Sejarah Banser Makin Membuming Dengan Berbagai Tempaan Pahit

0
829

Barisan Ansor Serbaguna Nahdlatul Ulama atau disingkat (Banser NU) yang merupakan organisasi atau badan otonom NU dari GP Ansor dan bertugas sebagai pengaman, menjalankan misi kemanusiaan di berbagai daerah seluruh Indonesia dalam panji panji naungan para ulamak.

Adapun berdirinya Banser NU, dilatari dari tahun 1924 dimana, pada tahun tersebut dibawah panji Nahdlatul Wathan KH. Abdul Wahab Hasbullah mendirikan organisasi kepemudaan yang bernama Syubbanul Wathan yang berarti Pemuda Tanah Air.

Berdirinya Syubbanul Wathan dengan dipimpin oleh Abdullah Ubaid melalui media khusus, telah memiliki 65 orang anggota.

Perkembangan selanjutnya Subbanul Wathan disambut baik oleh Barisan Ansor Serbaguna (Banser) sebagai elemen unsur pemuda sehingga ratusan pemuda mencatatkan diri sebagai anggota, karena aktifitas organisasi ini dipandang menyentuh pada kepentingan dan kebutuhan pemuda saat itu.

Karena Subbanul Wathan telah diterima baik oleh Barisan Ansor Serbaguna (Banser) maka, segenap pemuda membentuk organisasi kepanduan yang diberi nama Ahlul Wathan (Pandu Tanah Air) sebagai inspektur umum kwartir Imam Sukarlan Suryoseputro.

Kelanjutan perkembangan organisasi ini sampai apada masalah-masalah Barisan Ansor Serbaguna (Banser) yang menitikberatkan pada aspek kebangsaan dan pembelaan tanah air.

Setelah Nahdlatul Ulama (NU) berdiri (31 Januari 1926) kegiatan organisasi agak mengendor karena beberapa orang pengurusnya aktif dan disibukkan untuk mengurus organisasi NU.

Kemudian pada tanggal 24 April 1934 berdirilah organisasi ANO yang berarti Ansoru Nahdlatul Oelama yang dimaksudkan dapat mengambil berkah (Tabarrukan) atas semangat perjuangan para sahabat Nabi dalam memperjuangkan dan membela serta menegakkan agama Allah.

Diharapkan kelak, organisasi ini senantiasa mengacu pada nilai-nilai dasar sahabat ansor yang selalu bertindak dan bersikap sebagai pelopor dalam memberikan pertolongan untuk menyiarkan, menegakkan dan membentengi ajaran Islam. Inilah komitmen yang seharusnya senantiasa dipegang teguh oleh para anggota Gerkan Pemuda Ansor.

Melalui kongres I tahun 1936, Kongres II Tahun 1937 dan Kongres III tahun 1938 memutuskan ANO mengadakan Barisan Berseragam yang diberi nama Banoe (Barisan Nahdlatul Oelama) dengan rincian jenis riyadloh yang diterapkan antara lain,

  • Pendidikan baris berbaris
  • Latihan Lompat dan Lari
  • Latihan angkat mengangkat
  • Latihan ikat mengikat (Pionering)
  • Fluit Tanzim (belajar kode/isyarat suara)
  • Isyarat dengan bendera (morse)
  • Perkemahan Beljar menolong kecelakaan (PPPK)
  • Musabaqoh Fil Kholi (Pacuan Kuda)
  • Muromat (melempar lembing dan cakram)

Dari perkembangan-perkembangan yang terjadi inilah maka ANO kemudian menjadi Gerakan Pemuda Ansor dan Banoe menjadi Barisan Ansor Serbaguna atau disingkat dengan Banser.

Hingga saat ini perkembangan gerakan organisasi Ansor maupun Banser di bawah naungan ulamak NU masih terlihat pasang surut kembanya.

Godokan kerasnya politik yang kerap menghantam bertubi sejak lampau, justru makin memperbesar organisasi tersebut. Hal inilah yang mengacu kepada pandangan bahwa, dengan berbagai tempaan justru organisasi tersebut dapat makin membuming di persada nusatara. (dats)

LEAVE A REPLY

Please enter your comment!
Please enter your name here