumpai dari segenap pendaki yang menangis haru dipuncak tersebut. Setelah ditanyakan dari sebagian mereka, bukan karena haru telah mencapai puncak, melainkan haru karena telah dapat menyadari kesalahan dan menemukan pencerahan. Sehingga setelah itu, kebanyakan dari mereka merasa terlahir kembali dan memiliki suplai tambahan energi baru untuk lebih semangat dan memiliki arti hidup guna kembali turun gunung. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

Tinggalkan Balasan