Tajin Sapar Manifestasi Asal Muasal Manusia dan Kearifan Nusantara

0
1157

Tajin Sapar merupakan kuliner khas Indonesia yang kebanyakan dapat kita jumpai hanya di bulan Sapar saja. Nama tajin sapar sendiri memiliki arti Tajin atau bubur, sedang sapar berarti bulan sapar.

Bubur khas yang diolah menggunakan tepung beras tersebut, memiliki ciri khas warna dasar coklat muda atau merah dengan sedikit putih ditengah dan bertabur bubur padat berbentuk kelereng. Nama tajin sapar sendiri banyak digunakan oleh sebagian besar penduduk berkultur madura di Jawa Timur.

Biasanya tradisi pembuatan bubur ini, dilakukan dalam menyambut bulan suci sapar yang ditujukan untuk memupuk rasa berbagi dan meningkatkan tali silaturahmi antar tetangga.

Dalam kebiasaan masyarakat di Bondowoso, Situbondo, Jember Jawa Timur khususnya, tradisi berbagi ini dikatakan Ter-Ater (bahasa madura red-).

Setelah usai membuat bubur sapar biasanya masyarakat akan membagi-bagikannya pada sanak famili dan tetangga. Begitupun tetangga yang menerima juga akan melakukan hal yang sama dilain hari. Tradisi ini, tidak hanya sekedar membagikan bubur, sebagian dari masyarakat tersebut, justru lebih menekankan pada mengikat silaturahim layaknya di hari raya. Hanya saja jika di bulan sapar silaturahmi mereka menjadi khas karena di embeli dengan membawa buah tangan berupa bubur sapar.

Terkait dengan asal-usul pencipta tradisi tersebut memang tidak ada referensi yang akurat dalam kejelasannya. Walau demikian banyak sebagian masyarakat utamanya di Bondowoso telah mengadopsi cerita tajin sapar yang bermula dari ciptaan Raden Sahid atau Sunan Kalijogo.

Menurut mbah Sunarya (84) sebagai tokoh yang disepuhkan di Bondowoso, menceritakan sejarah dan makna tajin sapar yang memiliki filosofi arif didalamnya.

Warna merah yang mendasari bagian tajin sapar melambangkan warna darah seorang ibu, yang didalamnya terdapat gumpalan bubur berbentuk kelereng yang melambangkan bibit embrio calon generasi manusia. Sedang warna putih ditengahnya melambangkan darah putih atau mani dari ayah.

Baca Juga:  20 Sifat Allah, Wujud Berarti Nyata

Dengan kata lain, tajin sapar merupakan manifestasi atau gambaran asal muasal terciptanya manusia, yang wajib di ingat agar kita selalu mawas diri dan tidak sombong.

Melestarikan dan mengembangkan tajin sapar ini merupakan suatu tugas wajib bagi setiap generasi bangsa dikarenakan, selain memang bubur ini memiliki cita rasa yang istimewa, juga terdapat nilai-nilai kearifan yang tinggi didalamnya.

Sehingga, dengan selalu intens mentradisikan tajin sapar setiap tahun, secara otomatis kita akan dapat membangun generasi yang libih santun di masa mendatang. Hal ini dapat dirujuk dari adanya aktifitas silaturahmi yang dilakukan.

Semoga dari sedikit keterangan artikel diatas, kita dapat senan tiasa untuk tidak melupakan tradisi kultur budaya dan sejarah asli pertiwi Nusantara ini sehingga, kelak hal tersebut dapat menjadi suatu kebanggaan tersendiri bahwa, kearifan lokal kitalah yang sebenarnya dapat mendewasakan sebuah negara. Salam Rahayu (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here