Beranda legenda Khasiat Bunga Arah dan Syarat Utama Menuju Singgasana Raja

Khasiat Bunga Arah dan Syarat Utama Menuju Singgasana Raja

0
1520

Poho Lo atau Elo dalam bahasa (Jawa) atau lowa/Loa (Sunda), Arah (Madura) Ara (Indonesia), Cluster Fig Tree atau Goolar Fig Tree (Inggris) juga memiliki nama ilmiah Ficus racemosa dengan nama sinonimnya Ficus glomerata Roxb. Selain itu, pohon ini juga kerap disebut sebagai pohon Tien nya Jawa. Hal ini bukan tanpa alasan sebab, pohon lo juga merupakan pohon dengan tekstur persis seperti pohon tien.

Pohon ini banyak tumbuh menyebar di daerah Pakistan, India, Sri Lanka, Bangladesh, Nepal, China Selatan dan Barat Daya (Yunnan), Birma, Vietnam, Thailand, Malaysia, Indonesia hingga Australia Utara dan tentu banyak ditemukan di pulau jawa.

Adapun habitat tumbuhnya meliputi, tempat -tempat yang lembab seprti, tepian sungai, persawahan, pekarangan rumah yang khususnya berada di ketinggian tempat yang bervariasi antara 100 hingga 1.700 m di atas permukaan laut.

Buahnya yang memiliki rasa asam manis, seringkali menjadi makanan bagi Monyet Ekor Panjang (Macaca fascicularis). Walau demikian buahnya yang juga memiliki khasiat pengobatan ini, juga dapat dimakan oleh manusia. Adapun pemanfaatan daun dan buah Lo banyak dikonsumsi orang jaman dulu sebagai obat sakit diare. “Cukup rebus ±15 gram daun segar yang telah dicuci sebelumnya dengan 2 gelas air hingga airnya tinggal setengah gelas, lalu dinginkan dan disaring. Maka air saringan ini siap jadi obat dengan diminum dua kali sehari pagi dan sore”.

Akan tetapi kali ini, sejarah-budaya.com akan sedikit mengupas sisi lain mistis dari pohon lo ini dari kepercayaan masyarakat madura.

Bagi masyarakat madura, pohon lo ini, disebut sebagai pohon Arah. Dimana nama tersebut memiliki makna sebuah petunjuk arah mata angin yang pada jaman dahulu rantingnya sering diikatkan pada moncong perahu nelayan agar ketika melaut tidak mudah tersesat. Walau kepercayaan tersebut kerap digunakan nelayan jaman dahulu namun di era globalisasi saat ini hal tersebut masih kerap dijumpai terutama di sebagian besar pesisir madura.

Baca Juga:  Legenda Kyai PASOPATI Yang Lahir Dari Rahim Istri Raja

Tidak hanya itu, dari cerita masyarakat bernama Juk Dikin (90) warga yang disepuhkan sekitar daerah Manding Sumenep.

Menceritakan, pada jaman dahulu ada salah satu ulamak dari gujarat yang memberikan petunjuk kepada seorang pangeran yang ingin menjadi seorang raja. Dalam petunjuk ulamak tersebut, “Jika sang pangeran tadi bersungguh-sungguh ingin menjadi seorang pemimpin (raja), maka dia harus terlebih dahulu menemukan sekuntum bunga Arah yang sedang mekar”. Lama pangeran tadi mencari bunga tersebut namun tak kunjung ditemukannya. Barulah pada suatu malam pangeran tadi bermimpi bahwa, bunga tersebut akan mekar di malam ke 27 romadhon. Adapun bunga tersebut hanya mekar semalam dan tumbuh di puncak gunung Geger Bangkalan.

Kebetulan pada saat pangeran bermimpi, tepat pada malam ke 26 Romadon. Segeralah dia menuju puncak gunung sesuai petunjuk mimpinya tadi. Benar saja saat tengah malam tiba di puncak gunung geger, sang pangeran menjumpai hanya sekuntum bunga arah yang mekar ditengah ribuan buahnya.

Tanpa berpikir panjang dipetiklah bunga tersebut. Akan tetapi saat hendak memetik, bayangan ulamak tadi muncul dan berpesan, “Wahai anakku ketahuilah, selain harus arif dan bijaksana untuk dapat memimpin rakyat, kau harus memakan bunga Arah itu hingga habis. Hal ini agar dalam memimpin rakyat kau dapat menjadi penentram mereka dan setiap saat dapat memberikan arahan atau petunjuk bagi semua rakyat yang membutuhkan. Tentu dalam hal ini janganlah kau tebang pilih dalam memberi dan menegakkan keadilan,” (usai memberi nasehat dan petunjuk, suara dan bayangan ulamak tersebut langsung menghilang).

Usai pangeran memakan bunga arah tadi, dia langsung bergegas pulang untuk bertekad menjadi seorang pemimpin. Benar saja, tidak berselang waktu lama, sang pangeran berhasil menjadi seorang raja meskipun keberhasilannya tersebut, banyak perjuangan dan pengorbanan keras yang dia hadapi. Konon, pangeran tadi tidak lain adalah Ken Arok. (dats)

TIDAK ADA KOMENTAR

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here