Budaya Sedekah Bumi, Halal Haram Hanyalah Sudut Pandang

0
1132

Berjuta tahun yang lalu hingga saat ini, kehidupan seluruh semesta dan isinya, tidak akan pernah terlepas dari latar belakang sejarah maupun budaya. Oleh karenanya, menjaga dan melestarikan kenangan lampau tersebut merupakan suatu kewajiban bagi generasi hidup di masa kini. Mengapa,,,? Salah satu alasan padat dan simpelnya adalah agar kita yang hidup di era saat ini, tidak mudah melupakan nilai-nilai luhur tinggalan nenek moyang. Selain itu sisi positifnya, kita akan dapat belajar dari setiap kesalan dan kebenaran untuk menjadikan generasi yang lebih arif lagi.

Terkait dengan adanya beragam aplikasi tindakan atau cara mengenang tersebut, tentulah dapat dengan mencontoh dari masa lalu maupun mencipta juga mengembangkan sendiri kreasi wujud kenangan tersebut.

Hal ini bisa saja menjadi keterikatan dengan sebuah ajaran agama ataupun terikat dengan suatu nilai adat yang luhur. Dimana, keduanya bagi sebagian orang memang tampak tidak singkron jika dipadukan terhadap keyakinan tertentu.

Namun diera globalisasi saat ini, kita kerap mendengar bahkan menemukan satu sisi golongan yang berusaha menghapus nilai-nilai luhur kenangan tersebut. Bahkan tidak tanggung-tanggung dari sebagian mereka melakukan tindakan anarkis juga mengeluarkan statemen Halal, Haram bagi pelaku aplikasi pengenangan tersebut.

Menurut keterangan dari beberapa budayawan yang berhasil dirangkum sejarah-budaya.com mengatakan:

Suatu tindakan kebudayaan itu, bisa saja berkaitan dengan ajaran sebuah agama. Namun bahkan bisa saja bertolak belakang. Namun bagi saya berkaitan maupun bertolak belakang bukan acuan untuk dapat meniyadakan tradisi kebudayaan. Sebab, aturan agama dan tradisi kebudayaan sama – sama memiliki jalan ruh yang berbeda namun pada dasarnya bertujuan sama,” (Suwarjo -budayawan Kelaten).

Sedekah laut bisa saja dipandang halal maupun haram tergantung dari mana kita menilai. Jika dipandang dari sisi sodakoh maka bukan hanya manusia yang layak diberikan sodakoh, hewanpun juga layak. Sebab segala sesuatu yang dilarung ke laut pastinya sebagian besar akan dimakan mahluk laut. Walau demikian, saya kerap menjumpai tradisi larung saji di Indonesia utamanya, hanya melarung sebagian kecil saji yang sudah tidak layak dikonsumsi manusia. Sedang sebagian besar yang layak, tetap dikonsumsi oleh pelaku larung tersebut. (Arif Gunawan, Pakar Agama Semarang)

Sejarah maupun budaya yang sudah mengakar menjadi tradisi ditengah masyarakat, bisa saja merupakan nafas dari sebuah ajaran agama. Dimana dengan adanya ragam nafas tersebut, justru akan dapat lebih menguatkan sekaligus mengembangkan ajaran yang dianut. Tentu hal ini didasari oleh sebuah keyakinan, baik keyakinan yang bersumber dari mencontoh maupun mencipta sendiri.

Bagi pribadi saya, keyakinan adalah fitrah tertinggi dari sebuah ajaran yang dianut. Dimana wujud aplikasi dari keyakinan menuju Ketuhanan tersebut biasanya sangat beragam, luas dan dalam. Ada yang meyakini dengan budaya larung saji, semedi, tafaqqur, sholat dan lain sebagainya. Oleh sebab itulah sebuah Keyakinan, bagi saya tidak pernah dan bisa tersekat oleh waktu, ruang maupun sebuah ajaran agama,” (Soleguddin, Budayawan Agamis Malang)

Dari tiga keterangan diatas cukuplah kiranya untuk kita menyimpulkan bahwa sejarah, tradisi maupun budaya yang telah mengakar di persada Nusantara ini perlulah untuk kita pertahankan sekaligus melestarikannya. Selama hal tersebut tidak bertentangan dengan kearifan lokal dan banyak membawa dampak kebaikan, agama tidak akan pernah menjadi batu sandungan dalam kelestariannya. Adapun jika terdapat benturan, bisa saja hal tersebut didasari dengan adanya kepentingan pribadi belaka.

Semoga kiranya artikel ini dapat menjadi manfaat dan tidak mengacu pada kesimpulan sepihak yang dapat menimbulkan perpecahan. Salam RAHAYU…. (dats)

Tinggalkan Balasan